built by hand

bagi sementara arsitek, dirasa ada kebutuhan untuk mencari metoda disain yang baru, yang berbeda dari yang sudah dijalaninya.

persoalan ini sebenarnya biasa saja. orang modern ingin meningkatkan produktivitasnya dengan mencari hal baru, karena ia dituntut untuk selalu ‘maju’. dan maju di sini dipahami sebagai “yang baru”. memang, istilah “modernus” itu mula-mula berarti “yang berbeda dari sebelumnya”.
orang yang terbiasa merancang arsitektur secara fotografik akan terpesona oleh rancangan yang tektonik, yang memajukan ‘alternative construction’ sebagai selingan menyegarkan dari kecenderungan formalis- photogenic- modern- minimalis sebagaimana muncul di publikasi arsitektur di indonesia mutakhir.

buku seperti built by hand ini berada dalam arus kerinduan yang sama dengan kerinduan para arsitek jakarta-bandung akan eksotika kampung, vernakular, yang berbeda dari keseharian mereka. dan mereka ini pun berada dalam arus sama dengan yang berlangsung di ‘induk’ mereka di “dunia pertama“.
sementara itu, dalam arus sebaliknya, orang yogya, surabaya dan bali sedang gandrung hal yang simple, minimalis, jernih sebagaimana dibangun di kota-kota besar dan ditampilkan dalam tabloid dan buku-buku tentang arsitektur di indonesia. pokoknya yang bukan bagian dari keseharian mereka.

sebenarnya, ini bukan kasus menarik. ini cuma kasusnya orang-orang modern yang kodratnya pembosan.

built by hand menyajikan secara fotografis cara membangun yang langsung dikerjakan dengan tangan. suatu aktivitas yang lazim di tempat-tempat yang belum mengalami industrialisasi. dengan bahan, alat dan teknik setempat mereka menghasilkan karya arsitektur yang eksotik bagi orang-orang modern. medium fotografi pun terpilih sebagai medium yang cocok untuk mengambil jarak antara obyek dan subyeknya yang serba hadir sebagai penonton.
buku ini mengikuti kecenderungan pasar produksi arsitektur di dunia yang memperlakukan timur, dunia ketiga, kampung, sebagai sumber inspirasi bagi produksi arsitektur modern mereka [barat]. dengan kecenderungan ini timur akan dibekukan, dipindah dari realita menjadi abstraksi yang kemudian sebagai ikon dijadikan acuan bagi karya baru yang cocok untuk kebutuhan modern mereka.

timur sebagai realita akan tetap tertinggal di tempat. sementara, yang selamat dan melanjutkan umur panjang adalah image tentangnya, yang menjelma menjadi karya-karya modern di eropa atau amerika atau tempat-tempat lain yang jauh dari afrika dan asia… dari kampung kota dan desa-desa…
romantika kolonialistik seperti ini rupanya meminta pengesahan kalangan akademia, dan tidak hanya di jaman kolonial saja hal ini terjadi, tapi sekarang pun makin menjadi-jadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *