gempa di rumah gudang

martinus berkisah mengenai rumahnya yang dilanda gempa tahun 2004 silam. menurut berita memang seluruh alor bergoyang. juga rumah-rumah di takpala. ada pula yang roboh, teronggok ke bawah, mendarat di tanah tanpa dapat disangga oleh keempat tiang utamanya.

rumah di takpala adalah rumah panggung dengan empat atau enam tiang. keempat tiang utama dari ‘kayu merah’ berdiameter sekitar 30cm ini ditanam ke dalam tanah sedalam 100-150cm. bagian tiang yang terbenam di dalam tanah tadi diletakkan di atas batu lempeng di dasar sumurnya dan sumur itu ditimbuni batu-batu melulu. tidak boleh ada tanah tercampur dalam timbunan batu yang memegangi kaki tiang ini.

keempat tiang itu sebenarnya deretan 2 portal sejajar dengan jarak antar tiang kita-kira satu depa. atau bila rumah itu terdiri dari 6 tiang, maka masing-masing portal itu berkaki 3 [eh, masihkah ini bisa disebut sebagai portal?]

keempat tiang ini menerus ke atas dan sebagai portal memiliki lintel atau balok di puncak-puncaknya yang menghubungkan dengan tiang portal satunya. balok ini disebut been dalam bahasa setempat, berdiameter sekitar 15cm. been ini menganjur di ujung-ujungnya sehingga menciptakan semacam kantilever sejauh sedepa, dan ditusuk serta ditopang oleh dua tiangnya. pertemuan been dengan tiang ini diikat dengan tali yang diambil serta diawetkan dari tanaman rambat yang sudah ada di kebun mereka. pada tiang utama di ujung dekat pertemuannya dengan been itu dipasang papan kayu setebal 3jari lelaki dan berukuran sekitar 2×3 jengkal tangan. namanya dulang. selain untuk menjebak tikus agar tidak naik ke rumah juga mampu menahan rumah bila rumah tergoyang karena gempa. been adalah balok utama rumah, yang padanya diikatkan batang-batang bambu sebagai kerangka atapnya mengeliling serupa piramida.

ruang berupa piramida itulah sesungguhnya rumah bagi orang takpala. di dalamnya tersimpan segala-gala: baik orang maupun barang-barang berharga. di situ perempuan dan anak-anak tidur, memasak makanan maupun melakukan berbagaikegiatan privat lainnya. rumah ini disebut sebagai ‘rumah gudang’ karena memang hanya dalam struktur inilah orang alor bisa menyimpan barang sekaligus orang. rumah biasa hanya berupa kamar-kamar yang jarang membuatkan gudang.

sedangkan platform di bawahnya adalah ruang semi publik untuk para pria dalam menjaga rumah mereka sebgaimana balai yang dikenal oleh orang-orang austronesia.

rumah ini pernah miring digoyang gempa tektonik, tapi sekarang sudah diluruskan lagi. dan meski tiap kali anak-anaknya tidur terasa “gempa” yang dia bikin sendiri bersama istri, rumah itu tetap stabil. sampai kini.

2 Comments on gempa di rumah gudang

  1. cinda
    September 11, 2008 at 3:58 am

    wahhhhh tulisan yang bagussss,,,,,tapi kok gak ada gambarnya ya đŸ˜•

  2. anto
    September 11, 2008 at 7:38 am

    he..he..
    gambarnya masih bertindih-tindih dengan kertas laporan yang lain…
    belum sempet mindahin!
    ntar deh disusulin..
    trims atas perhatiannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *