Posts Tagged ‘fatumnasi’

ampupu

ini adalah nama kayu paling banyak digunakan orang timor untuk bahan membuat rumah bulatnya. tergolong sebagai kayu eucalyptus, kayu ini banyak terdapat di timor barat hingga ke timor leste.

selain digunakan untuk rangka bangunan, batang kayu ini -yang berukuran besar- bisa dibelah menjadi dua dan setelah dihilangkan isinya maka bentuk setengah tabung itu bisa digunakan untuk penutup bubungan atap rumah bulat. menurut orang-orang di fatmnasi, penutup bubungan yang menggunakan kayu ampupu ini lebih baik dari pada hanya menganyam alang-alang di bubungan itu. anyaman alang-alang masih bisa tertembus air bocor.

kayu ini hanya diletakkan begitu saja di bubungan. ia menjepit alang-alang penutup bubungan sehingga tidak memungkinkan air hujan merembes bocor ke dalam rumah. peletakannya lateral terhadap arah angin, atau pada umumnya diletakkan sesumbu dengan entrance [pintu] rumah. untuk menghindari terlontar karena tekanan angin barat/timur yang pada musim-musim tertentu amat kuat. dengan alasan yang sama, pintu rumah bulat umumnya berada di selatan atau utara.

lopo

di fatumnasi hanya satu lopo yang saya jumpai. didirikan di tepi jalan dan sekarang difungsikan sebagai halte angkot. karena fungsi itu maka peninggian lantai tidak dilakukan untuk memudahkan pergerakan orang dari dan ke angkot-lopo

lopo adalah salah satu tipe bangunan khas timor. hanya karena struktur semi publik ini terbuka tanpa dinding, maka di daerah yang sedingin fatumnasi tidak banyak struktur ini dijumpai. dan di hari itu, seharian tidak ada satu pun orang terlihat berkerumun di lopo. agaknya, struktur ini memang tidak populer untuk nongkrong masyarakat desa di sana. beda dari daerah-daerah timor lain [di kefa, misalnya] yang lebih hangat. di fatumnasi, tipe bangunan yang mudah dijumpai adalah rumah bulat [umekbubu] itu.

struktur lopo ini adalah tipikal bale yang populer di kawasan nusantara: hanya punya atap dan tiang-tiang penyangga. dan sama seperti geometri dari umekbubu, lopo berdenah lingkaran dan bisa diakses dari semua arah. karena bersifat lebih publik katimbang ume, maka atap alang-alang itu tidak turun hingga menyentuh tanah, seperti halnya yang terjadi pada ume. atap alang-alang untuk lopo dibuat dengan ketinggian orang dewasa.

lalu, di mana orang-orang bergerombol, berhimpun, saling bertemu? di rumah-rumah. oleh sebab itu, desa ini tidak bisa terlalu besar. berkelompok-kelompok mereka tinggal. bila akan berkumpul maka mereka berkumpul dari rumah ke rumah.

prosesi pusaka

saya menulis  ini  setelah bangun  dari istirahat karena semalam ikut prosesi kirab pusaka di istana mangkunagaran surakarta. saya datang bersama adik karena diundang untuk mendampingi pusaka nomor 2

[entah diberi nama apa pusaka ini. demikianlah keheranan saya: pusaka kok tidak diberi nama dengan kyai sebagaimana selama ini saya kenal, tapi dengan  nomor].

pusaka  dalam  tradisi mangkunagaran  umumnya  adalah alat-alat bela  diri yang berupa persenjataan. tapi  tadi malam ada  juga  baju peninggalan pendiri wangsa mangkunagaran ini [mangkunagara I atau sering disebut sebagai pangeran samber nyawa]. artinya, konsep pusaka itu bisa luwes. karenanya maka bentuknya pun bisa berupa bermacam-macam benda. bisa alat pertanian [demikian yang berlaku di karaton surakarta yang bahkan menghadirkan sekeluarga kerbau di samping alat pertanian], bisa alat pertahanan [tombak, keris, pedang dsb.], bisa pula bangunan [misalnya masjid demak, atau makam imagiri]…

apa pun bentuknya, pusaka itu selalu berupa benda yang didapat karena mewarisi dari orang tua atau yang didapat dari nenek moyang. karenanya maka yang memilikinya berarti dianggap mendapatkan restu dari nenek moyang. dalam masyarakat  pertanian, gagasan untuk memiliki pusaka ini hidup menyertai gagasan tentang kontinuitas kelangsungan hidup suatu wangsa atau keluarga. suatu wangsa sebaiknya bisa beranak-pinak makin banyak dan hidup terus selama mungkin. dalam ingatan dengan atau tanpa bantuan alat-alat pengingat yang disebut pusaka tadi.

saya menulis ini sambil mengingat, seorang nenek di fatumnasi yang wafatnya menyiptakan arakan panjang orang-orang sedesa yang melayatnya. berkelompok-kelompok mereka melayat orang tua papa yang tidak bisa meninggalkan apa-apa ini. di jenazahnya, berlembar-lembar  kain tenun adat dipersembahkan orang-orang sedesa baginya,  juga  bagi anak-cucu yang ditinggalkannya.  bagi keluarga ini gagasan tentang  pusaka  tentu berbeda  dari orang pedalaman jawa yang semalam mengarak pusakanya di hadapan ribuan orang yang menyemut berdiri di kiri-kanan yalan yang dilewati.

api di umekbubu

barusan diskusi dengan teman-teman mengenai api dan ruang.
sudah diketahui bahwa perapian merupakan pusat dari kegiatan merumah. di sekitarnya berlangsung kegiatan yang membutuhkan terang, panas dan kehangatan darinya.
api diperlakukan sebagai sumber dari hal-hal tadi. semakin mendekat, semakin kita mendapat. dan semakin menjauh semakin menyusutlah yang kita dapat.

relasi sosial yang diakibatkan dari rumah yang berpusatkan api ini jelas adalah relasi yang berpusatkan pada orang-orang yang dianggap sebagai sumber. orang-orang yang punya lebih banyak pengalaman hidup, yang tidak lain adalah orang-orang tua.

belum ada 1o hari lalu saya tidur dan berdiskusi di dalam rumah pak ande [andreas] di desa fatumnasi. rumah yang lebih rendah dari tinggi badan saya sendiri ini juga berpusatkan di api. tempat semua anggota keluarga -termasuk ayam dan 2 ekor anak babi- berkumpul di dekatnya mengharapkan kehangatan.

dinding bulatnya, maupun keempat tiang penyangga lantai atas dan permukaan bawah lantai atas tadi semuanya berselimutkan jelaga. berkilat-kilat dengan bau kayu bakar yang khas. juga jagung-jagung yang dikeringkan dengan digantung, dan segala perabot dapur serta rumah tangga berselimutkan jelaga.

dapur? tidak ada dapur di sini. satu ruang untuk segala keperluan. ruang tunggal ini belum dipecah-pecah oleh nama kegiatan yang menggunakannya. ada -memang- pembagian tempat, tapi tidak ada pembagian ruang.

api yang mampu menembusi ruang dengan intensitas yang semakin jauh semakin redup ini juga membuat ruang semakin dekat ke api semakin utama, semakin publik. dan sebaliknya, semakin ke luar semakin gelap, semakin privat. di ruang-ruang tepi itulah berbagai keperluan privat juga dilangsungkan.

di rumah ini, kami tidur dan berlindung dari udara luar yang menggigilkan.

rumah bulat di batu tua

nama desa ini fatumnasi, yang menurut pak lambert oematan, bisa diindonesiakan sebagai batu tua. nama suatu desa di lereng bukit mutis, di timor. kadang kala,  nama fatumnasi bisa diartikan sebagai batu berjenggot, entah apa maksudnya. tapi di sana memang adanya batu melulu. dan di hutan lindung gunung mutis itu, pohon-pohon banyak yang batang dan rantingnya berjenggot. bersulur-sulur di sekujur batangnya.

saya ke sana, karena didorong ingin tahu lebih lanjut tentang rumah adat orang timor. orang-orang gunung yang menamakan dirinya sebagai atoni pah meto. orang-orang dari tanah kering, begitu bila diindonesiakan nama diri tadi.

rumah-rumah di fatumnasi umumnya terdiri  dari dua buah struktur bangunan. rumah bulat, yakni rumah induk, dan istanis, atau rumah depan. rumah bulat [umekbubu] adalah rumah asli mereka sebagai orang gunung. berdenah lingkaran dengan diameter sekitar 6 meter dan tinggi bangunan juga sekitar 6 meter, rumah ini memuat segenap kebutuhan tinggal dan menetap orang-orang timor.

sedangkan istanis adalah bangunan persegi panjang, berukuran sekitar 5×6 meter, dengan dinding dari pelepah dauh lontar yang disusun berderetan membentuk pola larik-larik vertikal. di sini mereka menerima tamu, dan juga membuat kamar untuk sehari-hari di musin panas. istanis bisa ada bisa tidak dan bila ada maka ia selalu diletakkan di depan atau di samping rumah bulat. ini pertanda bahwa struktur ini memang datang belakangan. dibuat belakangan.

dengan bentuk rumah bulat yang seperti itu maka bisa dimaklumi bila pengembangan suatu rumah adalah berarti penambahan struktur baru di halaman rumahnya. bentuk bulat itu sulit dikembangkan atau diperluas dalam dirinya.