lopo

di fatumnasi hanya satu lopo yang saya jumpai. didirikan di tepi jalan dan sekarang difungsikan sebagai halte angkot. karena fungsi itu maka peninggian lantai tidak dilakukan untuk memudahkan pergerakan orang dari dan ke angkot-lopo

lopo adalah salah satu tipe bangunan khas timor. hanya karena struktur semi publik ini terbuka tanpa dinding, maka di daerah yang sedingin fatumnasi tidak banyak struktur ini dijumpai. dan di hari itu, seharian tidak ada satu pun orang terlihat berkerumun di lopo. agaknya, struktur ini memang tidak populer untuk nongkrong masyarakat desa di sana. beda dari daerah-daerah timor lain [di kefa, misalnya] yang lebih hangat. di fatumnasi, tipe bangunan yang mudah dijumpai adalah rumah bulat [umekbubu] itu.

struktur lopo ini adalah tipikal bale yang populer di kawasan nusantara: hanya punya atap dan tiang-tiang penyangga. dan sama seperti geometri dari umekbubu, lopo berdenah lingkaran dan bisa diakses dari semua arah. karena bersifat lebih publik katimbang ume, maka atap alang-alang itu tidak turun hingga menyentuh tanah, seperti halnya yang terjadi pada ume. atap alang-alang untuk lopo dibuat dengan ketinggian orang dewasa.

lalu, di mana orang-orang bergerombol, berhimpun, saling bertemu? di rumah-rumah. oleh sebab itu, desa ini tidak bisa terlalu besar. berkelompok-kelompok mereka tinggal. bila akan berkumpul maka mereka berkumpul dari rumah ke rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *