apa daya, ini lodaya

kursi ini sama sekali gak ergonomik. dudukannya kurang maju, kurang luas buat bokongku. sandarannya pun kurang rebah, terlalu tegak. tidak enak buat duduk, tidak enak pula untuk tidur.

demikian keluh saya ketika mulai mencoba kereta lodaya kelas bisnis. seharusnya saya maklum, bahwa ini adalah kereta api di negeri berkembang. negeri yang belum bisa membiayai pelayanan publik dengan baik. belum lagi, asap rokok dan bau kaki yang gentayangan karena sia-sia dikibas-kibas oleh kipas angin di plafond. tidak pergi-pergi. bukan salah pengelola keretanya, tapi memang kebiasaan dari manusia penggunanya sendiri masih harus diubah.

meski demikian, meski pun batin ini mengeluh, tapi tubuh saya ini penurut. dengan berbagai penyesuaian maka tertidur pulalah awak ini meski sesekali terbangun karena pegal-pegal di bahu, pinggang dan kaki-kaki.

[mungkin, kereta jenis ini cocok untuk perjalanan jarak dekat saja. perjalanan siang hari sembari ngobrol dengan teman satu kursi. dan tidak cocok untuk perjalanan selama 8-9 jam antara bandung-yogya.]

rekan sekursiku berbusana putih. agaknya dia mengikuti aturan atau disiplin tertentu yang memaknai warna putih sebagai lambang kebersihan. tapi, kalau diamati lebih dekat, busana itu ternyata dekil. demikian pula jari-jari tangannya dan tas punggungnya, dekil alias tidak bersih.

dia memelihara LAMBANG KEBERSIHAN, tapi tindakannya itu tidak mengubah kebiasaannya. dengan kata lain: dia SEOLAH bersih, tapi KENYATAANNYA tidak. dia bermain-main dengan lambang tapi antara lambang dengan yang dilambangkan tidak nyambung. mirip dengan orang yang kendaraannya menyalip begitu saja tanpa aturan, padahal di kendaraaannya itu bergantungan dan bertempelan berbagai atribut keagaman.

kereta api ketika dikenalkan di jawa, dulunya memang bukan untuk orang pribumi. tapi untuk orang-orang eropa yang sudah punya kebiasaan yang cocok dengan pengoperasian modus transport ini.
kereta api adalah kendaraan yang meminta disiplin dari pengelola maupun penggunanya. bila masyarakat berjalan tanpa disiplin, atau yang disiplinnya tidak cocok, maka modus transportasi ini pun hancur. berbagai hasil teknologi modern bisa kita beli, tapi bila tanpa disertai penyesuaian kebiasaan ke yang baru, yang cocok dengan teknologi itu, maka yang terjadi adalah konsumsi belaka. tidak mengubah secara struktural pemakainya.

seolah-olah. yaa.. seolah-olah…

6 Comments on apa daya, ini lodaya

  1. Eky
    October 18, 2008 at 11:43 pm

    Pasti pernah dengar seputar ‘nilai ekonomis dari budaya’.
    Budaya di sini = mental masyarakat (disiplin, kerja keras, dsb).

    Kereta api kita cepat rusak itu karena budaya kita negatif, sehingga menghasilkan nilai ekonomi negatif, jelasnya boros, karena harus lebih sering beli (capital expenditure meningkat). Negara-negara yang masyarakatnya disiplin menjaga sarana umum, lebih jarang beli lagi. Di Eropa kereta api umur operasi 25 tahun masih bagus banget. Thailand juga hampir seperti itu.

    Kalau ditarik lebih makro, masalah utama bangsa ini adalah budaya bangsa atau mental bangsa. Seumpama budaya kita bagus, banyak sekali masalah yang bisa dihindarkan, minimal akan terselesaikan secara otomatis. Kita jadi irit biaya, waktu & energi.

    Sebenarnya inilah yang harus diprioritaskan diajarkan (didoktrinkan) pada awal masa pendidikan (lets say TK dan SD kelas 1 – 3). Ajarkan disiplin, kerja keras, jujur, menghargai hasil kerja orang lain, menghormati hak orang lain, toleransi, peduli orang lain & lingkungan, dsb. Separuh dari waktu belajar digunakan untuk materi ini, sedang mata pelajaran akademis (matematika, bahasa, IPA dll) cukup separuh waktu belajar.

    Kalau metoda pengajaran di atas dimulai sekarang, niscaya budaya positif bangsa ini akan terbentuk pada satu generasi mendatang.

    =ESP=
    (kali ini nggak pakai lucu-lucuan)

  2. anto
    October 20, 2008 at 9:23 am

    artinya,
    mengubah ini adlaah tidak mudah karena menyangkut nilai yang dianut kebanyakan kita.
    setuju dab!

  3. daniel
    October 24, 2008 at 6:40 pm

    kita tinggal di kota tapi dg tata cara hidup di kampung yang serba leluasa… (sorry tanpa maksud untuk menganggap kota lebih superior ketimbang desa lho) justru kehidupan kota identik dg kehidupan yang serba terbatas… yg ujung-ujungnya berakhir di terbatasnya biaya … klau kita seenaknya sendiri ya … rasanya kota nggak akan sanggup untuk mendukung pola laku yang begitu itu … antri karcis, naik kereta aja rebutan
    nah laku yg begini ini kan nggak klop sama keterbatasan tadi.

    kasihan orang yang lebih jompo, perempuan yang lebih lemah (apalagi ibu hamil), anak-anak yang masih kecil….

    sistem itu kan dimaksudkan untuk efisiensi tapi kita ini keliwat ‘kreatif’ kali yah?

    jadi saya kok jadi prihatin, anak-anak kita dari kecil diajari baca tulis tapi ternyata makai baju sendiri aja nggak bisa … boro-boro menghargai (punya) orang lain……
    terlalu berorientasi pada (punya) diri sendiri masak bodoh sama orang lain …

    gitu nggak sih mas?

    daniel

  4. Benny P
    October 27, 2008 at 10:58 am

    Buku “Manusia Indonesia”, diterbitkan pertama tahun 2001 oleh Yayasan Obor Indonesia, oleh Mochtar Lubis bergaung lama dan luas. Menempatkan masalah dalam sekat hitam dan putih, budayawan-wartawan itu menyebut enam ciri manusia Indonesia. Meliputi hipokrit alias munafik (1), enggan bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya (2), berjiwa feodal (3), percaya takhayul (4), artistik (5), dan berwatak lemah (6). Untuk ciri-ciri lainnya, Mochtar Lubis mendaftar ciri-ciri yang buruk.
    Apa ini masih berlaku sekarang cak?

  5. anto
    October 27, 2008 at 11:31 am

    mungkin yang dibayangkan pak lubis adalah “manusia jawa” alih-alih manusia indonesia… he..he..
    lha semua cacat dan catatan negatif itu kan cocok bila yang dibayangkannya adalah orang jawa.

  6. Eky
    November 18, 2008 at 5:51 pm

    Pembentukan Karakter Diabaikan
    Kompas, Selasa 18 November 2008

    Pendidikan di sekolah bukan cuma memberi pengetahuan, tetapi melengkapi siswa dengan keterampilan, kemampuan, dan karakter. Sayangnya, para guru dewasa ini terjebak untuk mengajarkan pencapaian nilai akademik tinggi, sedangkan masalah non-akademik pembentukan karakter, kepribadian, sikap, etos kerja, nasionalisme, termasuk soft skill terabaikan.

    ”Pendidikan merupakan pemberi harapan terhadap kecerahan masa depan bangsa. Ini tidak semata menguasai pengetahuan dan teknologi, tetapi memiliki karakter manusia Indonesia yang kuat. Untuk itu, kita memerlukan pendidik yang cerdas dan berkarakter kuat,” kata Baedhowi, Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, pada seminar dalam rangka wisuda mahasiswa Universitas Terbuka di Pondok Cabe, Tangerang, Banten, Senin (17/11).

    Menurut Baedhowi, sejak tiga dasawarsa ini, semua pihak risau terhadap kualitas pendidikan yang merosot. Namun, upaya peningkatan mutu pendidikan lebih memprioritaskan kemampuan akademik siswa. Jika pembangunan karakter dilakukan melalui pendidikan dan siswa menjadi salah satu sasaran utama, kata Baedhowi, untuk mewujudkannya butuh pendidik yang bermutu. Pendidik harus cerdas, berkarakter, dan mempunyai cita-cita mencerdaskan peserta didik.

    St Sularto, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, menjelaskan, membangun optimisme masa depan bangsa lewat pendidikan dengan mengembangkan sumber daya manusia tidak bisa dilakukan secara gegabah, apalagi demi kepentingan politik praktis, sempit, dan jangka pendek. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu mengembangkan potensi masyarakat, menumbuhkan kemauan, dan membangkitkan nafsu generasi bangsa untuk menggali berbagai potensi.

    Atwi Suparman, Rektor UT, mengatakan, dalam rangka menciptakan generasi baru yang berkarakter dan beradab, perlu dikembangkan pendidikan di sekolah dengan model pembelajaran substansif. (ELN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *