berjejalan nonton teater garasi

kartjis "jejalan" teater garasiakhirnya saya dapat juga kartjis gratisan buat nonton teater garasi, sabtu malam kemaren.
pertunjukan ini dikasih judul je.ja.l.an entah apa maksudnya. tapi yang jelas ini tentang ruang yang bernama jalan. dan kebetulan pula saya datang sedikit terlambat sehingga harus berjejalan di antara pentonton lain dan celingukan mencari rekan lain yang mungkin pada nonton pula.

itulah jalan, ruang di mana orang bisa nonton dan ditonton. apalagi jalanan kita, di jawa ini, punya riwayat yang bermacam-macam sehingga darinya orang bisa juga melihat bagaimana relasi antar manusia di dalam masyarakat kita ini juga. rasanya, itulah juga keyakinan dari pertunjukan ini: bahwa jalan adalah panggung representatif untuk melihat diri sendiri sebagai masyarakat.

panggung, aduh…, kami masuk ke gedung itu dan langsung naik ke panggung. kami, penonton dan juga para pemain serta petugas lain yang entah siapa lagi berseliweran di sana sehingga sulit dibedakan siapa penonton dan siapa yang ditonton. kursi-kursi yang lazimnya digunakan untuk duduk penonton, malam itu digelapkan dan diberi tanda-tanda -sebagaimana di jalanan- untuk mencegah orang memasukinya. jadi, kami duduk, berdiri, berjalan di panggung tadi yang dibelah oleh ruang linier selebar sekitar 5 meter.

itu, ruang linier itu, adalah jalan yang dipindah ke gedung pertunjukan berkondisi ini. dan dapat dibayangkan sebagai jalan, ruang tempat segala kegiatan kota dapat dibaca representasinya. secara khusus, di ruang itu hendak diperlihatkan konflik dan kontestasi yang diyakini oleh penggagas teater-tari ini sebagai ada dan adalah representasi relasi sosial bangsa kita.
penonton ada di kedua bibir jalan itu, berkerumun di pinggiran ruang yang memanjang tanpa pangkal dan ujung. sebagaimana fenomen jalan yang sebenarnya, tepian jalan itu sering berubah luas dan jumlah pengerumunnya. lebar dan bentuknya sering menyempit dan melebar, sehingga ada petugas yang bersiaga mengusir penonton bila mereka berkerumun di kedua ujung ruang linear itu untuk menjamin ruang itu agar tetap sebagai jalan dengan lebar dan bentuk yang tetap. itu juga adalah cermin diri. di jalanan kita, pun ada disiplin dalam menggunakannya. jalan dijagai, atau diberi peraturan, oleh orang-orang yang menjadi aparat pemerintah.

jalanan kita penuh cerita, ada aktivitas yang beragam di sana. bukan sekadar ruang untuk melintas dan berpindah tempat belaka. karena itu jalanan kita bentuknya tidak tetap.
dan pertunjukan kemarin malam itu menghadirkan ulang rekaman yang sudah dilihat para aktornya ketika mereka berjalan-jalan dari yogya, indramayu hingga jakarta [demikian yang saya tahu mengenai proses pentas ini]. jadi, ini memang semacam presentasi artistik dari dokumentasi para aktor itu. pentas ini sungguh menjadi milik mereka.
dan saya kehabisan kata-kata untuk melaporkan tontonan yang berlangsung cepat [selesai dalam waktu sekitar sejam] dan padat.nyaris tanpa dialog verbal.

apakah pertunjukan ini hanya sekadar memindah realita jalanan ke panggung? tentu saja tidak. pentas ini sudah memindah realita jalanan yang berjejalan itu secara artistik. tidak dipindah begitu saja.
dengan memilih, menyeleksi, yang pernah dilihat di jalanan dan menampilkan kembali dalam komposisi baru dan simbolik, pertunjukan ini menjadi juga kritik.
kritik yang getir tentang perangai kita di ruang publik.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

2 Comments »

 
  • Benny P says:

    Cak Mahatmanto,
    Konon kota-kota di Jawa dulu tidak punya ‘ruang luar’ sebagai ‘public space’. Jadi ‘jalan’ lah yang banyak dipakai sebagai public space. Alon-alon (dulu), bukan ‘public space’, tapi lebih berfungsi sebagai ruang sakral ( baca – De Noorder alon-alon te Jogjakarta). Raja sangat tidak berkenan dengan ruang luar sebagai tempat berkumpul, karena takut dipergunakan sebagai tempat berkumpul dengan maksud yang tidak baik). Sebagai akibatnya katanya banyak sekali pertunjukkan rakyat yang berlangsung di jalanan, bukan dipanggung. Jadi ‘jalan’ itu sendiri adalah ‘ruang luar’ yang digunakan sebagai ‘public space’. Apa analisis ini bisa dibenarkan cak! Ha, ha, ha, ha, ha….

  • anto says:

    rasanya kok begitu ya.
    ruang luar memang ada, sebegai lawan dari ruang dalam yang bertudungkan atap.
    tapi ‘ruang publik’?
    ruang yang bisa diakses siapa saja? yang dirawat dan dimiliki ‘siapa saja’?
    nanti dulu.
    tentunya ruang publik pun sudah dikenal dalam tiap masyarakat arkhaik karena begitu ada permukiman, ada kehidupan sosial, tentunya juga ada ruang-ruang yang dimiliki bersama, dalam komunitasnya.
    apakah ruang publik ini berbentuk jalan atau alun-alun?

    tradisi mengolah ruang bermukin di nusantara memang menyediakan ruang bersama, atau ruang yang bersifat publik itu di tengah-tengah desa mereka. di sumba, alor, manggarai, hingga ke batak dan nias, ada ruang bersama dalam satu desa yang bisa digunakan bersama-sama. meski pun di situ tetap saja ada dominasi, ada strata dalam menggunakan ruang bersama tadi.
    tentunya juga belum ada kategori morfologis ala barat “street” dan “square”.

    dalam suatu komunitas desa, maka ruang publik tadi masih tetap terjaga eksistensinya, berhubung dengan komunikasi mereka masih langsung berjumpa muka dengan muka.

    ketika kita mengenal kota, maka cara berkomunikasi ini sudah berubah. lebih abstrak melalui media [tulisan], sehingga ruang publik yang berskala kota menjadi terlalu abstrak, menjadi simbolik. tidak real, tidak terhayati langsung. kecuali bagi keluarga kerajaan atau petinggi kota -yang memang menghuni di sekitarnya- saja.

    dugaan pont [halah...balik maneh nyang dheweke he..he..] alun-alun majapahit itu memang ruang dalam dari keluarga kerajaan, yang sekarang [menurut dia] diturunkan ke alun-alun selatan kraton-kraton jawa pedalaman di surakarta dan yogya.
    alun-alun utara itu sepenuhnya untuk representasi kekuasaan negara, tidak lagi ‘publik’ dalam arti yang dihayati langsung oleh warga kotanya. warga kota menjalankan kegiatan publiknya di ruang-ruang mereka sendiri, yang bisa jadi bentuknya linier, bisa pula square…
    terserah mau dinamai sebagai jalan, atau alun-alun.
    karena alun-alun itu hal yang abstrak bagi warga kota, maka di jalanlah mereka menjalankan kegiatan publiknya.

    he..he.. apa kabar cak?

 

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>