Posts Tagged ‘earthquake 2011’

esensialisme watak bangsa

ketika jepang dilanda bencana gempa, tsunami dan bocornya reaktor nuklir, ada banyak tulisan yang saya baca mengenai watak bangsa tadi:

  • orang jepang pantang menyerah
  • harga diri dan percaya dirinya besar
  • mereka pantang mengemis
  • mereka juga taat antri
  • pemerintah mereka benar-benar melayani masyarakat
  • mereka sudah pengalaman dengan gempa
  • tidak mungkin ada penjarahan
  • tidak mungkin ada rush di pasar atau toko

komentar sanjungan itu disertai dengan anak kalimat berikut: “sangat berbeda dari tempat kita”

saya kali pertama membaca “sanjungan pada jepang dengan menghina diri sendiri” itu lewat tulisan pak ajip rosidi di bukunya “orang dan bambu jepang“. saya pikir, cara seperti ini tidak mendidik diri kita.
sebagaimana banyak mahasiswa kita yang belajar di jepang kemudian kejepang-jepangan, juga mengidap penyakit esensialisme watak bangsa ini. mereka mengira, keutamaan yang saya deret di atas itu sudah melekat dari sononya, demikian pula sikap nista kita itu juga dari sononya melekat pada diri kita.

pak gunawan mohamad menulis di twitternya, 22 Maret 23 Heisei 00:39:42, yang ada baiknya saya kutip di sini karena saya bersetuju dengannya :

Kita memang cenderung melihat “tak adanya penjarahan” di Jepang dgn mata yg mencela “watak” bangsa sendiri yg “suka menjarah”.
“Tanpa mengurangi kritik diri, rasanya perlu melihat Jepang sbg contoh: perbaikan kondisi sosial-ekonomi bisa memperbaiki perilaku”.
“Walhasil, bukan “esensi” yg membentuk masyarakat. Masyarakat bisa berubah dgn perbuatan + kerja, dgn kegagalan dan suksesnya.”
“Esensialisme” adalah sebutan utk pikiran yg menganggap ada “esensi” yg tetap yg membentuk perilaku satu bangsa atau ras.
“Ketika media kita beritakan tak ada penjarahan pasca-tsunami di Jepang, dikatakan itu karena watak budaya orang Jepang.”
” Tak ada watak atau “jati diri” bangsa yg tetap. Tak ada budaya yg tak berubah dan bebas pengaruh kondisi sosial-ekonomi.”

memuji orang lain tidak harus dengan mencela diri sendiri. demikian pula sebaliknya, memuji diri sendiri tidaklah dengan mencela orang lain. lagi pula, semua watak itu adalah konstruksi sebagai tanggapan terhadap kondisi sosial ekonomi dan kompleksitas situasinya.

senang, ada yang bisa merumuskan hal itu dengan terang dan sederhana seperti twits pak GM tadi.

membantu katak melawan gempa

ada orang bersyukur karena terhindar dari bencana tsunami dan gempa. sementara ribuan orang meninggal diiringi tangisan keluarga.
demikian pula ketika kota kobe dilanda gempa hebat tahun 1995, kota tokyo selamat.
ada yang bersyukur di sana, sementara media memperdengarkan tangisan saudara-saudaranya di lain kota. kisah ini ada dalam cerpen murakami haruki “superfrog saves tokyo” yang masuk dalam kumpulan enam cerpen “after the quake”

gempa itu selalu ada.
dalam mitologi jepang, ia seumpama ulat tanah yang meski pun diam di dalam tanah, tapi kadang menggeliat karena marah. entah apa pun yang membuatnya marah.
dalam mitologi yang sama, penanda kemarahan ulat tanah itu -dengan kata lain, tanda adanya gempa- adalah kodok atau katak. katak dipercaya sebagai binatang yang pandai meramalkan kedatangan gempa.

dan katagiri-san kedatangan katak tadi di rumahnya.
katak sesungguh-sungguhnya katak. murakami membuat deskripsi panjang untuk meyakinkan bahwa ini adalah katak beneran yang bertandang. tapi katak ini bisa berkomunikasi lancar dengan katagiri. bahkan katak ini kenal dostoevsky mau pun leo tolstoy! murakami pun memberikan banyak halamannya lagi untuk mengolah keraguan katagiri tentang katak yang bisa bicara ini. dengan kata lain, murakami sedang mau mengatakan kepada kita bahwa dalam karya sastra, realita dan imajinasi itu susah dikatakan mana yang lebih nyata di antara keduanya.

yes, of course, as you can see. a real frog is exactly what i am. a product neither of metaphor nor allusion nor deconstruction nor sampling nor any other such complex process, i am a genuine frog…

gempa adalah hal yang potensial ada. ia ada, tapi juga tidak/belum nyata.
seperti halnya tokyo yang tidak terkena gempa, tidak berarti gempa tidak ada di sana.

katak tadi datang untuk mengajak katagiri menyemangatinya dalam melawan si ulat tanah.
ia sendiri yang akan bertempur, tapi ia butuh supporter seperti katagiri.

ia katak biasa. tapi ia pun bisa mewakili metafora tentang peringatan dini sebelum gempa. bahwa katak tadi datang dan mengajak untuk memperkuatnya agar bisa mengalahkan si “ulat”, dalam tidur mau pun dalam sadar, kadang berhasil kadang gagal. bahwa tokyo terhindar dari gempat tanggal 18 januari 1995, itu bukan keberuntungan. itu karena pengurbanan si katak yang telah berjuang habis-habisan melawan ulat.

tapi kisah perlawanan katak tadi tidak banyak yang mau mendengar. bahwa di dalam diam itu berlangsung pertempuran, tidak ada yang memerhatikan.

katagiri dianggap sedang bermimpi. tapi buat murakami, yang meminjam kisah “white nights” dari dostoevsky, realita gempa adalah seperti yang dikisahkan dalam kisah-kisah mitologi: yang bisa dianggap sekadar kisah, tapi jelas-jelas ia nyata. bagi katagiri [agaknya ini juga harapan murakami bagi para pembacanya] kisah dan realita itu tidak bisa dipisah-pisah begitu saja.

ada orang-orang egois di luar sana, yang bersyukur karena terluput dari gempa seperti yang ditanggung orang-orang lain.
rasa syukur yang egois macam ini hanya karena tidak sadar bahwa gempa itu bukan sekadar berita di media, namun juga realita yang bisa menimpa siapa saja yang lengah tidak mau membantu si katak… pahlawan yang sering mengajak kita mempersiapkan diri tapi sering pula dilupakan dan hanya pantas melompat-lompat di lumpur saja.

memberikan nyawa bagi orang lain

orang yang memberikan nyawanya bagi orang lain, saya kira dulu itu cuma mitos yang dibesar-besarkan oleh institusi agama. tapi hari ini saya mendapat link tentang 50 orang yang bertugas membetulkan kerusakan reaktor nuklir di fukushima. mereka berangkat seperti menjemput kematiannya saja.
situs dailymail ini memuat pesan pendek [sms] dan email mereka pada istri dan anak-anak:

lanjutkanlah hidupmu,

mungkin aku tidak bisa pulang lagi berkumpul lagi denganmu.

pamitan yang mengharukan. pamitan dari orang yang punya jiwa agung, yang mau mengurbankannya untuk orang lain. ternyata, menurut temuan mas bram, kisah-kisah tradisional juga kaya dengan contoh begini:

seperti pamitannya salya pada setyawati
suyudhana pada banumati
damarwulan pada anjasmara

kebetulan, saya membacanya di minggu-minggu sengsara seperti sekarang ini.

yang punya mata hendaknya melihat,
yang punya telinga hendaknya mendengar

menerbangkan benda yang gak jelas

bila kemaren ulil mendapat kiriman bom yang dibungkus sebagai kiriman buku, maka kemaren pula saya memulai baca buku murakami haruki tentang bungkusan yang gak jelas apa isinya.

judul cerpen pertama dalam buku ini adalah UFO DI KUSHINO.
wong mau menulis kisah tentang jepang pasca gempa kobe 1995 kok malah bicara tentang UFO?

ini kisah seorang lelaki yang ditinggal pergi istrinya seusai gempa di kobe.
si istri setelah kejadian gempa seperti kehilangan dirinya, kerjaannya tiap hari hanyalah menonton tivi dengan mengganti-ganti channel dengan tatapan mata kosong. walau pun kehidupan mereka normal, namun kemudian si istri memilih pulang ke rumah orangtuanya, meninggalkan sepucuk surat pada suaminya yang ditinggal bengong sepulang kerja.

dalam dirimu sudah tidak ada apa-apanya, dia tulis begitu dalam surat pendeknya.

istri yang gak cantik-cantik amat ini [pendek, omongannya gak mutu, dsb] meninggalkan suami di rumah bersama barang-barang yang sisa. hampir semua barang dibawa pergi oleh si istri pulang. si suami ditinggal di rumah yang nyaris “kosong”.

ketika mendapatkan tawaran kesempatan liburan ke daerah dingin di hokkaido di bulan februari oleh bossnya, si boss menitipkan sebungkus barang yang harus disampaikan ke saudaranya di hokkaido sana. benda itu dibawanya terbang ke sana.

di hokkaido yang dingin di bulan februari, ia mendapatkan teman cewek “berani” yang dengannya ia menghabiskan waktu-waktu liburannya. dari hubungan intim mereka berdua kita [pembaca] bisa mendugai apa peran UFO di sini.

pasca gempa dahsyat di kobe 1995, banyak keluarga jepang kehilangan segala-galanya. kosong rumahnya dan kosong pula hatinya. kekosongan hati si istri, yang pulang ke rumah asal dengan mengosongkan rumahnya sendiri. kekosongan hati suami yang menghabiskan waktu libur sembari membawa terbang “benda entah apa pula” yang hingga akhir cerita juga tidak dibuka apa isinya, kita bisa membayangkan dahsyatnya gempa… yang mampu mengosongkan hati orang-orangnya!

UFO, benda terbang yang gak jelas apa itu, pada hemat saya, memang harus menjadi judul cerpen ini. ia terpilih untuk mewakili kekosongan¬†ini semua…

keren dah… ini adalah kisah atau riwayat lahir dan berkembangnya “kekosongan” dalam diri para kurban gempa. gempa bukan hanya menghilangkan benda-benda, namun juga membuat bagian penting dalam diri manusia ikut tiada…

ini bukan kisah peristiwa-peristiwa yang berupa deskripsi tindakan-tindakan manusia, tapi kisah tentang muncul dan berkembangnya suatu ide, konsep, “notion” tentang apa itu kosong.

1 2 3 4