design through making

 
barusan kami beli dua ‘buku’ baru dari seorang sales yang mampir ke kantor.
kedua buku ini mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai berkala, atau majalah, karena ini adalah edisi juli/agustus 2005 dari jurnal ARCHITECTURAL DESIGN yang sudah berwajah baru.

saya perlu membelinya untuk perpustakaan karena menurut saya buku ini menarik untuk pengajaran arsitektur di studio kita.
selama ini metoda perancangan yang kita pelajari terlalu intelektualistik dan kurang melibatkan tangan serta matanya. maksud saya, kurang melibatkan persentuhan langsung dengan bahan dan peralatan dan sibuk dengan gambar atau representasi [atau model] yang abstrak.
dengan buku ini diharap ada cara lain untuk mengajak kita menghayati dan membuat arsitektur.

buku satunya lagi berjudul “food + the city“. ini juga menarik karena menyingkap relasi antara ‘budaya makan’ [gastro-culture] dengan ruang-ruang kota. lha jebul kota-kota [kita juga] digerakkan oleh bakul-bakul makanan, entah yang tradisional sampai yang modern. entah yang manggrok sampai yang berkeliling, entah yang di pinggir kota, maupun di pusat kota. entah yang remang-remang, sampai yang terang benderang… merebaknya kafe-kafe, bar tempat minum, selain warung sega kucing, yang diintegrasikan dengan fasilitas hiburan dan kultural macam toko buku, galeri seni, banyak dijumpai di kota yogya.
okelah, kedua buku sudah ada di perpustakaan kita.

“dwellings” paul oliver

sekarang sedang memakai buku ini untuk kuliah ARSITEKTUR VERNAKULAR, matakuliah ‘penjelmaan’ PERKEMBANGAN ARSITEKTUR 2. buku ini salah satu saja dari beberapa buku lain yang berkisar pada pengenalan pada arsitektur vernakular.

saya mendengar tentang paul oliver dan disarankan membaca bukunya, oleh nold egenter. beliau ini saya kenang bersama alain viaro karena pandangannya yang berbeda dibanding para peneliti tentang arsitektur pra-industri. mereka memberi perhatian pada tektonika arsitektur itu, bukan pada simbolisasi ornamental sebagaimana menarik banyak rekan sejawat di indonesia.

mereka berdua telah menginspirasi bagi isi perkuliahan ARSITEKTUR VERNAKULAR ini.

design and nation-building

ini persoalan politis: bagaimana disain menyumbang pada kehidupan bersama dalam masyarakat atau bangsa. pertanyaan seperti ini memunyai jawab untuk masing-masing ideologi. dulu ketika kita menganut ideologi sosialis maka peran negara besar sekali dalam menentukan letak, ukuran, bentuk akhir dari karya seni. ketika ideologi di indonesia berganti ke kapitalisme militer, maka individu-individu kaya atau para jendral bersenjata menjadi aktor penentu dari wajah karya seni. sedmikian lemahnyakah posisi seniman dan disainer? tidak adakah otonomi dalam lapangan ini?

tulisan dari filipina ini tidak menjawab persoalan di atas, tapi memancingnya!

http://preservephilippineheritage.blogs.friendster.com/hcs/
2006/03/design_and_nati.html

1 177 178 179 180 181