berbincang lama dengan timoteus lanma

orangnya sedang tidur siang, ketika saya menghampiri pondoknya di takpala. pondok itu berupa rumah panggung beruang tunggal. berdinding gedeg dengan atap alang yang puncaknya diikat menjulang. berbagai perlengkapan lelaki abui berserak di sekitar tempat tidurnya: perlengkapan sirih pinang, panah dan busurnya, parang, kain-kain ikat yang dijadikan selimut di ruang yang terbuka di satu sisinya itu.

melewati satu gubug lagi [yang digunakan untuk tidur dorkas, putrinya] kami diterima di serambi rumah gudang, rumah adatnya. mama amalia yang lebih dulu menjumpai kami ketika kami masuk desa ini memperkenalkan kepada tetua adat ini sambil menerima bungkusan sirih pinang yang kami bawa dari kalabahi.

[sebenarnya, bibir saya masih merah sehabis makan sirih pinang di kalabahi tadi, tapi di depan bapa timo ini saya harus makan lagi sebagai kesediaan menerima sambutan tuan rumah. makin merahlah bibir, gigi dan lidah…]

ada kopi enak disajikan, bersama goreng pisang, dan kami lalu bicara mengenai subsistensi [halah, ini mah istilah saya saja!]. dan dorkas menerangkan keistimewaan kopi tadi ketika kami termehek-mehek dengan aroma yang menebar dari gelas minum tadi:

kami tidak pernah membeli kopi di pasar. ini kopi dari kebun sendiri, yang setelah dikupas, dikeringkan lalu kami goreng dengan sedikit minyak supaya tidak hangus. para peneliti asing itu juga bilang bahwa kopi sini enak..

tidak hanya kopi, namun juga tembakau. di halaman rumah itu ada sepetak ukuran 4×4 meter yang ditanam tembakau, bercampur dengan makam dari beberapa orang desa yang telah meninggal. terlihat tanda salib tertancap di atasnya. sayang saya tidak merokok sehingga tidak bisa memberi komentar mengenai mutu tembakaunya.

ini bulan kami biasanya membangun dan memerbaiki rumah. apalagi ini adalah saat bulan terang. orang takpala memerbaiki merangkai, menyusun dan memerbaiki atap alang rumahnya di malam bulan terang. tidak di siang hari yang selain panas juga tali pengikat [makiling:tali dari hutan, sejenis tumbuhan merambat di tanah dan di pohon] mudah putus…

bulan juli dan agustus adalah bulan bagi orang takpala untuk “potong kebun”, yakni memotong bambu untuk disimpan bagi keperluan pembuatan alat-alat rumah tangga maupun untuk konstruksi rumah mereka. bulan oktober nanti adalah bulan untuk “bakar kebun” agar carbon hasil pembakaran itu meresap dan menjadi pupuk bagi tanah kebunnya.

tidak terasa sudah lama saya ngobrol dengan bapa lanma. mengenai berbagai jenis kegiatan yang dilakukan menurut jadwal, menurut pengaturan waktu yang disepakati warga desa takpala. dalam setahun sudah ada kegiatan yang pasti mereka kerjakan secara bersama-sama.

sore jelang malam, saya pamit dari kampung tanpa listrik ini. menyusuri jalan berbatu yang diterangi bulan terang, saya lama-lama merasa rindu. rindu pada ketertiban waktu. ketertiban yang bisa menjadi pegangan bersama…

memang, ini romantisme!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *