malem jumat kliwon di radya pustaka

[ingatan ini belum hilang.
jadi,
lebih baik dituangkan saja. di jurnal ini
.]

tidak lain karena saya malam jumat kliwon kemaren, kamis malam 23 oktober 2008, pulang ke rumah ibu dengan diantar oleh gusti dipokusumo.

malam itu saya diminta menemani dua orang pembicara, gusti dipokusumo dari karaton surakarta dan ibu sri surayati dari BP3 DIY. kami berdiskusi di emperan museum RADYA PUSTAKA dari jam 19.30 hingga tengah malam.. bener-bener suasana khas sala, diskusi kok seperti tanpa batasan waktu [dua kali ibu saya menelpon menanyakan kapan selesai dan gimana pulang ke gondang, rumahnya]

tajuk yang didiskusikan adalah mengenai apa itu PUSAKA BUDAYA dan bagaimana kontribusinya bagi bangsa indonesia di masa depan. ini dalam rangka memeringati 118 tahun museum radya pustaka, 28 oktober 2008.

ediaaan…
ini tajuk sudah bikin pingsan ketika baru membacanya saja!
tapi baiklah, karena yang meminta saya adalah mbah suprapta suryadharma, penari kondang di masa saya kecil [saya mengingatnya ketika beliau menarikan sutasoma dalam WAYANG BUDHA], yang sekarang mengelola PADHEPOKAN LEMAH PUTIH, maka saya manut. tanpa ngeyel, meski harus beberapa kali nelpon ke beliau mengenai kapasitas saya dan memohon mempersempit pokok bahasan ke dunia yang saya tahu saja.
beliau mengabulkan.

dalam waktu 2 hari, saya mengambil posisi untuk membicarakan pengertian umum dan perkembangan pengertian tentang pusaka budaya. saya mengandalkan dokumen-dokumen ICOMOS, khususnya tulisan robert cowherd dan tulisan-tulisan lain yang ada dalam buku MONUMEN DAN SITUS INDONESIA [1999].
selebihnya,
saya mengandalkan slideshow untuk mengimplementasikan pengertian tadi ke dalam tajuk OMAH JAWA DAN PUSAKA BUDAYA. saya adalah penyaji terakhir, sudah larut. audiens sudah ada yang beberapa kali menguap.
nah,
kesempatan bagi saya untuk membangunkan mereka dengan presentasi gambar-gambar [lha wong memang saya nggak inget lagi dengan narasi yang sudah saya ketik sebagai papernya je…]. udah deh, saya ngomong aja apa adanya di layar itu. sejadi-jadinya sampai hampir sejam..

saya ingin mengajak agar audiens memahami betapa sulitnya orang jawa menerima museum. karena pengertian museum yang membekukan warisan budaya ini tidak cocok dengan pemahaman orang jawa yang selalu melakukan modifikasi dan pencocokan warisan yang ia miliki dengan situasi mutakhir. sulit sekali bicara mengenai ORIGINALITAS pada orang jawa. dan khususnya dalam hal rumah, dunia buatan yang dibinanya, omah jawa itu bertumbuh, mulur-mungkret tergantung pada relasi dengan penghuninya.
karena itu,
lebih cocok bila peran museum itu didefinisikan ulang. tidak lagi membekukan warisan [kalau mau membekukan silakan saja, tapi untuk produk-produk yang memang sudah terputus dari kehidupan orang jawa] tapi mendorong agar masyarakat jawa merawat warisan yang masih dihidupi. yakni kebijaksanaan, kebiasaan, ketrampilan yang khas sebagai responsnya pada alam jawa yang tropik ini.
saya bersyukur menemukan referensi mengenai hal ini dari tulisan rob di atas, mengenai konperensi heritage di nara, jepun 1994 dan yang di san antonio, texas, amerika, 1996.

saking semangatnya, sampai basah sekujur badan, gobyos oleh keringat. dan ketika duduk, saya dikomentari oleh moderatornya waktu itu -mas titus– bahwa presentasi saya kayak kotbahnya pendeta gereja kharismatik…
ediaaan..!!

pulangnya, saya dianter wong agung dari karaton surakarta, gusti dipokusumo. gek ngimpi apa aku mau wengi kok sampai bisa-bisanya mendapat kehormatan sebesar ini… [gusti dipokusumo ternyata adalah sesama alumnus summerpeacebuilding institute di harrisonburg. beliau ikut tahun 2006, saya 2007]

matur sembah nuhun gusti, berkenan jadi sopir saya…[halah! mungkin beliau tidak tahu bahwa ibu saya girap-girap begitu tahu bahwa yang menjadi sopir bagi anaknya adalah wong agung ini!]

2 Comments on malem jumat kliwon di radya pustaka

  1. Eky
    October 26, 2008 at 1:16 am

    ” tajuk yang didiskusikan adalah mengenai apa itu PUSAKA BUDAYA dan bagaimana kontribusinya bagi bangsa indonesia di masa depan ”

    —> Lha terus, apa kesimpulan diskusi / jawaban dari tajuk itu, Mo ?

    =ESP=

  2. anto
    October 26, 2008 at 5:52 am

    lha ya itu tadi,
    karena tidak bisa menjawabnya [ediaan paa..?], maka aku cuma memaparkan pengertian-pengertian apa itu PUSAKA BUDAYA dan apa kontribusi museum pada masyarakat kontemporer kita.
    bahwa,
    kita tidak harus memuseumkan monumen-monumen, tapi juga bisa memoseumkan produk kultural yang masih dihidupi oleh orang jawa masa kini. entah itu museum kuliner, mainan anak, pertunjukan, musik, seni rupa dsb.
    lha wong di luar negeri kan juga sudah ada perubahan paradigma museum itu yang kayak gitu. dan itulah yang cocok dengan situasi kita, mendokumentasikan kebudayaan yang masih dihidupi.
    bayangin, ada museum tentang kuliner jawa, dengan rekonstruksi interior pawon jawa -misalnya- yang menyajikan WEDANG UWUH itu… ha..ha.. [sesuk tak kirim deh via TIKI, tadi sudah dibungkus!]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *