[lagi-lagi] bungkus

identitas ditentukan oleh pembungkusnya.
itu nyata dalam kasus makanan-makanan di atas. meski berbahan dasar sama: nasi atau ketan, tapi masing-masing menyandang nama-nama berbeda berhubung perbedaan pembungkusnya.
entah itu berbeda dalam CARA membungkus, entah berbeda BAHAN pembungkusnya.
lontong dan ketupat adalah nasi yang dibungkus oleh bahan dan teknik membungkus yang berbeda. yang pertama oleh daun pisang dan digulung sehingga berbentuk gilig, sedangkan yang kedua adalah nasi yang dibungkus daun kelapa [janur] dengan anyaman yang bersilang-silang saling mengencangkan.
bila demikian halnya, bila bahwa suatu identitas bisa ditentukan oleh bagaimana pembungkusnya diproduksi, maka kita bisa bercerita riwayat suatu wadah [arsitektur, misalnya] dari sudut ini.
kita bisa bercerita mengenai riwayat arsitektur kayu, atau arsitektur anyaman, atau arsitektur rangka, arsitektur tenda, atau arsitektur bambu… di jawa, di sunda, di batak toba, di nias selatan, di sa’dan toraja… dsb.
jadi, kita bercerita dari perspektif tektonik suatu karya bangunan.
cara orang sunda menangani bambu berbeda dengan orang toraja, beda pula dengan orang nias. orang sumba, orang toraja dan orang nias yang sama-sama menangani kayu ukuran besar, menghasilkan arsitektur yang berbeda yang bisa kita pelajari dalam perbandingannya.

produksi bungkus, baik teknik, bahan maupun alatnya, bisa produktif juga menghasilkan pengetahuan baru dalam perkembangan arsitektur. itu untuk yang minatnya pada pengetahuan, lha untuk yang minatnya ke makanan… apa pun bungkusnya, yang penting isinya bisa dimakan! he.he..

3 Comments on [lagi-lagi] bungkus

  1. y e n
    August 12, 2008 at 2:12 pm

    menarik…ga ditarik-tarik loh 😉
    hmmm, jika demikian dengan arsitektur tradisional… bagaimana orang sunda atau orang toraja memperlakukan material yang ‘disebut-sebut’ modern seperti besi atau aluminium?
    …jadi bertanya-tanya juga tentang makanan ‘modern’, indomie kah atau bungkus nya jadi plastik? hehe…

  2. anto
    August 13, 2008 at 7:29 am

    asyik… cie yeyen ngasih komentar… 🙂

    ketika kita berhadapan dengan bahan yang secara nisbiah ‘baru’, maka akan terjadi ‘penafsiran’ menurut pengetahuan yang sudah kita punya.

    dalam berhadapan dengan besi baja yang datang dalam bentuk batangan, misalnya, maka bahan itu diperlakukan sebagai batangan kayu yang umumnya lebih dulu dikenal. perlakuan sambungan terhadapnya membawa serta ingatan mengenai cara memperlakukan batangan kayu.
    mengapa kaca sedemikian mudah diadopsi oleh arsitektur jawa, mungkin juga karena bahan transparan ini cocok dengan pengertian orang jawa tentang dinding yang adalah ‘tabir’ atau selaput tipis.

    kita bisa belajar mengenai kegamangan arsitek ketika berhadapan dengan bahan baru lewat karya-karya arsitek GAUDI atau CORBUSIER. gaudi ketemu baja BUKAN sebagai batangan tapi sebagai barang cair yang harus dicetak, dan beton yang selembek lempung ketika dibentuk tapi keras seperti batu ketika mengering. demikian corbu meneruskan pergulatan terhadap beton ini dari august perret dan menghasilkan arsitektur yang cocok dengan kodrat beton itu.
    kreativitas mereka -pada hemat saya- sedikit banyak karena berhadap-hadapan dengan bahan baru yang harus di’baca’, ditafsir menurut situasnya.

    keramik, yang di barcelona sedemikian kaya kemungkinannya [baik warna, tekstur dan ukuran], di indonesia selalu hadir dalam tekstur tertentu, warna tertentu dan bentuk persegi 20×20, 20×25,…dst yang adalah penafsiran pabrik terhadap kodrat bahan ini.
    saya bisa mengerti kalau rama mangun menolak tafsiran tunggal ini dan memerdekakannya dengan memecah-mecah dan mewarnainya/ menyablonnya sehingga kemungkinan penafsiran itu dibuka lebar kembali.

  3. Benny P.
    August 26, 2008 at 8:30 am

    Sudah lama saya tidak muncul di sini cak!
    Saya pikir orang-orang seperti Gaudi, Corbu atau mahzab “Amsterdam School” ini memperlakukan bahan sebagai barang yang dikerjakan (diolah) dengan keahlian tinggi (kriya). Bukan sekedar memadukan (meng-assembly) batangan untuk menciptakan ruang. Arsitektur sebagai ‘craft’ vs. arsitektur sebagai ‘assembly’. “De Sjil” lebih cocok dengan barang-barang hasil industri yang di-assembly jadi bentuk dan ruang dalam arsitektur. Masing-masing punya jalan sendiri. Kita hargai keragaman, kek, kek, kek….. Jadi wasit harus berdiri ditengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *