ketakutan di tanah kering

majapahit konon sudah menyebut batas-batas kontrol negaranya hingga jauh ke kepulauan di timur.  dan nagarakretagama juga menyebutkan bahwa majapahit melakukan hubungan perdagangan dengan penduduk pulau di ujung timur kekuasaan kontrolnya itu.

konon -demikian mengikuti david boyce yang menulis tentang sejarah dan kebudayaan timor-, dari istilah “timur” itulah pulau itu mendapatkan namanya: timor. jadi, nama timor bukan berasal dari bahasa latin timore, yang berarti takut, tapi berasal dari posisinya yang berada di ujung timur kontrol negara majapahit.

penduduknya sendiri menyebutnya sebagai tanah kering, atau dalam bahasa setempat –dawan– disebut pah meto. nama yang lebih otentik karena langsung menunjuk pada keadaan fisik yang  tergelar di depan mata.

tapi, meski pun disebut sebagai tanah kering, negarakretagama menyebut pulau ini sebagai penghasil kayu cendana. bahkan inspektur perdagangan kekaisaran cina chau ju kua mencatat bahwa pulau ini “berbukit-bukit dan semuanya diliputi oleh hutan lebat yang penuh oleh kayu cendana”.

tapi kayu cendana timor sudah langka di akhir tahun 2008.  tidak mudah lagi melihatnya. tidak terbayangkan bahwa pernah ada orang menulis pulau itu sebagai diliputi oleh hutan kayu cendana. menurut cerita beberapa orang tua di fatumnasi, dulu banyak memang kayu itu tapi kemudian banyak ditebang dan dijual keluar pulau.

tanah kering yang menghasilkan kapur pualam itu pun mempertontonkan industri baru yang lagi marak: marmer! bukit-bukit diledakkan dan digerogoti, digergaji menjadi lempengan-lempengan marmer untuk dijual keluar pulau.

di desa terpencil itu orang-orang desa tidak merasa takut. karena mereka sudah tidak punya daya untuk melawan usaha orang-orang yang akan mengubah tanah kering mereka menjadi komoditas untuk dijual keluar. justru mungkin hanya orang-orang luar seperti saya inilah yang merasa takut, bahwa kelak pulau di ujung timur negeri ini pun akan tergadaikan seperti petani di jawa yang sudah terusir dari tanah-tanah milik mereka sendiri.

saya jadi teringat syair lagu leo kristi yang melihat pesta panen tebu:

“…roda lori berputar-putar,
siang-malam…
tapi bukan kami punya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *