Posts Tagged ‘earthquake 2011’

berani berharap di masa sengsara

menurut kalender gerejawi, hari-hari ini berada dalam minggu sengsara pertama.
di saat yang sama, kami dicekam oleh berita dari media mengenai radiasi nuklir yang disebarkan dari reaktor yang bocor di fukushima.

ini adalah “minggu-minggu sengsara” yg mendalam bagi kami di sini. semoga kami masih diberi kesempatan merayakan “kebangkitan” bersama mekarnya bunga-bunga sakura di taman-taman kota…
kami mohon…

ini bukan lagi masa sengsara dalam arti simbolik agamawi, namun masa sengsara yang nyata bagi kami. memang bukan sengsara dalam arti langsung mengenai tubuh, namun masa sengsara dalam arti prihatin terhadap perkembangan yang memburuk di lokasi bencana.

pikiran kami mengikuti perkembangan berita.
bila menerima berita bagus, kami bersuka.
bila menerima berita dua, kami pun ikut berduka.

orang-orang jepang tidak memperlihatkan reaksi yang ekstrim panik berkenaan dengan perkembangan ini. meski mereka tidak bisa menyembunyikan kegelisahan ketika di mana-mana terlihat mereka mengikuti perkembangan berita dari NHK.

di beberapa kota sudah ada gejala berkurangnya pasokan bahan-bahan pokok. bahkan di region kansai yang jauh di barat selatan pun [kobe, kyoto dan osaka] hampir semua department store kehabisan beras, air, ramen dan makanan kaleng. juga di toyohashi, department store JUSCO juga dilaporkan teman kehabisan komoditas tadi. menurut cerita versi teman saya yang sudah lama tinggal di osaka, berkurangnya pasokan itu bukan karena pembelian dari konsumen tapi memang pasokannya dikurangi pemerintah untuk disalurkan ke daerah bencana. meski pun saya tidak terlalu percaya, tapi semoga itu benar.

tadi pagi seorang jepang yang sedang tinggal di jawa, menuliskan di status facebooknya:

semoga semua orang di jepang akan bisa nikmati bunga SAKURA pada april nanti…seperti tahun kemaren.

suatu pernyataan yang mengandung harapan dan kepercayaan, yang membuat saya ingin menuliskannya di sini juga.

berani untuk berharap!

mata kita tertuju ke fukushima

di luar pasti dingin sekali, nampak dari embun jendela kaca di sisi dalamnya.

di tivi NHK diberitakan bahwa kaisar akihito menyampaikan kecemasannya yang mendalam bila mengikuti perkembangan mutakhir. diberitakan beliau akan menyingkir ke istana kyoto dalam waktu tidak lama lagi. hal yang luar biasa, mungkin bukan kehendak beliau sendiri yang dikenal sebagai kaisar jepang yang dekat dengan rakyat ini.

hari demi hari makin banyak kurban. proses pendinginan reaktor dengan mengguyur air yang diterbangkan helikopter diurungkan karena takut akan radiasi..
sementara itu ada 50 orang petugas mempertaruhkan nyawanya untuk keselamatan bangsa.

di dalam bencana, mereka masih mampu mendemonstrasikan betapa berharganya nilai manusia.

peristiwa bencana ini diliput besar-besaran oleh media-masa sedunia. semua mata menyaksikan kebesaran jiwa bangsa jepang. semangat yang meski pun dengan diam, tidak menyerah, bahkan mempertaruhkan nyawanya.

di luar pasti dingin sekali, seperti halnya di fukushima yang terempas gempa dan tsunami masih dihujani salju dini hari.
mata hati kita semua sedang tertuju ke fukushima.

saya bersama mereka

saya ingin ikut bagaimana orang di sini bersikap pada bencana.

bila mereka optimis bisa mengatasi, saya  pun optimis,

bila mereka cemas, saya pun akan bersama mereka.

saya tuliskan hal itu di facebook saya, sbab saya tidak terlalu cemas dengan bencana yang susul-menyusul ini. jumat 11 maret kemaren gempa besar di tohoku, lalu disusul tsunami di sekitar fukushima dan sendai. akibatnya, muncul masalah ketiga, berhentinya pembangkit listrik nuklir di fukushima yang didramatisir lagi dengan meledaknya ketiga pembangkit di fukushima daiichi.

semalam, muncul gempa di shizuoka yang saya rasakan kuat di toyohashi. jma memberi skala 6.4 atas gempa semalam, yang artinya gempa itu berpotensi merusak [penjelasan tentang sistem skala gempa di jepang silakan ikuti dari wikipedia].

saya tidak paham seluk beluk gempa dan penanganannya, sama seperti orang jepang pada umumnya. karena itu simpang siur berita dan tafsiran atas perkembangan mutakhir itu tidak begitu mencemaskan saya. saya ikut saja apa naluri orang setempat.

pada hemat saya, itu lebih enak: memercayakan diri pada saudara-saudara yang sudah lebih lama akrab dengan bencana gempa macam ini.

iya, saya merasa bersaudara dengan mereka.

1 2 3 4