api di umekbubu

barusan diskusi dengan teman-teman mengenai api dan ruang.
sudah diketahui bahwa perapian merupakan pusat dari kegiatan merumah. di sekitarnya berlangsung kegiatan yang membutuhkan terang, panas dan kehangatan darinya.
api diperlakukan sebagai sumber dari hal-hal tadi. semakin mendekat, semakin kita mendapat. dan semakin menjauh semakin menyusutlah yang kita dapat.

relasi sosial yang diakibatkan dari rumah yang berpusatkan api ini jelas adalah relasi yang berpusatkan pada orang-orang yang dianggap sebagai sumber. orang-orang yang punya lebih banyak pengalaman hidup, yang tidak lain adalah orang-orang tua.

belum ada 1o hari lalu saya tidur dan berdiskusi di dalam rumah pak ande [andreas] di desa fatumnasi. rumah yang lebih rendah dari tinggi badan saya sendiri ini juga berpusatkan di api. tempat semua anggota keluarga -termasuk ayam dan 2 ekor anak babi- berkumpul di dekatnya mengharapkan kehangatan.

dinding bulatnya, maupun keempat tiang penyangga lantai atas dan permukaan bawah lantai atas tadi semuanya berselimutkan jelaga. berkilat-kilat dengan bau kayu bakar yang khas. juga jagung-jagung yang dikeringkan dengan digantung, dan segala perabot dapur serta rumah tangga berselimutkan jelaga.

dapur? tidak ada dapur di sini. satu ruang untuk segala keperluan. ruang tunggal ini belum dipecah-pecah oleh nama kegiatan yang menggunakannya. ada -memang- pembagian tempat, tapi tidak ada pembagian ruang.

api yang mampu menembusi ruang dengan intensitas yang semakin jauh semakin redup ini juga membuat ruang semakin dekat ke api semakin utama, semakin publik. dan sebaliknya, semakin ke luar semakin gelap, semakin privat. di ruang-ruang tepi itulah berbagai keperluan privat juga dilangsungkan.

di rumah ini, kami tidur dan berlindung dari udara luar yang menggigilkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *