Posts Tagged ‘arsitektur’

tegang bentang

Tegang Bentang: Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia

saya rasa, buku ini sudah ketinggalan issue.
topik-topik yang diulas di dalam kumpulan esai di buku ini seperti mengaduk-aduk residu belaka. tidak banyak yang menulis untuk masa kini, tidak banyak yang baru. hanya mengulang dan menghadirkan fakta masa lalu.

menulis sejarah arsitek dan arsitektur indonesia seharusnya tidak melulu mengulang-ulang cerita bagaimana AWAL penampilan arsitek dan arsitektur indonesia. CARA kita menetapkan awal itu sendiri perlu diusut.
buku ini masih belum mengritisi hal itu, belum membicarakan bagaimana CARA MELIHAT atau METODA yang dipakai untuk menyajikan peristiwa masa lalu arsitektur dan arsitek indonesia itu.

memang peran politik penting, tapi dengan cara bagaimana politik itu bermain dalam proses pembentukan institusi arsitek? bagaimana ide-ide kemodernan bisa terdistribusi dan diterima para arsitek? siapa saja mereka?

jabatan “arsitek” sebenarnya sudah dikenal pada peralihan abad XIX-XX. yakni posisi tertinggi seorang teknisi yang disahkan oleh BOW sehingga yang bersangkutan bisa menangani proyek dengan nilai tertentu. umumnya, pemegang jabatan arsitek ini adalah ahli irigasi, bukan perancang bangunan seperti pengertian arsitek pada masa sekarang. tapi tidak ada yang mengulas perkara ini, perkara dari mana kita memulai profesi modern yang bernama arsitek ini.

tapi ya sudahlah,
setahu saya, buku ini disiapkan untuk terbit lima tahun yang lalu. jadi, saya paham bila isu-isu mutakhir tidak tertangkap darinya.

atau, memang wacana di dunia arsitektur memang stagnan?

lambang gantung

hari selasa pagi yang lalu [30 oktober 2012] saya menghadiri presentasi pak sukirman, di universitas widya mataram, mengengai struktur atap LAMBANG GANTUNG.
lambang gantung digunakan di banyak atap bangunan-bangunan kraton yogyakarta. agaknya, struktur atap ni TIDAK DIKENAL di surakarta, kota kerajaan jawa yang lebih tua.
struktur lambang gantung -mengikuti penegasan pak sukirman tadi- adalah struktur yang baru dimungkinkan setelah digunakannya logam besi sebagai batang tarik yang menggantungkan balok teratas dari atap pinggiran ke balok “brujung” di struktur pokok. atap pinggiran ini sepenuhnya tergantung pada batang-batang logam tadi sehingga bisa leluasa bergoyang bila terkena hempasan gempa.
di kraton yogyakarta, struktur lambang gantung selain digunakan di BANGSAL WITANA yang menjadi fokus penelitian pak sukirman, juga di pendhapa utama MANGKUBUMEN, tempat kami semua ngumpul pagi itu.
saya menikmati bagaimana pak sukirman melakukan penelitian lapangan: bagaimana ia mengusahakan bisa mengukur balok dan kolom yang peletakannya rumit, atau di bangunan tempat penyimpanan pusaka-pusaka nomor satu di yogyakarta [PRABAYEKSA]. yang juga mengesankan adalah tentang bagaimana dia menjiplak relief ukiran di kolom-kolom, hal yang mengingatkan saya pada cara wolff schoemaker dalam melakukan kuliah lapangan di bali.
saya sendiri heran, mengapa selasa pagi itu saya begitu bersemangat sekali untuk belajar lagi hal-hal teknis penelitian lapangan ini. jarang saya tertarik dengan hal-hal teknis, tapi presentasi pak sukirman sungguh inspiratif bagi saya.

nyata-maya

Posted via email from lihatlah

ada bangunan baru yang dibangun di kampus ini: sebuah jembatan penghubung antar bangunan. jembatan ini selain menghubungkan blok bangunan di kiri dengan blok bangunan di kanan sebagai jembatan, ia juga merupakan gerbang masuk bagi kampus ini.
persoalan disainnya adalah bagaiaman menafsirkan peran gerbang dan sekaligus jembatan tadi?

arsiteknya menafsirkan kedua peran itu sebagai “peran transisi”. berada di jembatan mau pun di gerbang adalah berada dalam posisi transisional, sekaligus “sini-sana”, “sudah-belum”, “di dalam-di luar”…
secara visual, gerbang dan sekaligus jembatan ini dibangun dengan dinding sepenuhnya kaca transparan. dengan demikian ia seperti “ada dan tiada”, ora yang tengah berjalan di jembatan itu seperti tontonan tapi sekaligus dia bisa menonton. dia berada dalam posisi yang dinamik. sama seperti orang yang melintas jembatan itu pun tidak terhenti tapi berjalan, berada dalam situasi bergerak…

situasi ambigu ini menyenangkan karena kita mengalami hal yang lebih kaya, lebih komplet. baik nyang nyata mau pun yang maya. yang real mau pun yang imajiner…

omah jawa dalam centhini

AUDITORIUM LEMBAGA INDONESIA PRANCIS,
jumat, 25 juli 2008, 16.00.
moderator: rama budi subanar SJ.

pertunjukan ini –dalam bentuk slideshow- adalah bagian dari pameran tentang centhini, yang secara khusus ingin mempertunjukkan rumah jawa sebagaimana dideskripsikan oleh serat centhini.

pertunjukan melalui slideshow hanyalah salah satu cara visualisasi teksnya yang jauh lebih kaya dan imajinatif dari pada gambar-gambar slides. lagi pula, gambar-gambar ini didapat dari foto rumah jawa masa kini dengan anggapan bahwa rumah jawa masa kini tadi masih sama dengan yang dimaksud centhini sekian ratus tahun lalu.

jadi, ini adalah pertunjukan yang juga menyertakan kebimbangan: hendak melakukan visualisasi barang masa lalu dengan gambar barang masa kini yang belum tentu sama, meski pun namanya sama.

rasanya memang hanya melalui namanya saja pertunjukan kali ini dipertautkan dengan yang dimaksud mula-mula oleh penulis centhini. tidak ada jaminan rekonstruksi ini representatif. pertunjukan ini sepenuhnya interpretatif.

tapi, bukankah dalam mengisahkan sejarah kita hanya bisa menyajikan interpretasi-interpretasi?

pertunjukan 3 bagian ini nanti berawal dari ajakan untuk menempatkan omah jawa dalam setting alamnya, lalu konsekuensi dari tempat itu secara bentuk serta tektoniknya. dan akan diakhiri dengan berbagai proses pemaknaan rumah jawa. antar bagian akan diisi jeda yang berupa pembacaan bagian-bagian tembang yang relevan dengan isi bagian sebelum dan sesudahnya. diawali dari pocung, dhandhang gula dan diakhiri oleh mijil, yakni suatu proses pemahaman dari dewasa, mundur ke masa remaja dan mundur lagi ke masa awal adanya. sementara, isinya adalah justru kebalikan dari proses itu: menjelaskan dari awal kelahiran omah jawa, pendiriannya hingga pemaknaannya.

arsitektur adalah lingkungan binaan yang dibuat manusia untuk bertahan di alam. dan arsitektur jawa –atau omah jawa- adalah tempat manusia jawa bertahan di bumi jawa. alam jawa, baik tanah, air, angin, suhu udara, kelembaban itu harus ditanggapi oleh orang jawa. cara orang jawa menanggapi tidak dengan membuat pemisahan yang tegas antara dirinya dengan alam, tapi dia menempatkan diri sebagai “berteduh” di alam,bukan bertahan dari alam. tidak memusuhi, tapi berkawan dengan alam.

pesan untuk masa kini adalah bahwa pembangunan lingkungan untuk hunian orang haruslah mengindahkan keseimbangan dengan lingkungan. perlawanan terhadap kekuatan alam hanyalah akan membangkitkan kurban sosial dan kultural yang lebih besar.

centhini dan pencerahan jawa

mengherankan juga ketika mulai membaca serat centhini, khususnya mengenai deskripsi tentang rumah di pupuh 222.

diceritakan bahwa cebolang beserta keempat santrinya berjalan sepulang dari kajoran menuju ke timur ke bang wetan dan kemalaman di suatu desa di tengah hutan. di situ ia menemukan rumah yang mengepulkan asap pertanda adanya aktivitas di dapurnya. rumah itu diangkat dari tanah, atau dengan kata lain berpanggung. desa itu tidak diberi nama menurut nama seorang penguasa, seperti lazimnya orang kota: suryodiningratan, mangkuyudan, mangkubumen dst., namun diberi nama menurut tetumbuhan yang banyak terdapat di sana: karang kamplong.

lebih lanjut, penulis serat ini mengisahkan bahwa cebolang membandingkan suasana desa di tengah hutan tadi dengan suasana negara ngeksiganda [nama lain untuk mataram]. pembandingan itu diperlukan untuk memerlihatkan kontras perbedaannya, dan diceritakan juga bahwa desa itu jauh dari mancalima, yakni sistem pengaturan desa-desa di jawa kuna. sepertinya, dengan fakta-fakta ini, penulis centhini hendak menempatkan paparannya berikut tentang rumah jawa secara berjarak. posisi pencerita yang akan menguraikan pengetahuan tentang rumah dan prosedur pembangunannya [dalam hal ini ki wreksadikara] didudukkan secara netral, tidak terpengaruh oleh kekuasaan dunia.

mengapa posisi pencerita harus dibikin netral? apakah ini kecenderungan baru? mungkin ya, karena kalau kita mengikuti cara bercerita mpu prapanca dalam mendeskripsikan tempat-tempat atau daerah-daerah yang dilalui oleh raja hayam wuruk, dia menempatkan diri sebagai tokoh sentral [pencerita] dan tidak mengonstruksikan diri seolah berjarak jauh dari obyek ceritanya.

apakah teknik bercerita seperti yang dilakukan oleh centhini ini mendapat pengaruh dari barat? mengapa mencurigai adanya pengaruh barat? tidak lain karena centhini sebagai korpus, ini mirip produk yang dilakukan oleh para ensiklopedis di eropa, yang gemar mengumpulkan segala pengetahuan eksotik ke dalam suatu korpus. entah ke dalam sebuah buku, sebuah museum, atau kebon binatang…

mereka ini memperlakukan benda-benda dan pengetahuan itu dengan berjarak. ditetapkan sebagai obyek yang berbeda dari subyek yang sedang mengamati. rasanya ini adalah suatu gejala yang diperanakkan oleh semangat pencerahan di eropa. apakah budaya jawa menghadapi kemandegan atau memasuki kegelapan sehingga menempuh jalur keluar dengan pencerahan seperti yang sudah dialami eropa?