Posts Tagged ‘alor’

sirih pinang

orang jawa, khususnya di daerah surakarta dan sekitarnya, punya sinonim bagi sirih. nama yang dikenakan pada tanaman merambat yang berkhasiat antiseptik [pembunuh kuman] ini juga dikenal di daerah itu dengan nama sedhah. mungkin kata ini diambil dari bahasa jawa kuna, yang selain menjadi sinonim dari sirih atau suruh, juga kata sedhah ini bermakna undangan. tidak heran bila kartu undangan -pernikahan, misalnya- di surakarta biasa ditulis sebagai sedhahan. dan pengantin surakarta memiliki acara saling melempar gulungan daun sirih, sebagai simbolisasi dari tindakan saling mengundang di antara kedua pengantin untuk hidup bersama.

saya yang besar dalam tradisi kultur surakarta, bisa dengan sangat mudah menerima sodoran sirih dan pinang di tangan bapa timoteus, sebagai simbol undangan ketika saya mampir di rumahnya di takpala, alor. saya seperti diundang dengan undangan tanpa kata ketika disodori sirih-pinang dan kapur dari wadahnya yang berupa anyaman halus bilah-bilah bambu itu.

[di rumah, saya menanam sirih ini, dan tumbuh menjalar-jalar dengan daun yang mekar segar sehingga hampir tiap hari ada saja ibu-ibu tetangga yang meminta selembar dua untuk kepentingan mereka.]

tapi, di takpala -juga di sumba- sirih tidak diambil daunnya, tapi buahnya. di jawa, bila kami membutuhkan sirih untuk obat batuk atau untuk membersihkan tenggorokan yang kering di musim kemarau seperti sekarang ini, kami ambil daunnya. direbus atau direndam dalam air panas dan diminum airnya. tapi di alor sirih itu diambil buahnya, dikunyah bersama pinang dan kapur dan kadang-kadang dijejali tembakau untuk dihisap-hisap sehingga menghasilkan perasaan segar di mulut [dan lidah terasa tebal!]. buah sirih ini bisa disajikan ketika masih segar, bisa juga ketika kering. efeknya -menurut saya- sama saja. hal yang tidak bisa terjadi pada daun sirih yang selalu meminta yang masih segar saja.

ke mana-mana orang membawa sirih pinang. untuk sendiri maupun untuk dibagi.
ini adalah semacam sarana komunikasi untuk saling mengundang [juga saling meminang? halah..]

berbincang lama dengan timoteus lanma

orangnya sedang tidur siang, ketika saya menghampiri pondoknya di takpala. pondok itu berupa rumah panggung beruang tunggal. berdinding gedeg dengan atap alang yang puncaknya diikat menjulang. berbagai perlengkapan lelaki abui berserak di sekitar tempat tidurnya: perlengkapan sirih pinang, panah dan busurnya, parang, kain-kain ikat yang dijadikan selimut di ruang yang terbuka di satu sisinya itu.

melewati satu gubug lagi [yang digunakan untuk tidur dorkas, putrinya] kami diterima di serambi rumah gudang, rumah adatnya. mama amalia yang lebih dulu menjumpai kami ketika kami masuk desa ini memperkenalkan kepada tetua adat ini sambil menerima bungkusan sirih pinang yang kami bawa dari kalabahi.

[sebenarnya, bibir saya masih merah sehabis makan sirih pinang di kalabahi tadi, tapi di depan bapa timo ini saya harus makan lagi sebagai kesediaan menerima sambutan tuan rumah. makin merahlah bibir, gigi dan lidah…]

ada kopi enak disajikan, bersama goreng pisang, dan kami lalu bicara mengenai subsistensi [halah, ini mah istilah saya saja!]. dan dorkas menerangkan keistimewaan kopi tadi ketika kami termehek-mehek dengan aroma yang menebar dari gelas minum tadi:

kami tidak pernah membeli kopi di pasar. ini kopi dari kebun sendiri, yang setelah dikupas, dikeringkan lalu kami goreng dengan sedikit minyak supaya tidak hangus. para peneliti asing itu juga bilang bahwa kopi sini enak..

tidak hanya kopi, namun juga tembakau. di halaman rumah itu ada sepetak ukuran 4×4 meter yang ditanam tembakau, bercampur dengan makam dari beberapa orang desa yang telah meninggal. terlihat tanda salib tertancap di atasnya. sayang saya tidak merokok sehingga tidak bisa memberi komentar mengenai mutu tembakaunya.

ini bulan kami biasanya membangun dan memerbaiki rumah. apalagi ini adalah saat bulan terang. orang takpala memerbaiki merangkai, menyusun dan memerbaiki atap alang rumahnya di malam bulan terang. tidak di siang hari yang selain panas juga tali pengikat [makiling:tali dari hutan, sejenis tumbuhan merambat di tanah dan di pohon] mudah putus…

bulan juli dan agustus adalah bulan bagi orang takpala untuk “potong kebun”, yakni memotong bambu untuk disimpan bagi keperluan pembuatan alat-alat rumah tangga maupun untuk konstruksi rumah mereka. bulan oktober nanti adalah bulan untuk “bakar kebun” agar carbon hasil pembakaran itu meresap dan menjadi pupuk bagi tanah kebunnya.

tidak terasa sudah lama saya ngobrol dengan bapa lanma. mengenai berbagai jenis kegiatan yang dilakukan menurut jadwal, menurut pengaturan waktu yang disepakati warga desa takpala. dalam setahun sudah ada kegiatan yang pasti mereka kerjakan secara bersama-sama.

sore jelang malam, saya pamit dari kampung tanpa listrik ini. menyusuri jalan berbatu yang diterangi bulan terang, saya lama-lama merasa rindu. rindu pada ketertiban waktu. ketertiban yang bisa menjadi pegangan bersama…

memang, ini romantisme!

takpala alor

ini desa yang secara tidak sengaja saya kunjungi, setelah menerima pesan singkat sms dari rudy loly.

nama desanya takpala, 17 km dari kalabahi. bawa kamera dengan memory banyak, dan bila sempat ke pulau pantar, mampirlah ke desa mawar. desa dengan penataan batu-batu..

sesampai di kalabahi, maka segera saya tahu bahwa takpala memang mudah dicapai di pulau yang kecil ini. hanya sekitar 20 menit dengan ojek si john sampailah saya di sana. dari tepi jalan yang menyusuri tepian pantai, belok dan mendaki ke kanan, di mulut jalan yang ada spandoek bertulisan “welcome to takpala”. teruuus… mendaki jalanan yang pernah diaspal halus hingga ke perhentian sebelum masuk ke desa tradisional itu.

di sini pemandangan ke laut amatlah elok. beberapa anak terlihat bermain dan bergulat, perempuan tua mengumpulkan asam jawa yang berjatuhan dari pohon-pohon asam berukuran raksasa di sana..

naik tangga yang terdiri dari 20-an anak tangga dan berjalan 25 m di atas jalan berkerikil, masuklah kita ke halaman desa takpala. halaman ini bersih, dengan teras-teras yang ditahan susunan batu-batu, maka desa ini seperti berundak-undak. desa ini tidak dibangun pada dataran tapi pada teras-teras bukit yang membiarkan pemandangan laut teluk utara “leher burung” pulau alor itu terbuka leluasa.

di halaman tengah desa ini terdapat struktur peninggian lantai dengan geometri lingkaran yang ditengahnya ditanam bambu dan portal untuk menggantungkan persembahan ketika upacara dilangsungkan. ya, struktur ini diperlakukan sebagai altar ketika ada upacara adat di sana, sementara warga desa menari lego-lego di kelilingnya.

saya memilih mengobrol dengan tetua di situ, bapa timoteus lanma dengan istrinya amalia dan putrinya dorkas. sehabis menyerahkan sirih pinang, saya menghabiskan sore di rumah beliau, sambil minum kopi yang mereka tanam sendiri dan makan pisang goreng dari kebun mereka sendiri.