menguliti teks

saya nemu teks di atas di pompa bensin, ketika ngantri [panjaaang] menjelang pengumuman kenaikan BBM tempo hari. sebetulnya tidak sengaja ngantri, karena memang tidak menduga bahwa kenaikan harga BBM bakal diumumkan malam itu.
sambil nunggu bensin diisi, terbacalah teks yang dari kejauhan hanya terbaca sebagai maklumat pemilik pompa bensin itu bahwa mereka tidak melayani pembelian dengan jerigen.

tapi setelah mendekat, teks di atas menjadi lebih lengkap terbaca unsur-unsurnya yang lain. yakni huruf-huruf kecil yang disusulkan kemudian di antara teks besar sebelumnya.
dan teks itu secara keseluruhan lalu membangun pengertian yang sama sekali lain!

bila semula hanya berisi larangan membeli dengan jerigen, sekarang -dalam jarak dekat- teks itu menyampaikan pesan agar pasangan lelaki dari perempuan [yang diandaikan sebagai penulis teks] tidak membelainya dengan jerigen.
nah…!

bila diamati lebih lanjut, tulisan tambahan itu rupanya juga tidak berasal dari satu tangan. ada beberapa tahap yang terlihat. artinya, ada proses pembentukan lapis demi lapis sehingga didapat bentuk dan makna terakhir yang definitif seperti di atas [silakan klik gambar di atas untuk melihat lebih terinci].
proses ini -ternyata- di luar kewenangan produsen atau penulisnya mula-mula. tapi sebaliknya -lihatlah- ada di tangan konsumen, atau para pembacanya.
jadi,
dari mana datangnya makna? dari produsenkah atau justru konsumen?
juga, apakah makna itu stabil [tetap sejak muncrat dari benak author]? rupanya tidak.
ada layering, proses pembangunan penafsiran terus-menerus yang dilakukan oleh konsumen selapis demi selapis. kadang dihapus atau malah kadang dilengkapi. suatu dinamika dalam membangun makna-makna baru.

proses terjadinya kota, arsitektur dan benda-benda disain rasanya juga begitu…

2 Comments on menguliti teks

  1. yolanda
    June 11, 2008 at 7:30 pm

    ha….ha….ha…..ada2 aja….
    udh dibikin buku aja mas cerita2 nya….

    btw, makna2 baru yg muncul kemudian oleh pengamat dalam desain
    mudah2an tidak membuat desainer terlena dan lalai berupaya menyampaikan pesan sesungguhnya…

  2. anto
    June 12, 2008 at 7:24 am

    iya,
    disainer kayaknya harus menimbang-nimbang fleksibilitas disainnya. supaya ketika di tangan konsumennya nanti disain itu tetap melangsungkan hidupnya: ditafsir terus-menerus dan panjang umur.
    he..he..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *