air api penyucian

sebagai pengantar kuliah pagi tadi –setelah seminggu libur lebaran- saya mengajak rekan-rekan mahasiswa untuk merenungi air, api dan mudik.
ketika mahasiswa masuk ruangan yang sengaja saya gelapkan, sudah tersedia di sana lilin kecil berwadah alumunium mengapung di mangkuk berisi air.saya mengajak mereka duduk pengitarinya sambil mengobrolkan pengalaman seminggu liburan lebaran.

lebaran adalah momen yang dimiliki bangsa-bangsa lain juga. tidak hanya jawa.
namun, di jawa, lebaran dihubungkan dengan usaha saling memaafkan. saling meng-nol-kan perjalanan hidup. perjalanan hidup dianggap seperti perjalanan dari titik nol bergerak menjauh darinya. berangkat dari kesucian lalu berjalan semakin kotor, semakin kotor, sehingga usaha untuk kembali ke awal, ke tempat asal itu, dianggap sebagai menjalani proses penyucian.
fitri, fitrah, kembali ke keadaan ketika diciptakan yang bersih dan suci.

apa saja tindakan yang dilakukan orang sebagai perlambang dari proses penyucian ini?
orang jawa saling berbagi ketupat, yang kebetulan makanan ini bila dieja secara jawa jadi KUPAT yang mengasosiasikan ungkapan NGAKU LEPAT [mengaku salah].

mudik, istilah yang diambil dari dunia perairan, mengandaikan bahwa air di udik lebih bersih dari pada di hulu, muara. sehingga gunung –tempat di muka bumi yang tinggi- sering identik dengan udik, dan sekaligus dengan kebersihan atau kesucian karena air mengalir dari sana melalui aliran sungai untuk masuk ke muaranya di laut. “wong gunung” itu dihubungkan dengan “orang udik” sebagai lawan dari “orang kota” yang tinggal di “downtown” bawah.

kita tahu, bahwa tindakan pembersihan bisa disimbolkan dengan menghadirkan air. air adalah elemen alam yang mengandung di dalamnya makna universal pembersihan. mircea eliade memberi tahu kita hal ini. sekaligus, sumber air [bahasa latin: origo] juga mengasosiasikan ke gagasan tentang asal-usul yang bersih dan suci tadi.

paduan antara api dan air menghasilkan efek yang lebih kuat sebagai simbol penyucian. keduanya mengandung potensi pembersih. dalam arti itu maka bisa dipahami bila setiap hari waicak selalu ada acara mengambil api abadi dari mrapen, grobogan, dan mengambil air dari umbul jumprit, yakni suatu sumber air di sekitar wonosobo yang dinilai masih bersih mutu airnya. ada pula ritus yang menghanyutkan perahu-perahu kecil bermuatan lilin menyala di sebuah sungai, itu pun punya makna pembersihan.

bila pagi tadi kami duduk dan berbicara mengitari api yang diapungkan pada semangkuk air, maka kami sedang menghormati pula rekan-rekan lain yang juga sedang menghayati fitrahnya yang suci, bersih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *