Posts Tagged ‘air’

air, api dan bulan

hari ini, menurut perhitungan, bulan sedang tampil dalam kemegahannya. bulan purnama, orang bilang.

sayangnya, purnama ini terjadi siang hari, ketika matahari lebih berkuasa dari pada bulan. sehingga peristiwa besar itu tidak terlihat oleh mata, tapi diyakini tengah berlangsung di luar sana. dibutuhkan kepercayaan bahwa sesuatu sedang berlangsung di luar sana, meski indera tidak bisa mencerapnya.

api dan air juga sering kali dilihat sebagai dua anasir yang selalu bermusuhan. dan istilah ‘bermusuhan’ di situ lalu dihubungkan dengan cara manusia bermusuhan dengan sesamanya. air bisa mematikan api, bila si api lebih kecil. dan air tidak akan berdaya bila apinya lebih berkuasa kobarannya.

perumpamaan ini dipungut dari dunia manusia, yang mengenal hubungan “yang kuat adalah yang menang”, meski hubungan itu dinamai sebagai ‘hukum rimba’, hukum yang ditolaknya sendiri, yang tidak manusiawi, katanya. tapi yang jelas, yang menemukan dan mengenali serta ingin menghindarinya adalah manusia sendiri.

air dan api bisa hadir bersamaan, malam itu, di malam jelang waicak 2006 ketika saya bersama teman-teman mahasiswa mengikutinya di candi mendut dan borobudur. air murni diambil dari umbul jumprit temanggung, sedangkan api murni yang keluar dari perut bumi diambil di mrapen purwadadi. kedua anasir pembersih ini selalu dihadirkan pada perayaan waicak.

paginya, ketika ada prosesi mengitari candi borobudur, air dan api dibawa dan memimpin pergerakan pantang mundur dari prosesi ini. masing-masing api dan air ada di tempatnya.

bila kita memberi tempat pada setiap kekuatan, bukankah itu cukup untuk menjaga keseimbangan? lain halnya kalau ada suatu kekuatan tidak diberi tempat, maka ia akan mengganggu ketertiban.

malam itu air dan api disemayamkan di tempat terhormat. dalam pancaran sinar bulan jelang purnama. dan paginya, air dan api dibawa bergerak, bahkan memimpin pergerakan orang-orang yang mendamba keseimbangan tatanan alam.

matahari terik bersinar, tapi kami semua yakin bahwa bulan sedang purnama. di sekitar air dan api yang diberi tempat sendiri-sendiri, kami belajar mengenai metta, perdamaian, tanpa dominasi…

semoga semua makhluk berbahagia.. sabbe satta bhavantu sukhitata

lebat

lebat, bisa dikenakan pada rambut. juga pada hujan.
mungkin karena ada kesamaan di antara keduanya. hujan bisa tercurah dalam bentuk berlarik-larik seperti rambut. hanya, bila kelebatan rambut tidak mengubah volumenya, maka kelebatan datangnya hujan bisa berarti tertampungnya sejumlah air yang terus-menerus bertambah volumenya.

dua hari ini hujan turun dengan lebat. meski pun siang ini kedatangan hujan tadi tidak lebat -tapi berintik-rintik merata- namun tetap saja akibat yang nampak sangat terasa. kepala dan rambut yang basah oleh rintik hujan, itu lebih berbahaya bagi orang tua seperti saya. bisa pusing dan masuk angin!

di mana-mana, di perumahan kami, air menggenang seperti sedang mengantre untuk mengalir ke selokan-selokan yang juga dengan susah payah penggelontorkan isinya. luar biasa. kelebatan hujan dua hari ini memengaruhi perilaku kebanyakan dari kami, penghuni perumahan pinggiran sawah ini.

jalanan berubah seolah batang sungai. padahal, kami tidak siap untuk bersepeda atau bersepeda motor di sungai… terkurunglah kami semua di rumah, dengan kecemasan dan bertanya-tanya siapa gerangan yang sudah menahan aliran air sebesar ini untuk mengalir di muara sana?

kota, perumahan dan bangunan-bangunan mustinya tidak mencegah-cegah kekuatan alam ini berlalu. tidak akan kuatlah kita. kepadatan perumahan, peresapan, haruslah membiarkan kekuatan alam ini bekerja. tanpa ditahan-tahan.

nasi dan air

nasi adalah salah satu makanan yang sangat rakus air.
sejak dari masa tanam, ia sudah butuh air berlimpah. juga nanti ketika dimasak pun ia butuh banyak air untuk menanaknya. nasi memang hanya cocok untuk makanan orang-orang yang tidak kekurangan air.
itu bila orang tidak ingin cari masalah.

tapi, makan adalah masalah budaya.
orang bisa mengubah gaya makan seseorang karena menemukan -lewat melihat atau juga mencoba merasakan sendiri- makanan dan cara makan dari tradisi yang lain. tradisi makan, demikian juga busana, bahasa, ketukangan, akan berubah bila menemukan tradisi lain yang lebih efektif dalam memudahkan hidup seseorang.
juga perubahan itu bisa terjadi karena masalah gaya tadi.
yang sering kedodoran adalah mengatasi konsekuensi bila tradisi satu dipindah ke tradisi lainnya.

orang makan nasi, mengandaikan di situ ada cukup air. tapi, entah mengapa, orang-orang di daerah kering pada masa kini sangat merindu nasi. sebagai ganti dari tradisi makan sagu, ketela atau jagung.
apakah karena ini adalah masalah gayatadi? [orang yang makan nasi, atau roti, itu adalah orang-orang yang lebih maju dari pada dirinya]. entahlah,

tapi akibat dari tidak dikelolanya konsekuensi dari pemindahan tradisi -makan- ini maka beban pengadaan nasi jadi makin berat. baik bagi masyarakat yang semula bukan bertradisi makan nasi, maupun bagi pengadaan di lingkup nasional. nasi lalu jadi permainan penguasa yang rakus kekuasaan.

air api penyucian

sebagai pengantar kuliah pagi tadi –setelah seminggu libur lebaran- saya mengajak rekan-rekan mahasiswa untuk merenungi air, api dan mudik.
ketika mahasiswa masuk ruangan yang sengaja saya gelapkan, sudah tersedia di sana lilin kecil berwadah alumunium mengapung di mangkuk berisi air.saya mengajak mereka duduk pengitarinya sambil mengobrolkan pengalaman seminggu liburan lebaran.

lebaran adalah momen yang dimiliki bangsa-bangsa lain juga. tidak hanya jawa.
namun, di jawa, lebaran dihubungkan dengan usaha saling memaafkan. saling meng-nol-kan perjalanan hidup. perjalanan hidup dianggap seperti perjalanan dari titik nol bergerak menjauh darinya. berangkat dari kesucian lalu berjalan semakin kotor, semakin kotor, sehingga usaha untuk kembali ke awal, ke tempat asal itu, dianggap sebagai menjalani proses penyucian.
fitri, fitrah, kembali ke keadaan ketika diciptakan yang bersih dan suci.

apa saja tindakan yang dilakukan orang sebagai perlambang dari proses penyucian ini?
orang jawa saling berbagi ketupat, yang kebetulan makanan ini bila dieja secara jawa jadi KUPAT yang mengasosiasikan ungkapan NGAKU LEPAT [mengaku salah].

mudik, istilah yang diambil dari dunia perairan, mengandaikan bahwa air di udik lebih bersih dari pada di hulu, muara. sehingga gunung –tempat di muka bumi yang tinggi- sering identik dengan udik, dan sekaligus dengan kebersihan atau kesucian karena air mengalir dari sana melalui aliran sungai untuk masuk ke muaranya di laut. “wong gunung” itu dihubungkan dengan “orang udik” sebagai lawan dari “orang kota” yang tinggal di “downtown” bawah.

kita tahu, bahwa tindakan pembersihan bisa disimbolkan dengan menghadirkan air. air adalah elemen alam yang mengandung di dalamnya makna universal pembersihan. mircea eliade memberi tahu kita hal ini. sekaligus, sumber air [bahasa latin: origo] juga mengasosiasikan ke gagasan tentang asal-usul yang bersih dan suci tadi.

paduan antara api dan air menghasilkan efek yang lebih kuat sebagai simbol penyucian. keduanya mengandung potensi pembersih. dalam arti itu maka bisa dipahami bila setiap hari waicak selalu ada acara mengambil api abadi dari mrapen, grobogan, dan mengambil air dari umbul jumprit, yakni suatu sumber air di sekitar wonosobo yang dinilai masih bersih mutu airnya. ada pula ritus yang menghanyutkan perahu-perahu kecil bermuatan lilin menyala di sebuah sungai, itu pun punya makna pembersihan.

bila pagi tadi kami duduk dan berbicara mengitari api yang diapungkan pada semangkuk air, maka kami sedang menghormati pula rekan-rekan lain yang juga sedang menghayati fitrahnya yang suci, bersih.