welkom, welcome… dan industri wisata..

saya ke desa takpala tidak untuk berwisata. ini sekadar “mampir minum”, yang dalam kiasan jawa dimaknai sebagai kegiatan yang hanya berlangsung sebentar. karena itu saya lebih banyak ngobrol dengan penduduk desanya. begitu banyak perbedaan di antara kami, justru ketika kami bisa menjalin hubungan yang didasarkan kesamaan sarana komunikasinya: bahasa indonesia.

bahasa indonesia menjadi penyatu kami. di pulau kecil dengan lebih 25-an bahasa daerah setempat. dan di takpala, saya belajar mengenal kata-kata dari bahasa abui mereka [saya baru tahu kemudian, setelah pulang dari takpala, bahwa bahasa ini sudah pernah diteliti orang. paling tidak, sudah terbit buku kamus dan juga disertasi dari frantisek kratochvil yang dipertahankan di universitas leiden, 2007]. bahasa indonesia rupanya benar-benar berguna di sini, jauh lebih berguna dari pada di ibu kota sana di mana bahasa ini digunakan semau-mau penggunanya.

[rasanya, bangsa indonesia ini memang sedang berproses. dan kontribusi bahasa persatuan ini sedang menempuh proses konsolidasi dengan kecepatan berbeda-beda, sementara sudah ada intrusi bahasa asing yang diterima dengan ramah oleh para elitenya.]

dan yang menuntun kami adalah para penutur asli bahasa abui ini: bapa timoteus lanma, simson padama, martinus, dan para istri mereka yang nama-namanya juga terdapat dalam buku kamus susunan kratochvil tadi.

orang takpala sudah sering menerima tamu asing. ada yang berbulan-bulan tinggal di salah satu atau beberapa dari rumah gudang mereka [begitulah mereka menyebut rumah adat panggung mereka itu]. dan sehingga tentunya mereka pun sudah kenal istilah-istilah asing yang dibawa ke dusun mereka.

dari foto-foto yang disediakan oleh situs ascencionatsea nampaklah bahwa dusun sepi yang saya datangi itu kadang-kadang bisa seramai sebagaimana ditunjukkan oleh foto-foto di situs pariwisata tadi. ada masanya desa itu ramai dan pertukaran berbagai bahasa dimungkinkan.

tapi tidak, orang takpala yang ramah-ramah ini jarang yang memraktikkan bahasa asing yang mereka kenal. paling tidak, itulah kesan saya dua hari di sana. mereka masih terkurung dalam kultur mereka sendiri, dalam keasliannya.

sebagaimana keinginan para turis yang datang dari tempat-tempat yang jauh… yang menginginkan agar orang-orang itu jangan berubah. tetaplah seperti aslinya. atau lebih tepat: tetaplah seperti yang kami [turis] kehendaki!

3 Comments on welkom, welcome… dan industri wisata..

  1. Budi Susanto
    August 25, 2008 at 1:38 pm

    Bicara tentang bahasa, jadinya agak terbalik memang jika kita omongin bahasa pemrograman di dunia komputer. Bahasa pemrograman merupakan bahasa antarmuka antara manusia dan mesin. Oleh karena bahasa mesinnya sama (sebagian besar adalah mesin Intel dan kompatibelnya), maka muncul pertandingan yang luar biasa ketat antara bahasa pemrograman-bahasa pemrograman di atasnya yang menjadi antarmuka ini. Tidak ada bahasa “baku”, yang ada adalah alur logika yang sama. Lho…koq jadi ngomongin bahasa pemrograman komputer yang ndak ada hubungannya :D….
    Salut pak antok dengan jurnal nya ini…..salut!

  2. Benny P.
    August 26, 2008 at 8:47 am

    Bahasa juga bisa digunakan sebagai alat politik. Disamping segi positif bahasa Indonesia, yang diproklamirkan sejak berdirinya balai pusataka, juga dipakai oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mengontrol semua tulisan yang menentang pemerintah kolonial. Bahasa yang digunakan oleh Mas Marco, atau Tirto Adhisurya adalah bahasa Melayu Lingua Franca, yang dianggap sebagai bhs Melayu pasar, ha. ha. ha……. Kesusastraan Melayu Tionghoa juga korban dari kebijakan ini, ha, ha, ha…..

  3. anto
    August 27, 2008 at 12:49 pm

    iya,
    dengan alat kontrol yang tidak lain adalah aparatus kemauan politik itulah maka terjadi keadaan ‘tata tentrem karta raharja’ he..he..
    dengan menyosialisasikan penggunaan bahasa indonesia, maka banyak hal positif dibangun. selain juga banyak hal dari bahasa-bahasa suku jadi hilang.
    belajar banyak bahasa, itu yang baik.
    he..he..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *