berdamai [adven II]

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38).


Bacaan pengantar kita pagi ini berkisah tentang dua orang perempuan yang sama-sama menanggung malu. Elizabeth, seumur-umur menanggung malu –atau aib- karena dia tidak punya keturunan. Sedang Maria, harus menanggung malu karena kedapatan hamil di luar nikah. Maria harus mengandung bayi yang ia dapatkan secara aneh, tidak lumrah bagi kebanyakan orang. Dalam masyarakatnya waktu itu pastilah ia gelisah dan takut karenanya. Tidak damai dengan keadaannya.

Bagaimana cara kedua perempuan itu dalam menyikapi beban yang harus ia tanggung itu? Elizabeth bersama suaminya –Zakharia- hidup “…benar di hadapan Allah dan dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” [ay. 6], sehingga ketika waktunya tiba ia bisa berkata “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang”. Sedangkan Maria menyelesaikan kegelisahan dan keheranan itu dengan menerima kejadian yang menimpa dirinya sebagai anugerah Allah pada seorang hamba [ay.38].

Menerima peristiwa yang mendatangkan malu dalam hidup biasanya tidak mudah. Terlebih-lebih bagi orang Jawa, sulit sekali menanggung malu di hadapan banyak orang. Sebisanya dikubur dalam-dalam, dan lebih menonjolkan hal-hal baiknya: Mikul dhuwur mendhem jero. Menyimpan masalah ke dalam bawah sadar, menurut penelitian psikologi mutakhir, ternyata tidak menyelesaikan masalah karena dengan hanya melupakan atau menganggapnya tidak ada itu masalah tadi tetap hidup dan kadang-kadang muncul sebagai masalah yang lain. Ayah yang bercekcok dengan anaknya karena ia memaksa agar anaknya bersekolah di Fakultas Ekonomi –misalnya- mungkin adalah ekspresi dari hasrat tersembunyi yang ia tekan seumur hidupnya dan tidak pernah kesampaian. Ibu yang sangat membatasi pergaulan putrinya, mungkin punya masalah dengan pergaulannya di masa lalu yang tidak dia akui dan coba ia lupakan setengah mati. Keduanya hidup dalam keadaan tidak damai dengan dirinya sendiri, dengan masa lalunya, dengan rasa bersalahnya di masa silam. Akibatnya, orang-orang di sekitar kita pun ikut terkena tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi. Orang-orang di sekitar kita pun ikut merasakan tidak damai dalam berhubungan dengan kita.

Maria mengajarkan suatu sikap yang diakui sebagai benar dan sehat oleh para psikolog: menerima keadaan yang sulit ditolak, entah itu akibat perbuatan masa lalu yang memalukan atau yang lain. Ini berbeda dengan pengertian nrima tanpa daya yang dianut oleh kebanyakan orang dalam masyarakat kita. Maria nantinya akan mengungkapkan penerimaan ini dengan istilah yang oleh penginjil Lukas dinyatakan dalam kalimat “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” [Lukas 2:19].

“Menyimpan segala sesuatu di dalam hati dan merenungkannya” itu dalam seluruh Alkitab sejauh diketahui, hanya dilakukan oleh 3 orang: Yakub ketika mendengar mimpi Yusuf, Daniel ketika mendapatkan penglihatan yang menggetarkan dan Maria. Ketiganya bersikap seperti itu karena tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan rencana agung Tuhan yang belum begitu jelas seperti apa.

Berdamai dengan diri sendiri, saudara-saudara, perlu kita lakukan. Kita terima itu sebagai pemberian, anugerah yang belum jelas benar penggenapannya di masa depan. Seorang Bapa Gereja di sekitar abad keempat, Agustinus dari Hippo namanya, pernah mengungkapkan hal ini secara lain: “Letakkanlah masalahmu pada Tangan Tuhan, setelah itu berbuatlah sesukamu”. Dengan perkataan itu beliau sedang mengajarkan kita untuk memercayakan masalah, beban, aib dan rasa malu kita pada tangan Tuhan. Tuhan mau menerima itu, dan memang itulah panggilan yang selalu diwartakan Tuhan, bahwa beban kita tidak mungkin kita hapus bila tidak kita keluarkan dan kita pindah ke tangan Tuhan. Dengan meletakkan beban itu maka kita adalah seperti orang-orang yang bebas. Kita bisa bekerja dengan ringan membangun dunia ini menjadi tempat yang pantas bagi kedatanganNya kelak.

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” adalah ungkapan iman. Di sini Maria memercayakan rasa malunya, aibnya dalam tanggungan Tuhan yang telah memberikan padanya. Sering kali perasaan tidak damai dalam hati kita itu justru karena kita melihat betapa hinanya kita di hadapan kesucian Allah dan menganggap seolah Tuhan tidak akan bersedia mengampuninya. Justru itu saudara-saudara, diberitakan pada minggu kedua Adven sekarang ini bahwa kita perlu berdamai dengan diri sendiri dengan memercayakan semua beban dan rasa salah kita di tangan Tuhan. Dan bersama pesan Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika [I Tesalonika 5: 13b] hendaknya “kita selalu hidup dalam damai seorang dengan yang lain.”

Bila dalam Minggu pertama Adven yang lalu tradisi gereja memberi penekanan pada tema “pengharapan”, maka penekanan Minggu kedua Adven ini adalah pada “perdamaian”. Berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan orang di sekitar kita merupakan persiapan untuk menerima anugerah yang lebih besar dari Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *