prosesi pusaka

saya menulis  ini  setelah bangun  dari istirahat karena semalam ikut prosesi kirab pusaka di istana mangkunagaran surakarta. saya datang bersama adik karena diundang untuk mendampingi pusaka nomor 2

[entah diberi nama apa pusaka ini. demikianlah keheranan saya: pusaka kok tidak diberi nama dengan kyai sebagaimana selama ini saya kenal, tapi dengan  nomor].

pusaka  dalam  tradisi mangkunagaran  umumnya  adalah alat-alat bela  diri yang berupa persenjataan. tapi  tadi malam ada  juga  baju peninggalan pendiri wangsa mangkunagaran ini [mangkunagara I atau sering disebut sebagai pangeran samber nyawa]. artinya, konsep pusaka itu bisa luwes. karenanya maka bentuknya pun bisa berupa bermacam-macam benda. bisa alat pertanian [demikian yang berlaku di karaton surakarta yang bahkan menghadirkan sekeluarga kerbau di samping alat pertanian], bisa alat pertahanan [tombak, keris, pedang dsb.], bisa pula bangunan [misalnya masjid demak, atau makam imagiri]…

apa pun bentuknya, pusaka itu selalu berupa benda yang didapat karena mewarisi dari orang tua atau yang didapat dari nenek moyang. karenanya maka yang memilikinya berarti dianggap mendapatkan restu dari nenek moyang. dalam masyarakat  pertanian, gagasan untuk memiliki pusaka ini hidup menyertai gagasan tentang kontinuitas kelangsungan hidup suatu wangsa atau keluarga. suatu wangsa sebaiknya bisa beranak-pinak makin banyak dan hidup terus selama mungkin. dalam ingatan dengan atau tanpa bantuan alat-alat pengingat yang disebut pusaka tadi.

saya menulis ini sambil mengingat, seorang nenek di fatumnasi yang wafatnya menyiptakan arakan panjang orang-orang sedesa yang melayatnya. berkelompok-kelompok mereka melayat orang tua papa yang tidak bisa meninggalkan apa-apa ini. di jenazahnya, berlembar-lembar  kain tenun adat dipersembahkan orang-orang sedesa baginya,  juga  bagi anak-cucu yang ditinggalkannya.  bagi keluarga ini gagasan tentang  pusaka  tentu berbeda  dari orang pedalaman jawa yang semalam mengarak pusakanya di hadapan ribuan orang yang menyemut berdiri di kiri-kanan yalan yang dilewati.

5 Comments on prosesi pusaka

  1. monang
    December 30, 2008 at 8:37 pm

    Pak Anto, nampaknya memang ‘pusaka’ sangat terkait akan kepercayaan orang (atau pemiliknya) akan suatu kemampuan yang dimilikinya..’pusaka’ bagi seseorang belum tentu ‘pusaka’ bagi lainnya, karena kepercayaan yang dimiliki pada sebuah benda yang sama bisa jadi berbeda…salam

  2. anto
    December 30, 2008 at 10:50 pm

    ok pak monang.
    berhadapan dengan batas umur itu menerbitkan pertanyaan mengenai apa yang akan ditinggalkan?
    apakah pertanyaan mengenai pusaka ini khas orang pedalaman? khas orang yang sudah menetap yang membutuhkan kepastian mengenai kelangsungan keturunannya? apakah orang-orang yang sepanjang hidupnya berada dalam pergerakan [nelayan, misalnya] juga punya konsep mengenai pusaka ini?
    entahlah…

  3. Roos
    December 30, 2008 at 11:40 pm

    Pusaka No.2 bentuknya keris atau apa Om?…Penasaran nih….

  4. daniel
    January 5, 2009 at 2:07 pm

    mas,
    pusaka sendiri itu artinya apa yah?

  5. anto
    January 5, 2009 at 2:23 pm

    pusaka itu ‘warisan’ yang dihormati.
    tidak semua warisan yang kita dapat dari orang sebelum kita itu kita hormati, nah yang kita anggap pantas dihormati itulah kita sebut ‘pusaka’.
    karenanya maka gagasan pusaka itu sendiri sudah ideologis: dia terpilih oleh suatu kriteria ideologis tertentu untuk disebut ‘pantas dihormati’. pusaka bagi satu orang bisa ‘bukan pusaka’ bagi orang lain.
    prosesi di mangkunagaran itu terjadi karena senjata-senjata itu dianggap pantas dihormati oleh keluarga tersebut. bagi orang lain mungkin cuma sekadar alat-alat pembunuh, tapi buat keluarga besar mangkunagaran, itu adalah lambang kehormatan ketika wangsa/bangsa/keluarga itu diawali/ditegakkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *