tenda perjumpaan

dari sini,
kamu harus ke puhsarang

demikian rama dick hartoko berpesan ke saya, di ganjuran, tempat dimakamkan ibunya.
waktu itu saya diajak untuk nyekar ke makam di sebelah barat gereja ganjuran, bambanglipura, bantul.
adapun puhsarang, tempat yang jadi alamat agar saya ke sana itu, sama sekali belum pernah saya dengar. di kediri lagi. gak kebayang, bahwa di kediri ada gereja yang unik dan pantas dikunjungi.

saya diajak ke ganjuran karena beliau tahu saya meminati bagaimana kejawaan juga punya kontribusi yang berarti pada cara menjalankan ibadah kristen. kami sering ketemu setelah saya bermukim di yogya, di rumahnya di lereng merapi pakem sana atau di kantor majalah BASIS di kotabaru.

hampir sepuluh tahun kemudian terjadilah apa yang beliau pesankan itu. saya sampai ke puhsarang, untuk mempelajari arsitektur gereja karya arsitek henricus maclaine pont itu. lalu ingatan saya pun melaju terhubung ke pesan rama dick hartoko itu.

gereja ini sudah menjalankan inkulturasi, jauh sebelum konsili vatican kedua yang menganjurkannya dimulai. tahun 1936, ketika rama jan wolters CM melihat bangunan tempat maclaine pont mengumpulkan temuan-temuan arkeologis di bekas ibu kota majapahit trowulan. bangunan tempat penampungan itu mirip tenda, dibuat dari bambu dan gentingnya dianyam dengan kawas bekas kawa telepon.

rama jan wolters ingin maclaine pont membuat satu bangunan seperti itu persis, tapi untuk gereja di pos misi di puh sarang, kediri.
tenda, dalam bahasa latin adalah tabernaculum, taberne yang kelak melahirkan kata tabernakel, tempat disimpannya sakramen mahakudus. saya tidak tahu siapa yang memiliki inisiatif pertama untuk menghubungkan bentuk tenda dengan gereja ini. maclaine pont sendiri atau rama wolters?

tapi, singkatnya, gereja itu berdiri sejak 1936. menggunakan rangka kayu lapis -melanjutkan eksperimen sang arsitek di gedung aula ITB- dan genting yang dianyam memakai kabel-kabel dan batu-batu alam yang diambil dari sungai di bawahnya. gereja ini berdiri di puncak bukit. di perbatasan antara bumi dan langit. ia menjadi sumbu penghubung itu.

menurut pengakuan maclaine pont, gereja ini memang mengambil inspirasi dari lokalitasnya. batu, bata, genting, kayu… semuanya diambil dari bahan-bahan setempat. semua bahan itu diajak berpartisipasi dalam perjumpaan mistis bumi-langit. di dalam gedung gereja ini, segala bahan lokal dinaikkan statusnya menjadi rekan umat dalam mengalami perjumpaan mistis tadi.
kita masuk menyentuh air, melepas alas kaki, ndheprok di lantai batu, menatap altar batu bata berpahatkan kisah-kisah suci, mendongak ke atas ke cahaya ilahi yang menerangi temaramnya ‘tenda’ ini.

gereja ini bukanlah sekadar wadah tempat perjumpaan mistis mengambil tempat.. gereja ini adalah perjumpaan itu sendiri: bentuknya, bahan-bahannya, fungsinya semuanya memerankan tugas menjadi perjumpaan antara bumi-langit. yang dunia dan sorga berjumpa.

seorang peneliti biografi sang arsitek mencatat, sebelum maclaine pont punya sikap sangat positif terhadap warisan budaya jawa ini, ia dibaptis ulang sebagai seorang katolik, meninggalkan warisan berabad-abad keluarganya yang protestan. ia dibaptis di ganjuran!

bhumi

1Vq5X7W

dalam suatu kesempatan, seorang bhante membetulkan cara saya mengucapkan kata bumi.
beliau menyarankan agar kata itu diucapkan sebagai bhumi, dengan letupan di bagian awal: ‘bhu‘.
prabhu, bhupati, mengkubhumi, bhuminata, kabhumen, bhumija, bhusana, bhuta, dst. itu adalah kata-kata yang diturunkan dari ‘bhu’ tadi.

dalam kamus sanskerta indonesia susunan i made surada, lema bhu diterangkan sebagai: tanah, tempat, kediaman, pokok persoalan. tapi juga sebagai: menjadi, menimbulkan, menghidupkan, memperlihatkan, juga meninggalkan…

dalam bahasa sehari-hari kita di indonesia, bumi hanya kita pahami sebagian saja dari kekayaan pengertian yang terkandung di dalamnya: yakni hanya sebagai ‘tanah tempat kita berpijak di bawah langit’. tidak ada bekas-bekas pengertian ‘yang mendahului kita’, ‘asal dari segala yang ada’, ‘yang mengawali’ dan sebagainnya yang terlihat dari kata bumi tadi.

seringkali jejak-jejak pembentukan istilah itu tidak bisa dikenali, sehingga konsep atau ide yang bersemayam dalam kata-kata itu pun tidak lagi bisa secara penuh dibagi dalam komunikasi. kata-kata jadi sering tinggal bunyi-bunyian belaka, atau tinggal aksara yang memenuhi bidang tulisan kita saja.

kata bumi tadi jadi miskin karena hanya merujuk pada aspek visual dari bulatan dunia, tanpa isyarat bahwa bhumi adalah ibu kita semua. induk semua makhluk di bulatan bola dunia ini. seandainya kita masih merawat bahasa kita sendiri, yakni simbolisasi audial dan visual yang kita bikin untuk menamai relasi otentik kita dengan lingkungan kita sendiri, maka bhumi tidak akan menderita seperti sekarang ini. kita masih akan ngajeni.

apakah bhumi sedang menderita?
padahal, bukankah kita yang berasal darinya juga akan kembali padanya?

ya ampun, baru sadar aku!
aku akan kembali pada bhumi, ibhuku yang seperti aku sendiri: tua, rapuh dan menderita.

1 2 3 4 178