deni dan panji

 

di komunitas goodreads indonesia saya baca ada rekan yang mengulas mengenai teknik bercerita komik DENI MANUSIA IKAN yang endingnya selalu ditunda-tunda. teknik bercerita yang menunda-nunda ending itu agaknya untuk menjaga suspense dan mungkin juga “memelihara” fanatisme audiensnya.

teknik seprti itu juga sudah dikenal oleh pengisah kisah panji di jaman majapahit akhir. demikian pula kisah 1001 malam.
suasana sosial macem apa ya yang memungkinkan lahirnya teknik bercerita gini ini?
dalam kasus DENI, mungkin cuma agar bukunya bernafas panjang. jadi, cuma masalah agar royalti terus mengalir.
tapi, karena teknik ini juga dikenal di masa ketika kapitalisme cetak belum ada, lalu apa yang membikin teknik bercerita ini disukai?

siapa yang diuntungkan oleh menyandunya audiens dengan teknik pengisahan ini ya?
apakah penulis/pengisah diuntungkan karena lalu mendapatkan ‘pengikut fanatik’?
misalnya, kita merasa butuh banget dengan sms dari dai kondang, atau kita merasa butuh banget dengan ‘renungan harian’, kita butuh banget novel dari penulis X…

apa pun alasannya, teknik bercerita ini memang disukai banyak orang dari jaman ke jaman. dan sebagai sebuah karya kultural, cerita memang punya potensi untuk dibikin panjang bercabang-cabang karena justru dibutuhkan oleh pendengarnya. riwayat lahirnya kisah-kisah carangan dalam perwayangan juga memperlihatkan itu: suatu lahan subur penciptaan “lakon carangan” di sela-sela penantian perang besar mahabharata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *