CAFE

tempat orang menikmati kopi ini sekarang mengalami pergeseran arti.

beberapa bulan lalu, anak menteri nabrak orang sampai mati, juga dikabarkan barusan pulang dari cafe bersama pacarnya.

lalu, sekitar sebulan lalu, ada preman bentrok sehingga membunuh seorang anggota kopassus. suatu kasus yang akhirnya melahirkan balas dendam kopassus yang dikecam dunia karena mereka itu membunuhi terduga pelaku yang sudah diamankan petugas di penjara.

cafe diidentikkan dengan tempat hiburan, setara dengan tempat lain yang juga mengalami degradasi makna: diskotek, pub, niteclub.

kemaren lagi,
ada ustaz meninggal gara-gara nabrak pohon, sepulang dari cafe. begitu kata media.
diceritakan bahwa sepulang dari cafe itu, sang ustadz sudah dua kali terjatuh dari motor gedenya, sebelum akhirnya nyawanya berakhir ketika motornya menabrak trotoar dan kemudian pohon.

cafe diidentikkan -lagi- sebagai tempat yang ada hubungannya dengan “kehilangan kontrol” seseorang.

saya adalah penggemar kopi, tapi baru sekali dua kali saja ke kafe.
saya biasa ngopi di rumah, atau di rumah teman yang mengundang.
di warung pinggir jalan pun jarang sekali.

kayaknya, cafe sudah dipahami bukan sekadar tempat orang minum kopi.
sudah lebih dari itu.
entah di mana lebihnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *