homo mojokertensis

saya diminta membuka pameran empat seniman asal mojokerto.
di SANGKRING ART SPACE.
saya tidak mau menolak, karena ini permintaan mereka sendiri.
orang-orang yang saya kenal.
meski saya tidak punya kapasitas untuk membuka sebuah pameran seni.

membuka pameran,
adalah perkara yang harus saya temukan maknanya.
peristiwa yang semula tertutup, harus saya buka kepada publik.

tapi, membuka peristiwa macam ini, bagi saya adalah semacam memberi gambaran awal tentang isi yang akan disingkapkan penutupnya. artinya, saya harus menyarikan isi pameran dan kemudian menyampaikannya secara garis besar pada hadirin, agar hadirin tertarik menggenapinya dengan melihatnya sendiri.

pemahaman saya ini dilandasi oleh harapan saya pribadi, agar peristiwa tertutup dan terbuka itu berlangsung mulus, tidak mengejutkan. antara yang disuarakan oleh publikasi agar jumbuh dengan kenyataan yang mereka lihat sendiri.

homo mojokertensis,
cara menamakan sisa-sisa manusia purba yang berasal dari kawasan mojokerto ini konon mengikuti koenigswald, saya tidak tahu persisnya.

para seniman ini mengikuti cara penamaan itu,
untuk merujuk pada asal-usul bersama mereka.
karena mereka berempat datang dengan empat media berbeda,
pesan-pesan yang digarap juga berbeda.

tapi mereka semua adalah orang-orang masa kini.
yang menghadapi peninggalan arkeologis di tempat tinggalnya itu dengan rasa asing juga.
tidak nyambung.
majapahit, kerajaan besar yang pernah berkuasa di tempat itu, hanya mereka kenal dari buku-buku dan kisah yang sudah sepenuhnya di tangan penulis-penulis sejarah jaman kemudian. yang tentu juga punya kepentingannya sendiri.

keempatnya menghadapi posisinya itu seperti kita semua menghadapi sesuatu yang asing, aneh.
entah keanehan atau keasingan karena jarak tempat, pun juga waktu.
tidak heran kalau mereka menghadapi candi-candi itu dengan sikap yang baru.
mereka membuat karya sketsa atau patung mengenai situs trowulan, dengan sikap yang baru.
yang pasti tidak seperti yang dimaksudkan oleh pembuatnya di masa majapahit masih berjaya.

lalu, bila demikian halnya,
maka peristiwa pameran ini adalah pameran mengenai “bagaimana mereka menafsirkan masa lalu” atau “bagaimana mereka menjadikan benda-benda di sekitarnya sebagai generator karya mereka sendiri”.
dalam pengertian itu, maka menonton pameran ini seperti berada dalam posisi belajar.
bahwa sesuatu yang aneh, asing, itu hendaknya jangan dilepaskan, tapi ditangkap dan diutarakan secara artistik.

tentang apa yang mereka mau bagi,
apa yang mau mereka komunikasikan,
silakan datangi karya-karya mereka sendiri
di SANGKRING ART SPACE.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>