mengagungkan masa lalu

Pararaton: Alih Aksara dan TerjemahanPararaton: Alih Aksara dan Terjemahan by Agung Kriswanto

agak mudah bagi saya untuk mengikuti buku ini.
bahasanya dekat dengan bahasa jawa baru, tidak sesulit membaca negarakretagama.
lagi pula, pararaton ini mengambil bentuk “gancaran”, bukan puisi, sehingga niat menyajikan suatu kisah yang runtut lebih nampak.
namun demikian,
kisah yang tuntut itu sering mengalahkan atau mengabaikan fakta historis. hal yang lazim dalam penulisan kisah berlatar sejarah.
pararaton ditulis sesudah negarakretagama, meski pun peristiwa yang dikisahkannya berlangsung di masa sebelum majapahit. ini suatu kisah untuk mengesahkan bahwa majapahit adalah keturunan dari ken angrok, berandal dari timur gunung kawi.
saya senang dengan bagaimana keberandalan tokoh sentral ini disajikan dengan lugu apa adanya. gimana ken angrok suka memperkosa cewek yang ditemuinya, gimana ia menyusun siasat licik sampai jadi raja., gimana lika-liku pengkhianatan dan bunuh-membunuh di lingkaran elit penguasa diketahui penulis.
penulis di masa majapahit akhir itu rupanya punay kebebasan dalam menyajikan kisahnya… dan keadaan jawa di jaman ken angrok itu tergambar tertib. ada aturan jelas, memperkosa cewek jelas dianggap kejahatan, petugas keamanan kerajaan terus memburu dan merekam penjahat yang dicari. meski pun akhirnya mereka semua diam ketika si penjahat itu jadi raja. gak ada yang berani ngomongin masa lalu rajanya.
penulis kisah ini nampak berpihak pada kawasan timur gunung kawi sehingga eksplorasi kawasan ini nampak jelas: masyurnya daerah itu sbg daerah perajin emas, munculnya brahmana di sana [lohgawe yg orang india menetap di timur kawi]…
ini buku cerita. bukan catatan historik.
cerita untuk meneguhkan keutamaan dan kontribusi orang-orang timur kawi dalam menurunkan kerajaan besar majapahit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *