kepahitan majapahit di tahun 2009

wilwatikta atau majapahit [wilwa=buah maja, tikta=rasa pahit] itu negeri kenangan. kenangan yang selalu pahit. dikenang karena keadaan masa sekarang yang lebih pahit dibanding dengan angan-angan atau kenangan yang mampu kita bayangkan.
majapahit dikenang oleh orang-orang indonesia yang memimpikan hadirnya [lagi?] negara besar yang menyatukan banyak bangsa di nusantara. sudah banyak politisi berkepentingan dengannya.
tidak hanya ketika diserbu oleh tentara pesisir, namun juga selama berabad sesudahnya pemerintah membiarkan tanah trawulan digali dan dihancurkan bata-bata merahnya untuk pembangunan.
tapi,
pemberitaan kompas minggu, 04 januari 2009 dan lalu hingga hari ini sungguh-sungguh menghentak. ternyata, tidak hanya rakyat biasa yang sudah berabad-abad lamanya menghancurkan situs berharga ibu kota majapahit itu namun juga pemerintah sendiri ikut menyumbang kehancurannya dengan membangun suatu struktur baru tepat di atasnya.
adakah kebutuhan untuk membangun pusat informasi majapahit [PIM] tadi?

di awal abad XX, arsitek henri maclaine pont dan oudheidige vereeniging majapahit yang disponsori para pengusaha pabrik gula melakukan studi di kawasan ibu kota itu untuk mengenali sistem pengairan yang pernah dikerjakan orang jawa dulu. hasilnya selain untuk membiayai penelitian arkeologis juga untuk kepentingan dagang pabrik gula tsb.
sekarang,
situs itu juga digunakan untuk kepentingan lain. dihancurkan untuk pembangunan yang harus selesai sebelum pemilu 2009. pemilu dijadikan tonggak selesainya pembangunan proyek mercu suar pemerintah sekarang ini.
mau digunakan untuk pamer keberhasilan pemerintah sekarang?

ah… dari dulu hingga kini, artifak ini selalu jadi rebutan para politisi. sementara, arsitek cuma jadi bulan-bulanan dan dikambing hitamkan!

9 Comments on kepahitan majapahit di tahun 2009

  1. monang
    January 7, 2009 at 11:07 am

    menyedihkan pak, tidak hanya peninggalan fisik yang musnah dan tidak dapat dipertahankan atau diwariskan..tetapi juga nilai-nilai luhur, norma-norma, kearifan, kebijaksanaan, kepedulian, gotong-royong..semuanya memudar. salam

  2. eky
    January 10, 2009 at 6:07 pm

    ssst . . . . ada senior saya yg terlibat.

    memang itu proyek ‘multiguna’ :
    – cari rejeki pribadi
    – cari dana kampanye (dari donatur)
    – cari simpati massa
    – rehabilitasi peninggalan sejarah

    yg terakhir tsb sekedar efek samping, yg malah hasilnya berkebalikan . . . . .

  3. anto
    January 12, 2009 at 5:37 pm

    demikian pula senior saya pun ada yang terlibat di situ.
    ya biarin.
    kita jadiin kasus aja bagaimana suatu institusi profesi terlibat dalam jaringan kekuasaan.
    yang jelas,
    KOMPAS dengan bagus melontarkan kasus ini menjadi kasus publik, dan berhasil. yang semula cuma grenengan sementara pihak [karena gak berani terang-terangan melawan proyeknya penguasa sekarang dari negeri ini], oleh KOMPAS disuarakan keras-keras dan jelas-jelas [lihat foto-foto ketika pondasi bangunan baru itu sedang ‘berdampingan’ dengan batu-bata berumur ratusan tahun dari majapahit].
    keren sekali peran media dalam mengubah dan menonjolkan peristiwa.

  4. daNang
    January 13, 2009 at 9:30 am

    Mas Anto, rekan senior kita juga terlibat di proyek ini lho! Mas Baskoro Tedjo, kalau gak salah membawa nama ITB………saat ini sedang rame kayaknya, karena beliau tidak mendisain master plannya, hanya bangunannya…

    Ada baiknya kalau mendisain masterplan seperti ini harus arsitek yang mempunyai indera keenam biar energi nya cocok dengan situs ini…he..he..just comment

  5. anto
    January 13, 2009 at 9:46 am

    iya,
    saya juga sudah kontak sama beliau.
    saya nggak tahu gimana riwayatnya. tapi kok ya nekad dijalani itu loh…
    he..he..he..
    di bayangan saya, situs beginian kan dibiarin aja terbuka tidak usah dibuatkan bangunan. bikin bangunan untuk menyimpan artifak sih boleh, tapi di luar sana. di tempat yang aman dari berbagai simpanan artifak yang belum tergali itu…tapi, proses sekian abad ‘pembiaran’ atau ‘penelantaran’ situs itu oleh masyarakat dan pemerintah memerlihatkan kita pun tidak punya mentalitas untuk menyimpan barang bukti sejarah. benda-benda itu kita anggap BUKAN bagian dari identitas kita.

  6. Benny P.
    January 16, 2009 at 9:15 am

    Mas Mahatmanto yang baik,
    Dalam masalah pembangunan PIM (Pusat Informasi Majapahit), kadang-kadang orang hanya mendapat info sepotong-sepotong, kemudian bluaaar….. kecam sana kecam sini, ha, ha, ha….. ternyata masalahnya tidaklah sesederhana itu. Saya mencoba cari info dari beberapa orang yang terlibat dalam proses pembangunan ini. Kesimpulan sementara saya adalah sbb: Sama dengan berbagai disiplin ilmu lain, arkeologipun ternyata ada berbagai mahzab aliran. Ada aliran konsertatif yang melarang pembangunan baru di dalam situs kuno yang ada. Tapi ada aliran semacam ‘infill design’, yang membangun bangunan baru di dalam site kuno yang ada. Aliran kedua ini tentu saja mengandung resiko rusaknya situs kuno. Tapi aliran ini berpendapat bahwa penggalian itu sendiri sebenarnya juga sudah merusak situs! Itulah sebabnya pada waktu penggalian dimulai harus dilakukan pendokumentasian sesuai dengan standart penggalian arkeologi. Sedang desain gedungnya dibuat sedemikian rupa sehingga dari gedung bisa dilihat bekas-bekas penggalian (dengan lantai kaca tembus pandang dsb.nya). Rupanya dalam diskusi pembangunan gedung tersebut cara kedua yang disetujui. Dengan resiko kehati-hatian yang dipakai, tapi ternyata baru dimulai sudah bluaar……………. ha, ha, ha, ha……….

  7. anto
    January 16, 2009 at 10:05 am

    inggih pak benny,
    terima kasih atas infonya.
    “perang mazhab” ini belum ada yang menengahi.
    wartawan kompas berpihak di satu sisi, sedangkan pembangun pembangunan PIM berpihak di sisi satunya.
    [begitu ya?]
    bukankah ini juga menggemakan lagi ribut-ribut jaman berlage di tahun 1923-an dulu itu ketika hendak menangani prambanan?
    tanggapan pak benny berharga karena membantu mendudukkan ribut-ribut ini, yang sampai saat ini terlalu didominasi oleh wacana yang dibentuk oleh wartawan kompas. lha temen-teman arkeolog saya yang saya hubungi, kebetulan, kok ya yang berpihak di wacana dominan itu…he..he..he..
    sehingga saya ikut-ikutan memperbesar letusan itu…
    bluaaaar…!

  8. eko magelang
    January 21, 2009 at 11:31 am

    berita terakhir proyek itu dihentikan….. semoga demikian, kalau harus diteruskan bisa direlokasi ke tempat yang lebih aman ya pak ?

  9. anto
    January 21, 2009 at 1:51 pm

    betul.
    menurut keputusan pak mentri, proyek dihentikan dan akan dipindah.
    tapi gak tahu kelanjutannya.

    untuk tahu lebih lanjut nasib proyek itu dan proses perancangan sebelumnya silakan hadir dalam DISKUSI NASIONAL PUSAT INFORMASI MAJAPAHIT bersama arsitek DR. ir. BASKORO TEDJO di PROGRAM MAGISTER TEKNIK ARSITEKTUR UNDIP, jl. hayam wuruk 5, semarang.
    tanggal 26 januari 2009 [pas IMLEK!], pukul 10.00 – 12.00.
    acara ini juga didukung oleh IAI JATENG.
    untuk para arsitek, acara ini punya KUM sebesar 4.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *