tektonik atau simbolik?

buku gaudenz domenig ini sudah lama saya beli. saya membelinya untuk perpustakaan dan sekarang sedang di tangan untuk dibaca ulang: tektonik im primitiven dachbau. materialen und rekonstruktion zum phaenomen der auskragenden giebel an alten dachformen ostasiens, sudostasiens und ozeaniens. ein architecturtheorischer und bauethnologischer versuch. [huh…. panjang banget judulnya…]

ini buku penuh dengan gambar. dengan cara itulah saya mula-mula memahami isinya. berhubung keterbatasan saya dalam memahami bahasa jerman. menerka-nerka sambil sesekali melacak nama-nama yang sudah saya kenal di dalamnya.

rupanya, buku ini memang sedang menantang pendapat orang sebelumnya mengenai dari mana datangnya bentuk atap-atap rumah adat di nusantara. pendapat yang berkembang adalah bahwa atap-atap rumah nusantara itu merupakan lambang atau simbol dari perahu, tempat yang konon merupakan tempat tinggal orang-orang di daerah kepulauan seperti nusantara ini.

tapi, misalkan pun ada niat untuk melakukan simbolisasi, itu adalah datang belakangan. yang pertama -tentunya- adalah alasan keterbangunannya, alasan tektoniknya dahulu. orang-orang meributkan pemaknaan simbolik itu setelah secara tektonik terbangun atau terwujud.

selanjutnya, buku ini menggunakan berbagai sumber arkeologis [yang kemudian meluas ke kawasan yang berbahasa serumpun, yakni austronesia] untuk membuktikan hipotesisnya.

ini pandangan sejarah yang arsitek bener. maksud saya, ia menerangkan pemunculan suatu gejala arsitektural dari aspek tektoniknya. baru setelah itu aspek simbolik atau ideologisnya. menggunakan pakem atau ‘ayat-ayat suci’ untuk menerangkan gejala arsitektur itu hanya bener bila didukung oleh bukti tektoniknya.

bila demikian halnya maka perumitan ornamental yang terjadi pada bangunan-bangunan kemudian itu menandai saat kritis bahwa ada kemandegan di aspek bangun membangun. sehingga orang ‘melarikan diri’ ke ornamen.

1 Comment on tektonik atau simbolik?

  1. daniel
    January 29, 2009 at 2:52 pm

    akuur mas, memang untuk bangunan di nusantara atap merupakan kebutuhan utama. tempat berteduh dari hujan dan terik matahahari merupakan alasan utama mereka mendirikannya… kebetulan saya pernah kerja di hutan di daerah jambi dan saya lihat sendiri beberapa suku seperti talang mamak atau suku anak dalam ketika mereka mendirikan rumah-rumah mereka atap dan lantai panggung menjadi ciri yang sangat nyata terlihat, bahwa beberapa rumah tetua adat yang pernuh ornamen, memang bentuknya masih bisa dilacak dari bentuk asalnya (baca rumah vernacular), dan cuma embel-embel saja …
    dugaan saya hanya untuk membedakannya dari rumah kebanyanyakan….

    bagaimana mereka memeperlakukan material lewat berkompromi dengan keterbatasan fleksibilatas materialnya lah yang melahirkan keunikan bentuknya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *