malem satu sura di surakarta

wuadhuh,
satu sura kali ini di bantul malah ada lindhu , alias “bumi gonjang-ganjing” yang mencari kestabilan baru. dan cilakanya, malemnya aku turu… sehingga tidak ambil bagian dalam pengeramatan malam itu.

konon, ini miturut mircea eliade, setiap manusia religius itu memperlakukan waktu sebagai sesuatu yang tidak homogen. ada waktu-waktu yang lebih istimewa dari lainnya: “permulaan”, “pengakhiran”, “pertengahan” adalah 3 dari waktu-waktu yang istimewa itu, sedangkan yang di luarnya adalah dianggap sebagai waktu-waktu biasa.

bagi yang menganggap bahwa pergerakan waktu itu linear maka dikenal adanya istilah purwa, madya, wasana. ada awal dan akhir. ada penciptaan dan ada kiamat. ada alfa dan omega.

lha bagi yang menganggap bahwa pergerakan waktu itu sirkuler, maka dikenal istilah ‘kembali ke asal-usul’ ada inkarnasi, ada “ewige wieder kehr…” atau perputaran yang abadi, ada pusat yang dikitari oleh pinggiran. ada aura yang memancar dari pusat ke pinggiran.

jadi,
bisa dibayangkan bila orang jawa yang mewarisi tradisi waktu sirkuler dari hindu-budha itu kemudian harus masuk ke tradisi waktu linear yang dibawa islam, musti dilakukan semacam adjustments. pola yang menjadi komprominya adalah semacam spiral, yang meski berputar tapi sekaligus bergerak meningkatkan mutu. sehingga ketika putarannya menjelang sampai pada titik semula, ia tidak kembali ke ‘asal-usul’ tapi sudah lebih tinggi dari itu.

persoalannya adalah, ketika kita hampir berada pada titik nol itu, ketika kalender hendak kembali ke tanggal satu lagi, ada ketegangan luar biasa: “apakah aku kembali ke nol, ataukah aku sudah lebih bermutu dari terdahulu?”

oleh sebab itu orang jawa melakukan tradisi ngubengi tempat suci.
dalam masyarakat jawa pedalaman yang sinkretis seperti di sala dan yogya ini, kraton diperlakukan sebagai tempat suci tadi.

di kraton surakarta mereka mengitarinya sambil membawa regalia dan simbol-simbol asal-usul [sebagai kraton agraris, pusaka-pusaka utama kraton ini adalah yang berkenaan dengan pertanian: kerbau, mata bajak, arit dsb. bukan senjata-senjata pembunuh, macem keris dan tombak, yang beru kemudian muncul].
pergerakan prosesi ini selalu melewati 9 perempatan sebagai simbol ditutupnya 9 lubang dalam tubuh ketika kita hendak menjalani meditasi.

pada momen ini kita menutup dan sekaligus membuka, dalam suasana meditatif. ini adalah momen yang genting [krusial] karena memuat sekaligus antara berhenti dan bergerak, tertutup dan terbuka, di dalam dan di luar…

dalam suasana segenting itulah, kita melakukan meditasi dalam tindakan. dan orang jawa dalam melakukan meditasinya- bila harus duduk atau berdiri- dikerjakan dengan mata setengah tertutup, tidak terpejam sama sekali, sambil memandangi ujung hidung. jadi, tetap terjaga.
ini mengingatkan pesan orang tua-orang tua dulu: berjaga-jagalah, jangan tidur pada tengah malam satu sura! [lha ning aku kebacut je..]

momen genting itu disengker, dikhususkan, dibedakan dari momen atau waktu yang lainnya. sebenarnya tidak begitu persis sama pengertiannya dengan ‘disakralkan’ karena istilah sakralisasi itu memuat pengertian perubahan substansial, sedangkan yang dimaksud orang jawa dengan disengker itu bukan perubahan substansial yang sedemikian. mungkin ini khas alam tropik ya yang tidak mengenal pembedaan secara tegas… di sini kita menghayati hibriditas, both-and, bukan either-or.

dalam situasi hibrid inilah orang jawa menjadi jawanya yang sejati.
tidak heran bila dalam pertunjukan wayang kulit, di saat seperti itulah tokoh-tokoh asli jawa yang riang gembira itu bermunculan dalam berbagai perwujudan: semar, gareng, petruk atau siapalah… dalam gejolak alam yang dikatakan sebagai ‘bumi gonjang-ganjing’.

malam satu sura adalah momen peralihan. saat penuh ketegangan. tapi justru adalah juga saat panggilan untuk menjadi diri sendiri…

5 Comments on malem satu sura di surakarta

  1. David Hutama
    February 9, 2007 at 7:57 am

    Kadang membaca tulisan seperti ini mengingatkan saya pada presentasi prof Gunawan Tjahjono di Bangkok Desember lalu tentang pusat kebudayaan Cina di TMII. Mungkin tidak terlalu berhubungan dengan topik (boleh kan?:P), tetapi rasanya masih berkaitan.

    Tentang batas-batas budaya.

    Apakah bila kita menggunakan istilah “orang Jawa” (secara demografis) didalamnya juga terkandung “orang Jawa” (secara antropologis)? Seperti saat ini orang keturunan tionghoa setelah masa Gusdur seakan mengalami euforia kebudayaan. Orang Tionghoa di Indonesia malah menciptakan satu ilusi kebudayaan tentang kebudayaan nya sendiri. Pakaian-pakaian Cina, Gaya rambut, pemilihan model berwajah Cina, Rumah-Rumah, dan puncaknya diresmikannya Pusat Kebudayaan Cina (kalo gak salah) di TMII yang lengkap dengan minaret, taman, dan parit ala taman kerajaan di tiongkok sana. Mengapa ilusi? karena orang tionghoa indonesia tidak mempunyai kebudayaan seperti itu dan berbeda (walaupun sejak masa gusdur tadi jadi ada kecenderungan INGIN SEPERTI itu).

    kembali ke orang Jawa. walaupun tentu prosesnya berbeda, tetapi yang masih bergolak dipikiran saya, apakah batas-batas dan nilai-nilai orang Jawa juga mengalami fenomena seperti itu?

    apakah perayaan-perayaan ini hanya berhenti sebagai satu nilai simbolik saja? atau bahkan bergeser masuk ke ranah ‘pop culture’terutama bagi para generasi muda? ….

    trims buat ‘ruang’ ngedumelnya 😛

    david

  2. fanzhijie
    January 15, 2008 at 10:47 pm

    wow gold
    wow gold
    wow power leveling
    wow power leveling
    wow gold@@@@
    World of Warcraft Gold
    wow power leveling
    wow power leveling
    wow power leveling
    wow power leveling
    wow power leveling
    wow power leveling
    wow power leveling
    wow power leveling
    wow power leveling
    wow powerleveling
    wow powerleveling
    wow powerleveling
    rolex replica
    wow powerleveling
    wow powerleveling
    wow powerleveling
    wow powerleveling
    wow powerleveling
    wow powerleveling
    wow powerleveling
    wow powerleveling
    replica rolex
    powerleveling
    powerleveling
    powerleveling
    powerleveling
    power leveling
    power leveling
    powerleveling
    powerleveling
    power leveling
    power leveling
    power leveling
    power leveling
    power leveling
    power leveling
    power leveling
    power leveling
    rolex
    wow gold
    wow gold
    Warcraft Gold
    Warcraft Gold

    中高年 転職
    アルバイト 求人情報
    ブライダル
    転職
    競馬
    FX
    ダイエット
    お見合い
    競馬 予想
    新築マンション
    新築マンション
    コンタクトレンズ
    婚約指輪
    合宿免許
    人材派遣
    東京都 墓地
    派遣会社
    人材派遣
    パチンコ 攻略
    おなら

    货架
    OCR
    OCR
    手机词典
    高速扫描
    机票
    灭蟑螂
    蜗轮减速机
    减速机
    齿轮减速机
    丝杆升降机
    租房
    租房
    北京租房
    北京租房
    搬家公司
    北京搬家
    北京搬家公司
    上海机票
    上海机票
    上海打折机票
    上海打折机票
    上海特价机票
    上海特价机票
    搬家公司
    搬家公司
    北京搬家公司
    北京搬家公司

    dfdfgfhfgjg

  3. February 26, 2008 at 2:32 am

    World Of Warcraft gold for cheap
    wow power leveling,
    wow gold,
    wow gold,
    wow power leveling,
    wow power leveling,
    world of warcraft power leveling,
    wow power leveling,
    cheap wow gold,
    cheap wow gold,
    maternity clothes,
    wedding dresses,
    jewelry store,
    wow gold,
    world of warcraft power leveling
    World Of Warcraft gold,
    ffxi gil,
    wow account,
    world of warcraft power leveling,
    buy wow gold,
    wow gold,
    Cheap WoW Gold,
    wow gold,
    Cheap WoW Gold,
    wow power leveling
    world of warcraft gold,
    wow gold,
    evening gowns,
    wedding gowns,
    prom gowns,
    bridal gowns,
    oil purifier,
    wedding dresses,
    World Of Warcraft gold
    wow gold,
    wow gold,
    wow gold,
    wow gold,
    wow power level,
    wow power level,
    wow power level,
    wow power level,
    wow gold,
    wow gold,
    wow gold,
    wow po,
    wow or,
    wow po,
    world of warcraft gold,
    cheap world of warcraft gold,
    warcraft gold,
    world of warcraft gold,
    cheap world of warcraft gold,
    warcraft gold,buy cheap World Of Warcraft gold
    Maple Story mesos,
    MapleStory mesos,
    ms mesos,
    mesos,
    SilkRoad Gold,
    SRO Gold,
    SilkRoad Online Gold,
    eq2 plat,
    eq2 gold,
    eq2 Platinum,
    EverQuest 2 Platinum,
    EverQuest 2 gold,
    EverQuest 2 plat,
    lotro gold,
    lotr gold,
    Lord of the Rings online Gold,
    wow powerleveling,
    wow powerleveling,
    wow powerleveling,
    wow powerleveling,world of warcraft power leveling
    ffxi gil,ffxi gil,ffxi gil,ffxi gil,final fantasy xi gil,final fantasy xi gil,final fantasy xi gil,final fantasy xi gil,world of warcraft gold,cheap world of warcraft gold,warcraft gold,world of warcraft gold,cheap world of warcraft gold,warcraft gold,guildwars gold,guildwars gold,guild wars gold,guild wars gold,lotro gold,lotro gold,lotr gold,lotr gold,maplestory mesos,maplestory mesos,maplestory mesos,maplestory mesos, maple story mesos,maple story mesos,maple story mesos,maple story mesos,
    i3n6h7hy

  4. CHADOR
    May 10, 2008 at 5:42 am

    Kadang aku pikir maslah sperti ini manjadi semacam “penjajahan” model baru.
    Aku juga punya kasus yang sama di tempat asalku di Ruteng-Flores, tetapi bukan dengan kebudayaan China, melainkan dengan Gereja. Aku merasa agak risih di tempatku sekarang berdiri patung-patung orang kudus di hampir semua sudut kota dan jalan utama. Bangunan Gereja yang “Roma style” pun berdiri dengan angkuhnya. Dibandingkan dengan 10 tahun lalu, dimana Rumah adat (tradisional) masih menjadi landmark kota dan dapat ditemui di setiap kampung-kampung kecil (seperti kelurahan). Di setiap sudut kota terdapat semacam altar persembahan yang terbuat dari batu alam dengan ukuran yang cukup besar.
    Sekarang semuanya sudah hampir hilang dan digantikan dengan patung dalam ukuran yang besar. Suasana kotaku sekarang sudah berubah, sudah tidak ada lagi nuansa bangunan tradisional dan altar-altar kuno.

    Benarkah ini namanya Inkulturasi Gereja? atau modernisasi? atau sekedar mau menyadarkan kehidupan agama masyarakat dengan patung dan bangunan-bangunan megah? Atau mau pamer kekayaan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *