keluwesan berkendara

diambil dari harian KOMPAS edisi yogyayogya adalah kota kecil. dari mana dan ke mana pun dalam kota itu terasa dekat.

tapi, dekat dan jauh itu satuannya sekarang ini bukanlah jarak metrik, namun lebih ke jarak waktu. dulu, satu tempat ke tempat lain bisa cepat dijangakau, sekarang memerlukan waktu lebih lama. padahal jaraknya tetap sama. memang sekarang ini semakin banyak orang dan kendaraan yang mengisi jalan yang cuma itu-itu saja.

karena itu maka kami gemar memakai kendaraan individual. entah itu becak, sepeda, atau sepeda motor. bisa luwes, mengelakkan diri dari kemacetan. bisa memutuskan sendiri kapan berhenti, mau pergi ke mana lagi setelah ini… ada kebebasan dalam diri kendaraan- kendaraan individual ini.

kendaraan massal seperti bus kota dan angkot hanyalah digunakan untuk menjangkau tujuan yang sudah pasti atau bila ogah kehujanan. cilakanya, semua orang berpikiran begitu. jadilah jalanan yogya dipenuhi sepeda motor, becak, sepeda…. ya, kendaraan-kendaraan individual itu. yang tentu saja semuanya [inginnya] memanfaatkan keluwesannya untuk berkelit atau mengelak dari kemacetan, bisa berhenti di mana pun dia inginkan…
gagasan untuk menawarkan transportasi massal seperti bus trans jogja, memang berhadapan dengan keluwesan yang sudah lama dinikmati para pengendara kendaraan individual ini.

3 Comments on keluwesan berkendara

  1. aji
    February 26, 2008 at 12:49 pm

    ho’oh mas, kadang-kadang keluwesan kuwi sulit dibedakan dengan sak penake dhewe.

    kalo diperempatan pas lampu merah bisa berhenti 5-10 meter dari traffic light hanya untuk mengejar eyupe pohon.

    akeh sing ngebut saiki, tur kalau ada janjian cenderung terlambat. gak tahu ya apa yang diker waktu ngebut itu.

    pripun mas anto?

  2. mahatmanto
    February 26, 2008 at 1:50 pm

    mengapa makin banyak wong ngebut itu menjawabnya bisa dari dua arah: sarananya atau orang yang melakukannya.
    karena sarana untuk melakukan perjalanan itu memang tambah lancar [jalan makin halus, kendaraan tambah disempurnakan mesinnya dan kenyamanannya untuk kecepatan tinggi] atau bisa jadi karena penggunanya yang memang kian berada dalam keadaan tergesa-gesa [makin banyak yang kerja dengan jadwal yang ketat].
    iklan sepeda motor yang mengunggulkan produknya sebagai ‘yang sulit dilawan’ mendorong orang untuk membeli aspek itu [kemampuannya berjalan cepat] atau kegesitannya.
    kok ora ana sing mengiklankan motornya sebagai kendaraan yang nyaman untuk berjalan-jalan santai, ramah lingkungan, tidak bising dsb. gitu ya?

  3. daniel
    February 26, 2008 at 5:29 pm

    efisiensi sudah menjadi syarat keberlanjutan suatu kota yang ‘hidup’ dari pengamatan saya kota dengan moda transportasi umum yang efektif membuat kota lebih akrab dengan warganya, lebih sehat karena polusi kurang. apalagi bila prasarana kota yang memfasilitasi pejalan kaki dan pengendara sepeda ‘onthel’ akan membuat frekuensi perjumpaan antar warga jadi makin sering, efek lanjutannya, kesehatan meningkat, kriminalitas menurun dan lain sebagainya. kalau pengendara sepeda motor sih lebih serig bikin ruwetnya, pake pedestrian jalan, nyerobot di U turn, lampu merah (sorry lho untuk yang make sepeda motor)jadi rasanya sudah waktunya kita musti hidup lebih ribet karena kurang leluasa, komentar mas anto? (kok serius amat yah hehehe … kebawa ribet ama kerjaan sehari-hari kali yah?)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *