opera pangeran diponegoro

semalam bersama istri nonton pertunjukan karya mas [sar]don[o] di pagelaran kraton yogyakarta.
berbekal kartu undangan gratisan, kami berdua duduk di sisi timur dari layar, menghadap ke selatan, ke sitihinggil. ya, ada layar lebar dipasang di tepian atap pagelaran kraton menjuntai ke bawah. sangat lebar dan besar, menghalangi pandangan penonton ke sitihinggil. tapi sebagai gantinya kepada kita diberi sajian lukisan raden saleh pada layar super lebar tadi!
ini lukisan penangkapan pangeran diponegoro versi raden saleh, suatu versi heroik yang berbeda dari versi nicolaas pieneman. lukisan raden saleh itu dicetak pada layar tipis yang transparan dan yang terpasang di sana sepanjang pertunjukan selama hampir 2 jam itu. efek yang dihasilkan sungguh memikat: kita seperti melihat adegan-adegan kisah diponegoro tadi dengan “disaring” oleh lukisan raden saleh mengenai hal yang sama. kita melihat seluruh kisah diponegoro “melalui” perspektif heroik raden saleh.
heroisme raden saleh jadi penting di sini, sehingga itu sebabnya mengapa mas don sendiri perlu tampil pada awal pertunjukan untuk menjelaskan mengenai pilihannya ini. dia cerita mengenai perjumpaannya dengan lukisan yang berukuran kecil itu di paris dan kemudian terkesan oleh cara menggambar raden saleh yang ternyata menyimpan kejengkelan kepada belanda.
kejengkelan kepada belanda itu diungkapkan dengan menggambarkan mereka tidak proporsional: berkepala besar! ini -menurut mas don- cocok dengan olok-olok orang jawa sejaman diponegoro itu terhadap orang belanda, yakni orang yang angkuh, berlagak bisa menguasai, atau besar kepala.
penjelasan ini penting untuk disampaikan sehingga pagelaran -yang sudah beberapa kali dipentaskan keliling beberapa kota ini- cocok untuk ditampilkan di pagelaran kraton yogyakarta, lokasi yang punya posisi sulit ketika perang itu terjadi di masanya. ini pilihan lokasi pagelaran yang sangat bermakna sehingga skenario opera ini perlu dimodifikasi.

sri sultan hamengku buwana X -yang malam itu gelar kebangsawanannya disebut lengkap oleh MC- dalam sambutannya menyatakan bahwa “tidak ada kisah diponegoro versi kraton yogyakarta yang menafikan perjuangan pangeran diponegoro”. pernyataan ini penting, sepenting adegan pembelotan beberapa bangsawan ketika patih danurejo menjadi wali dari sultan hamengku buwana yang masih berusia 3 tahun. adegan ini dibawakan dengan tarian gagah ala yogya dan percakapan bagongan sebagaimana digunakan secara resmi di lingkungan kraton yogyakarta. mungkin adegan inilah yang khas dan membedakan dari pertunjukan di kota-kota lain, saya tidak tahu. hanya yang saya rasakan, adegan ini terasa ‘yogya banget’.

pertunjukan yang “disaring” oleh lukisan raden saleh ini kiranya cukup jelas misinya: melihat peristiwa masa lalu dengan interpretasi patriotik, yakni interpretasinya seniman yang bernama raden saleh bustaman. kita yang menonton diminta untuk mengikuti interpretasi itu tepat di hari peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, dan -sungguh- tidak mengecewakan. tenan!

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

3 Comments »

 
  • Benny P says:

    “kejengkelan kepada belanda itu diungkapkan dengan menggambarkan mereka tidak proporsional: berkepala besar! ini -menurut mas don- cocok dengan olok-olok orang jawa sejaman diponegoro itu terhadap orang belanda, yakni orang yang angkuh, berlagak bisa menguasai, atau besar kepala” (saya kutib dari tulisan anda).

    Saya baru tahu kali ini kalau lukisan R.Saleh (tentang penangkapan Diponegoro) orang Belandanya dilukiskan dengan kepala besar ha,ha,ha,ha….. Wah ini bisa jadi perang olok-olok waktu itu. Karena waktu itu (dalam banyak tulisan tentang perang Jawa), orang Belanda mengolok-olok bahwa orang Jawa ini ‘rajanya tipu muslihat’ tidak bisa dipercaya dsb.nya.

    Kejadian pada lukisan ini adalah pada tgl. 28 Maret 1830, jam 10 pagi. Tepat 2 hari setelah berakhirnya bulan puasa!Jadi bukan pada bulan puasa.
    Lukisan Nicolaas Pieneman dibuat atas pesanan de Kock th. 1830 (lukisan ini sebelumnya milik keluarga de Kock sebelum dihibahkan ke museum). Sedangkan Lukisannya R. Saleh dibuat 27 tahun kemudian (th. 1857). Lukisan R. Saleh itu dihadiahkan kepada raja Willem II, dengan alasan rasa terima kasihnya atas biaya beasiswa selama 23 th, R. Saleh berada di Eropa.

  • anto says:

    tentang waktu penangkapan, memang ada ambiguitas.
    di panggung opera tersebut digambarkan bahwa penangkapan terjadi setelah adegan orang pada bersalaman, seperti layaknya pada peristiwa lebaran.
    tapi, raden saleh, katanya wikipedia dan katanya orang-orang, meletakkan peristiwa itu pada waktu MASIH dalam bulan puasa.
    mungkin itu adalah usaha pencerita untuk memberi kesan bahwa penjajah sudah ‘mempedayakan’ atau ‘ngakali’ musuhnya, dan menekankan bahwa sebenarnya masih hebatlah pangeran tegalrejo itu.

  • Eky says:

    HB-X : “tidak ada kisah diponegoro versi kraton yogyakarta yang menafikan perjuangan pangeran diponegoro”

    —> he he he . . . . . . . . (ssst, masyarakat nggak tahu tentang ini lho)

    =ESP=

 

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>