hormat saya pada polisi

di tengah cibiran masyarakat pada polisi, juga di tengah kegemparan hendak disahkannya UU KEAMANAN NASIONAL yang melucuti peran polisi, saya justru menaruh hormat pada mereka.

tiga hari lalu saya terima SIM A dan C saya, setelah berkali-kali saya dinyatakan tidak lulus dalam ujian praktik mengendara motor dan mobil, di polres bantul. ada saja kesalahannya, yang bagi saya terlalu sepele:

  • berhenti tanpa menengok ke belakang kanan.
  • berhenti dengan bertumpu pada kaki kanan
  • berhenti tidak di belakang garis

hal yang sepele ini tanpa ampun lagi membikin saya dinyatakan tidak lulus. dengan perasaan jengkel, saya mulai menduga-duga bahwa ada “permainan” yang sedang dimainkan oleh para polisi ini untuk memeras saya, seperti tuduhan masyarakat dan media selama ini.

tapi tidak, sama sekali tidak.
pada akhirnya, saya dinyatakan lulus. tanpa membayar biaya tambahan sedikit pun.

yang mengesankan bagi saya adalah: kedua polisi di lapangan praktik itu tekun menjalankan tugasnya. tanpa pandang bulu mereka tegas menyatakan lulus atau tidak lulus. seperti mesin mereka menjelaskan kesalahan-kesalahan saya. mungkin ini juga sudah berulang kali dilakukan pada lain orang. saya jadi tambah banyak pengetahuan mengenai seluk-beluk berkendara, dari penjelasan mereka berkaitan dengan kesalahan-kesalahan saya.

pada hemat saya, hal bagus ini justru yang harus dilihat media-massa. bukan yang jelek-jeleknya.
kita perlu sekali polisi yang bertugas di antara warga negara [polis] bukan tentara yang sudah ada tugasnya sendiri mempertahankan kedaulatan negara.
para polisi lalu lintas ini punya prinsip dan aturan yang mereka hidupi. tapi aturan ini dilanggar justru oleh para mengguna kendaraan di jalan raya.

praktik berkendara di jalanan kita sungguh-sungguh biadab. seperti tidak kenal aturan saja semua!
mungkin mereka tidak pernah mengenal ujian praktik berkendara ketika mendapatkan SIM mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *