kupanggili namanya…[tapi dia gak denger]

kupanggili dia, micky, ketika hendak menyeberang jalan di kuanino, kupang. tapi dia tidak mendengar. bukan salah dia, tapi lantaran saya memanggilinya dari angkot atau kendaraan umum yang membunyikan musik keras-keras… berdentam-dentam sehingga melarutkan panggilanku ke arah dia.

di kupang, juga di alor dan di sumba, semua angkot [nama setempat: otobemo atau bemo kota untuk membedakan dengan otobis yang melayani trayek antar kota] ketika beroperasi selalu membunyikan musik sangat keras [bagi ukuran saya]. musiknya pun tergolong musik ritmik yang dicipta tidak untuk mengiringi larik-larik puitis liriknya, tapi melulu untuk menghadirkan irama kencang serba tegesa-gesa. bunyi klaksonnya pun bermacam-macam jenisnya…

di sini, bila ada angkot tidak membunyikan musik keras seperti itu tidak akan laku. tidak ada penumpang mau ikut.

saya mengerti itu. saya mengerti bagaimana proses berjalan, bagi orang di kupang [juga di tempat-tempat lain di nusa tenggara timur], ternyata penuh warna suara. semarak. jalan adalah lokasi perjumpaan sehingga tiap ada kesempatan berjumpa, maka peristiwa itu harus dirayakan.

di sepanjang jalan, kaset [atau CD] itu diputar tanpa henti. menyusuri jalur-jalur sirkulasi kota, tiap-tiap hari…

7 Comments on kupanggili namanya…[tapi dia gak denger]

  1. eky
    January 14, 2009 at 11:54 pm

    ” musiknya pun tergolong musik ritmik yang dicipta tidak untuk mengiringi larik-larik puitis liriknya, tapi melulu untuk menghadirkan irama kencang serba tegesa-gesa ”
    –> Jenis musik apa ini, Mo ? Apa jenis tetabuhan-omah alias house-music ?

    BTW, tanpa kaset atau CD, Bajaj (di Jkt) sudah penuh warna suara, lho.

    Tabik, Mo

  2. anto
    January 15, 2009 at 1:35 pm

    embuh,
    namanya musik apa.
    tapi ini bisa dibandingkan dengan musik yang dimainkan anak-anak muda dalam mobil sedan mereka ketika mereka lalu lalang di jalanan yogya. cah sugih ning ndesit kuwi!
    jedhug..
    jedhug..
    jedhug..
    [persis bakul kaset lewat]

  3. marthen
    January 15, 2009 at 2:56 pm

    salah stau ciri “oto bemo” di Kupang dan kota-kota lain di NTT ialah musiknya…

    lagu-lagu yang diputar lewat CD, kaset bisa saja lagu-lagu lama yang diputar kembali atau lagu baru yang sedang populer.. ada satu ciri umum yang bisa kita dengar, yaitu semua lagu diputar dengan volume penuh, full trible dan full bass….:) dengan demikian bisa lebih seperti house-music…. liriknya tidak terlalu jelas dari kejauhan tetapi getaran yang dipantulkan cukup terasa…. Buat yang jantungan, mungkin tidak akan terlalu nyaman bepergian dengan “oto bemo”….

    kursi paling depan disamping sopir jarang kosong… selain karena itu posisi favorit buat penumpang yang mau “pasiar”, dua tempat di depan juga sering diisi oleh teman si sopir… Kalau mereka itu teman si sopir maka mereka sering menjadi teman ngobrol sopir, sering mengikuti lirik dan irama lagu yang dimainkan…mereka juga berperan seperti “DJ” yang menentukan musik apa yang perlu diputar atau kapan harus menggantinya…

    Penumpang pada umumnya tidak keberatan dengan volume musik yang terlalu keras, … kalau ada satu dua penumpang yang merasa terganggu dan meminta mengecilkan volume… ini biasanya dari ibu-ibu…. sopir atau temannya di deretan depan akan merespon permintaan penumpang dengan cepat…

    Kalu ada penumpang yang tidak menyukai lagu yang dimainkan dan meminta sopir untuk menggantinya…biasanya sopir tidak perlu meminta persetujuan penumpang lain untuk mengganti musiknya… ia akan langsung merespon dengan mencari lagu yang diminta…kalau memang tersedia…

    istilah “oto bemo” sendiri sering hanya disingkat dengan “bemo” kota….

  4. anto
    January 16, 2009 at 7:16 am

    terima kasih marthen,
    untuk sodara-sodara yang laen. marthen ini adalah orang timor, tepatnya soE.
    komentar dia lebih bisa dipercaya dari pada tulisan saya…
    ha..ha..ha..

  5. tomi
    January 16, 2009 at 9:31 am

    Emang bener seh itu.

    Mungkin tidak hanya di daerah timor saja, karena kmrn ketika saya tugas d daerah kalimantan, tepatnya d daerah samarinda dan tenggarong.
    Angkot-angkot d sana juga memutar music dengan volume keras-keras, dengan irama musicnya wong ndesit (kata p’anto), wuakakaka .. .
    Saya sendiri sebenarnya tidak begitu paham benar maksud dari semua itu, mgkin benar juga untuk sekedar menarik penumpang.

    Tapi kalo menurut saya pribadi akan merasa tidak nyaman dengan kondisi itu dalam angkot yg se imut itu dan volume music yang jedhag jedhug jedhag jedhug .. . jeb ajeb .. . ajeb ajeb .. .

    Dan mungkin satu hal lagi yang perlu d ketahui bahwa angkot d daerah samarinda dan sekitarnya biasa d panggil dengan panggilan taxi.
    Sementara untuk taxi, mereka biasa menambahi dengan kata bandara dibelakangnya.
    Jadi jgn heran kalau dsana orang tiap hari naik taxi, hehehehe .. .

  6. anto
    January 16, 2009 at 9:42 am

    yang saya sebut ‘wong ndesit‘ itu adalah anak-anak muda yogya yang mobilnya jedhag-jedhug itu loh…
    jadi, bukan orang-orang timor, alor, sumba atau samarinda ituh…he..he..he..
    trims mas tomi atas tambahannya!

  7. monang
    January 16, 2009 at 8:20 pm

    Pak Anto, ini juga saya alami di kalimantan kala masih setia menggunakan angkot setiap hari (di kalimantan angkot disebut TAXI..hehehe) lagu yang kencang, dan didominasi musik dangdut memang akrab dengan kehidupan para driver yang biasa mangkal di terminal, setuju bahwa ini mungkin sesuai dengan kegiatan yang serba terburu-buru, atau justru agar waktu cepat berlalu, karena esoknya mereka akan melakukan kegiatan yang sama, dan menyusuri jalan (jalur) yang sama pula. salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *