omah jawa dalam centhini

AUDITORIUM LEMBAGA INDONESIA PRANCIS,
jumat, 25 juli 2008, 16.00.
moderator: rama budi subanar SJ.

pertunjukan ini –dalam bentuk slideshow- adalah bagian dari pameran tentang centhini, yang secara khusus ingin mempertunjukkan rumah jawa sebagaimana dideskripsikan oleh serat centhini.

pertunjukan melalui slideshow hanyalah salah satu cara visualisasi teksnya yang jauh lebih kaya dan imajinatif dari pada gambar-gambar slides. lagi pula, gambar-gambar ini didapat dari foto rumah jawa masa kini dengan anggapan bahwa rumah jawa masa kini tadi masih sama dengan yang dimaksud centhini sekian ratus tahun lalu.

jadi, ini adalah pertunjukan yang juga menyertakan kebimbangan: hendak melakukan visualisasi barang masa lalu dengan gambar barang masa kini yang belum tentu sama, meski pun namanya sama.

rasanya memang hanya melalui namanya saja pertunjukan kali ini dipertautkan dengan yang dimaksud mula-mula oleh penulis centhini. tidak ada jaminan rekonstruksi ini representatif. pertunjukan ini sepenuhnya interpretatif.

tapi, bukankah dalam mengisahkan sejarah kita hanya bisa menyajikan interpretasi-interpretasi?

pertunjukan 3 bagian ini nanti berawal dari ajakan untuk menempatkan omah jawa dalam setting alamnya, lalu konsekuensi dari tempat itu secara bentuk serta tektoniknya. dan akan diakhiri dengan berbagai proses pemaknaan rumah jawa. antar bagian akan diisi jeda yang berupa pembacaan bagian-bagian tembang yang relevan dengan isi bagian sebelum dan sesudahnya. diawali dari pocung, dhandhang gula dan diakhiri oleh mijil, yakni suatu proses pemahaman dari dewasa, mundur ke masa remaja dan mundur lagi ke masa awal adanya. sementara, isinya adalah justru kebalikan dari proses itu: menjelaskan dari awal kelahiran omah jawa, pendiriannya hingga pemaknaannya.

arsitektur adalah lingkungan binaan yang dibuat manusia untuk bertahan di alam. dan arsitektur jawa –atau omah jawa- adalah tempat manusia jawa bertahan di bumi jawa. alam jawa, baik tanah, air, angin, suhu udara, kelembaban itu harus ditanggapi oleh orang jawa. cara orang jawa menanggapi tidak dengan membuat pemisahan yang tegas antara dirinya dengan alam, tapi dia menempatkan diri sebagai “berteduh” di alam,bukan bertahan dari alam. tidak memusuhi, tapi berkawan dengan alam.

pesan untuk masa kini adalah bahwa pembangunan lingkungan untuk hunian orang haruslah mengindahkan keseimbangan dengan lingkungan. perlawanan terhadap kekuatan alam hanyalah akan membangkitkan kurban sosial dan kultural yang lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *