Posts Tagged ‘colonialization’

mencerahkan dari kegelapan

saya menemukan gambar ini dari buku J.A.A van doorn “de laatste eeuw van indie”, hari-hari terakhir hindia. suatu buku yang banyak sekali dirujuk oleh bahan-bahan saya mengenai situasi tanah air jelang berakhirnya kolonialisasi belanda.

gambar ini dimuat dalam buku tadi sebagai contoh bagaimana upaya politik etis dalam berusaha menarik masyarakat jawa dari kegelapan dunianya, menuju ke terang peradaban barat melalui pendidikan. semula, adalah sampul buku pelajaran bahasa belanda untuk orang-orang pribumi. dengan bantuan seorang rekan, saya jadi tahu bahwa buku ini terbit di batavia tahun 1922 dan ada beberapa jilid. yang saya tahu ada jilid ke-4.

gambar ini dengan bagus menggambarkan bagaimana ide politis itu diungkapkan secara visual. dikotomi biner bekerja padanya: gadis jawa berkulit berwarna dituntun gadis eropa [belanda] membaca. sambil berjalan mendaki dari bawah, ia diajak naik ke atas menuju sumber terang. bingkai gambar, pada sisi kanan digambarkan masa lalu jawa [patung candi, landscape pertanian, dan salahsatu karakter wayang]. sedangkan pada sisi kiri digambarkan kemajuan-kemajuan barat dalam ilmu yang diungkapkan dengan gambar buku, burung hantu, ular aesculapius obat-obatan, dan simbol fisika.

dengan cara kasih sayang, perempuan jawa dibimbing masuk ke dunia baru yang mencerahkan penuh cahaya.

hubungan keduanya sepertinya baik-baik saja. citra ini begitu berbeda dari penggambaran bikinan orang indonesia kemudian yang lebih memberi fokus pada konflik kekerasan antara kedua bangsa. entah datang dari mana gagasan yang menggambarkan hubungan kedua bangsa itu sebagai konflik terbuka macam peperangan, dengan pahlawan berupa jagoan-jagoan bersenjatakan bambu runcing…

di tingkat elite bangsa, tentu pemisahan atau kemerdekaan indonesia itu berlangsung dengan baik. tapi demi kepentingan komunikasi dengan massa, maka kisah itu harus dibuat ekstrem agar nampak jelas perbedaannya, dan agar nampak pula alasan mengapa indonesia harus lepas dan merdeka dari kolonialisasi belanda.

gambar di atas pun menggunakan dikotomi tegas antara sini-sana, jawa-belanda, hitam-putih, gelap-terang… tapi bedanya, gambar di atas mengemas hubungan bipolar itu dengan lebih “halus”, yakni yang satu dibimbing oleh lainnya.

suatu pilihan politik untuk tetap mempertahankan dominasi tapi dengan cara menganggap pihak terjajah perlu dididik dan dicerahkan isi kepalanya.

decolonialization process

while the conventional textbooks make sharp distinction between the late dutch colonial periode, japanese occupation periode, the indonesian revolution, the periode of parliamentary democracy or old order, and the new order, freek colombijn considers decolonialization as an extended process which includes both the periodes of before and after the indoensian revolution.

or in other word -in my opinion- freek colombijn suggested a continous model in viewing the process of decolonialization of indonesia. [under construction, 2010, freek colombijn, p. 7]

tillema dan air bersih

Een propagandist van het zuiverste water: H.F. Tillema (1870-1952) en de fotografie van tempo doeloeEen propagandist van het zuiverste water: H.F. Tillema (1870-1952) en de fotografie van tempo doeloe by Ewald Vanvugt
My rating: 4 of 5 stars

ini buku lama, saya membacanya di perpustakaan erasmus huis jakarta, yang membolehkan saya membuat fotokopinya.
meski sudah lama, tapi terasa masih baru bila menimbang bingkai yang dipakai untuk mengulas seorang pribadi historis dan sepak terjangnya.

buku ini mengulas peran media, dalam hal ini fotografi, dalam membangun citra tentang rakyat dan tanah jajahan. fotografi ini telah dimainkan dengan bagus oleh seorang apoteker yang juga anggota dewan kota semarang, h.f. tillema.
foto-fotonya luar biasa banyak dan bermutu.
mutu yang dimaksud adalah kandungannya yang sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu antropologi maupun arsitektur.

tillema, yang kaya raya berkat usahanya sebagai apoteker yang jualan air mineral, tahu bahwa masalah higiene adalah perkara yang bisa diduitkan. ia jual air murni [yang dijadikan judul buku ini “zuiverste water“] sambil keliling ke sana-sini, ke antero nusantara dengan kamera kerudungnya. memotreti hunian dan penghuninya untuk merekam tingkat higiene mereka.

bersih dan kotor, suatu kategori yang luwes dan sering kolonialistik [pribumi kotor, orang eropa bersih] bekerja dalam mengendalikan seleksi fotonya berikut analisisnya. foto-foto tentang hunian tradisional di nusantara ini jadi rujukan buku-buku arsitektut tradisional di tahun-tahun sesudahnya saking lengkapnya.
ia menerbitkan sendiri bukunya -magnum opus- yang diberinya judul KROMOBLANDA. lima jilid dan dicetak tidak lebih dari 10 biji untuk diberikan ke beberapa perpustakaan di dunia waktu itu.
di itb hanya ada fotokopinya. di univ. tarumanegara sepertinya ada satu kopi aslinya.
saya tidak tahu di mana yang lainnya.

vanvugt dalam buku ini mendudukkan tillema, jasa dan dampak dari buku serta foto-fotonya pada pelanggengan ketergantungan intelektual indonesia pada karya-karyanya. media adalah sarana kolonialisasi modern!

[lebih jauh mengenai tillema silakan klik link berikut ini http://www.inghist.nl/Onderzoek/Projecten/BWN/lemmata/bwn5/tillema]

‘menolong’ lewat disain

Design Revolution: 100 Products That Empower PeopleDesign Revolution: 100 Products That Empower People by Emily Pilloton

My rating: 4 of 5 stars

buku ini memerankan diri sebagai pelapor bagi 100 karya disain produk yang punya kontribusi penting pada masyarakat. dengan memasukkan disain produk ke dalam kelompok-kelompok seperti water, well being, energy, education, mobility, food, play dan enterprise, kita diperkenalkan pada konteks lahirnya disain-disain tadi. bahwa inovasi disain produk itu bukan ada untuk sekadar bikin beda, tapi ada untuk membuat hidup bisa dijalani dengan lebih mudah, hemat energi, tidak mengotori bumi dan meningkatkan mutu hubungan sosial.

sayangnya, hampir semua dari 100 disain itu keluar dari otak orang barat dan dipakai untuk kehidupan orang di luarnya (asia-afrika). tidak hanya asal-usul gagasan inovatif itu dari barat, namun juga pembuatan (manufacturing) dari barang-barang atau alat-alat inovative itu juga di barat. orang asia-afrika tidak bisa mengembangkannya sendiri, tidak bisa menirunya dengan ‘versi sendiri’. disain-disain yang disajikan dalam buku ini masih berupa ‘pertolongan sinterklas yang baik hati’…

kiai sadrach

Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di JawaKiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa by Claude Guillot

My rating: 4 of 5 stars

ini buku lama, maksud saya, saya membacanya sudah lama sekali, yakni ketika buku ini terbit kali pertama. setelah buku ini ada buku lain mengenai kyai sadrach yang ditulis oleh ‘orang dalam’ yakni pendeta soetarman dan diterbitkan oleh BPK gunung mulia [2001]. dengan istilah ‘orang dalam’ yang saya maksud adalah ‘dalam lingkungan kristen’. sementara, tulisan guillot ini menyoroti gejala kyai sadrach sebagai perkara sosiologi, bukan perkara teologi. suatu gejala yang menarik ketika kolonialisasi menghasilkan ‘dialog’ seru antara pihak colonized dan colonizer. dialog itu bisa berupa dominasi-subordinasi, bisa pula hibridisasi. pada hemat saya, gejala sadrach jatuh pada kemungkinan kedua: mencari kemungkinan integrasi antara kekristenan dan kejawaan.
seperti dinyatakan eksplisit dalam pengantarnya, tujuan penelitian guillot ini adalah mengungkap alasan mengapa orang-orang jawa pada paruh kedua abad XIX mengikuti sadrach berpindah ke agama kristen. orang jawa, seperti kita tahu, bisa leluasa dalam memeluk agama. mereka pernah dan bisa jadi hindu atau budhis dan bisa pula jadi muslim. dan sekarang ada kemungkinan keempat, untuk jadi kristen.
keleluasaan khas jawa itu harus berhadapan dengan ketegasan teologis barat. suatu dialog seru yang digarap bagus oleh penelitian guillot.
kekristenan, dari sononya dan sepanjang sejarahnya, sudah melakukan dialog seru begini di mana ‘kabar baik’ ditabur…
sadrach adalah salah satu pelaku itu.
berita baiknya lagi, sekarang gereja-gereja di jawa memberi apresiasi positif pada kyai sadrach dan peristiwa yang dibangkitkannya.

1 2