sejarah di dataran padat penduduk

krom menamai dataran di sekitar prambanan itu sebagai shiwa plateau, sedangkan yang dibarat sana: dieng plateau dan ada lagi dataran kedu. ketiganya dataran dikelilingi gunung-gunung.
daerah dataran dikelilingi gunung adalah daerah yang terlindung aman dan kaya air. ideal untuk kaum agraris yang ingin tenang menetap menunggui panen sambil mengembangkan dan merawat kebudayaan.

kota-kota lama di jawa umumnya berada di daerah ideal tadi. demikian yang dapat kita kenali dari tinggalan-tinggalan mereka yang terkonsentrasi di kawasan yang dilindungi gunung dan dialiri air sungai tadi.
salah satu kawasan ideal tadi adalah lereng barat, selatan dan timur gunung merapi. kawasan yang sekarang masuk ke dalam administrasi DIY dan jawa tengah. sebelah barat gunung sering juga disebut “dataran kedu” dengan tinggalan berupa percandian borobudur, pawon, mendut dan banyak lagi situs-situs yang belum bisa dikenali fungsi maupun namanya. sebelah selatan gunung, yang sering disebut daerah mataram atau shiwa plateau tadi, memiliki banyak sekali peninggalan berupa struktur atau bangunan dari masa sekitar abad 8 M. sedangkan di sebelah timur hingga ke lereng barat gunung lawu¬†pun, kawasan yang di tengahnya dilewati sungai legendaris¬†bangawan sala memiliki banyak tinggalan yang tidak kalah mutunya.

situs-situs tadi seringkali tidak bernama, juga sudah dalam keadaan tidak lengkap sehingga mengenali apa fungsinya dulu pun tidak mudah. tidak selalu candi, tapi oleh masyarakat setempat dinamai candi, nama generik yang mewakili semua tinggalan dari masa pra islam di jawa.
rusaknya atau sedikitnya sisa masa lalu itu bagi kita di masa kini, tidak lain karena kawasan ini memang padat penduduk dari dulu hingga sekarang ini. kawasan yang padat penduduk adalah kawasan yang dinamik, dinamika perubahannya tinggi, sering ada perubahan di sana.
banyak aktor dan banyak kepentingan baru yang datang silih berganti di kawasan padat penduduk tadi sehingga fungsi-fungsi lama sering diganti oleh fungsi baru, atau dibiarkan rusak karena sudah tidak ada yang berkepentingan lagi dengannya.

ada banyak mekanisme dalam menangani bangunan lama yang sudah tidak cocok dengan kepentingan baru: membongkarnya, mengalihfungsikannya, membiarkannya sehingga ditelan kembali oleh hutan tropik, melanjutkannya bila cocok dengan kepentingan baru. situs tinggalan itu bisa berupa bekas istana, fasilitas keagamaan, bekas permukiman, pemakaman atau yang lain.

kawasan yang dinamikanya tinggi berarti pula adalah kawasan yang punya catatan paling banyak, sebab catatan hanya dibuat bila ada perubahan. demikian pula sejarah baru bisa ditulis bila ada perubahan-perubahan. kawasan yang kita bicarakan ini menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar karena paling banyak menyediakan tinggalan-tinggalan masa lalu. dari berbagai jaman dalam berbagai fungsi bangunan.

dari sini kita bisa belajar, dinamika di kawasan padat penduduk, yang akan bermanfaat bagi kita masa sekarang yang diperkirakan akan tinggal di pulau yang mengalami proses urbanisasi besar-besaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>