centhini dan pencerahan jawa

mengherankan juga ketika mulai membaca serat centhini, khususnya mengenai deskripsi tentang rumah di pupuh 222.

diceritakan bahwa cebolang beserta keempat santrinya berjalan sepulang dari kajoran menuju ke timur ke bang wetan dan kemalaman di suatu desa di tengah hutan. di situ ia menemukan rumah yang mengepulkan asap pertanda adanya aktivitas di dapurnya. rumah itu diangkat dari tanah, atau dengan kata lain berpanggung. desa itu tidak diberi nama menurut nama seorang penguasa, seperti lazimnya orang kota: suryodiningratan, mangkuyudan, mangkubumen dst., namun diberi nama menurut tetumbuhan yang banyak terdapat di sana: karang kamplong.

lebih lanjut, penulis serat ini mengisahkan bahwa cebolang membandingkan suasana desa di tengah hutan tadi dengan suasana negara ngeksiganda [nama lain untuk mataram]. pembandingan itu diperlukan untuk memerlihatkan kontras perbedaannya, dan diceritakan juga bahwa desa itu jauh dari mancalima, yakni sistem pengaturan desa-desa di jawa kuna. sepertinya, dengan fakta-fakta ini, penulis centhini hendak menempatkan paparannya berikut tentang rumah jawa secara berjarak. posisi pencerita yang akan menguraikan pengetahuan tentang rumah dan prosedur pembangunannya [dalam hal ini ki wreksadikara] didudukkan secara netral, tidak terpengaruh oleh kekuasaan dunia.

mengapa posisi pencerita harus dibikin netral? apakah ini kecenderungan baru? mungkin ya, karena kalau kita mengikuti cara bercerita mpu prapanca dalam mendeskripsikan tempat-tempat atau daerah-daerah yang dilalui oleh raja hayam wuruk, dia menempatkan diri sebagai tokoh sentral [pencerita] dan tidak mengonstruksikan diri seolah berjarak jauh dari obyek ceritanya.

apakah teknik bercerita seperti yang dilakukan oleh centhini ini mendapat pengaruh dari barat? mengapa mencurigai adanya pengaruh barat? tidak lain karena centhini sebagai korpus, ini mirip produk yang dilakukan oleh para ensiklopedis di eropa, yang gemar mengumpulkan segala pengetahuan eksotik ke dalam suatu korpus. entah ke dalam sebuah buku, sebuah museum, atau kebon binatang…

mereka ini memperlakukan benda-benda dan pengetahuan itu dengan berjarak. ditetapkan sebagai obyek yang berbeda dari subyek yang sedang mengamati. rasanya ini adalah suatu gejala yang diperanakkan oleh semangat pencerahan di eropa. apakah budaya jawa menghadapi kemandegan atau memasuki kegelapan sehingga menempuh jalur keluar dengan pencerahan seperti yang sudah dialami eropa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *