jalan vs rumah


orang yang sering berada di jalanan sering kali dinilai sebagai orang yang tidak pomah, tidak kerasan di rumah. dan itu adalah nilai negatif. yang positif adalah bila orang kerasan di rumah.

penilaian dari orang yang sudah kadung mapan itu berbenturan dengan fakta bahwa ada banyak pada masa kini kepala rumah tangga mencari penghasilan dengan menjadi penarik ojek. kerja sambilan yang mengefektifkan fungsi sepeda motor di rumah. senyampang harga BBM naik dan orang enggan ke sana-sini naik becak atau angkot.
ojek adalah pilihan logis bagi mobilitas penumpang dan juga bagi bapak-bapak selepas kerja kantoran untuk mencari penghasilan tambahan. sehingga jamaklah pada masa kini jalanan desa di sekitar saya bising oleh bunyi knalpot sepeda motor pada jam-jam yang seharusnya nyaman untuk istirahat siang di rumah.

pangkalan ojek sekitar perempatan wiyoro, jalan wonosari-yogya, memaknai tempat mereka mangkal para penarik ojek itu -secara bercanda- sebagai tempatnya orang-orang yang DIUSIR ISTRI. pemaknaan ini -meski bercanda- mengungkapkan fakta bahwa memang bisa jadi para penarik ojek [yang sampai kini selalu pria] ini disuruh para istrinya untuk nyari tambahan penghasilan. bisa jadi pula para bapak ini tidak lagi kerasan di rumah karena di rumah sudah kadung bising dan tidak nyaman.

namun, apa pun alasannya, peristiwa ini mengembalikan para pria ke ruang publik, ke jalanan. seperti dulu-dulu juga.

hanya, apa iya karena “diusir” oleh orang rumah? he..he..

1 Comment on jalan vs rumah

  1. Eky
    October 30, 2008 at 10:37 pm

    Lebih parah daripada para pengojek itu, kuli-kuli di kota besar seperti saya ini, malah lebih banyak menghabiskan waktu di ruang publik daripada di rumah. Hanya saja ruang publik saya bukan hanya jalan, melainkan juga ruangan kantor, ruang rapat, cafe, mall, dsb.

    Lepas dari pintu rumah jam 06.30 dan masuk ke rumah lagi rata-rata jam 21.00. Dibulatkan menjadi 15 jam, yang berarti 62,5% waktu saya habiskan di ruang publik, dan ini bukan karena diusir istri, melainkan karena mengejar tuntutan anak-istri . . . . . (he he . . . . padha wae, ya).

    =ESP=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *