Posts Tagged ‘haiku’

catatan pengembaraan

ini tokoh keren.
saya tidak mengira bahwa haiku ternyata ada beberapa lagi jenisnya. tidak melulu 5-7-5.
tidak mengira pula bahwa ada tokoh haiku selain matsuo basho, yang terkenal itu.
taneda santouka, lahir di peralihan abad XIX-XX, mewarisi kegelisahan dunia masa itu. kegelisahan antara mempertahankan yang ada dengan menerima hal-hal baru yang belum menjanjikan apa-apa.
rumah tangganya porak poranda, ditambah kebiasaannya minum, ia mengelana. mungkin lebih tepat menggelandang, karena ia hidup secara bebas. menjadi rahib dan berbusana seperti rahib pengelana, tapi meminta-minta tidak atas nama kuil atau biara tertentu…
dalam pengelanaannya itu ia melahirkan haiku bebas yang dikumpulkan dalam buku hariannya yang kemudian diterbitkan dalam buku ini.
mengelana, buatnya adalah suatu proses menuju dirinya sendiri.
dan haiku yang dilahirkannya merupakan penyaksian proses ini. haiku dia bukan sarana deskriptif mengenai hal-hal yang dia lihat, rasakan, tapi adalah penjelmaan hal-hal tadi.

oto wa
shigeru ka

bunyi itu
hujankah?

diterjemahkan dan diberi pengantar oleh burton watson dengan bagus dan bahasa yang jelas, saya terpesona oleh haiku-haiku taneda ini.

hari haiku

hari ini tadi tiba-tiba sensei memanggil kami semua ke ruangnya yang sekaligus perpustakaan yang dipenuhi buku-buku.

di dalam sudah tersedia kue ketan yang dibungkus kacang kedelai mirip isi mochi [mochi adalah kue ketan/jadah yang dalamnya kacang kedelai, sedangkan kue yang dibagi tadi adalah kebalikannya: ketannya di dalam balutan kacang kedelai]. kami makan bagian masing-masing.
konon, menurut sensei,
kue ini biasa dimakan untuk menandai awal musim semi seperti sekarang ini. kadang dibawa ke taman untuk dimakan di bawah bunga-bunga sakura yang mulai bermekaran.

setelah kami makan bagian kami, maka sensei meminta masing-masing dari kami untuk membuat haiku di kertas yang ia berikan. saya mendapat giliran kedua setelah teman dari cina, dan saya memilih syair terkenal dari rendra “langit di dalam, langit di luar, bersatu dalam jiwa” sambil saya bubuhi gambar rumah sebagai representasi ruang buatan yang menyelaraskan langit luar dan langit dalam tadi. ini saya cocokkan dengan suasana hati saya yang sedang terkesan dengan cara orang jepang menyelaraskan diri dengan alam, bukan mengalahkan dan menundukkannya. lain dari itu, saya juga mengaku tidak siap membuat puisi yang tercipta dalam waktu cepat. saya hanya mencari yang cocok dengan situasi kami [pelajar arsitektur] sehingga ¬†saya memilih untuk tinggal mengambil puisi pendek yang sudah tersedia di ingatan saja. tidak mencipta yang baru.

sedangkan ibu hiroko yang menulis setelah saya membuat haiku mengenai kue ketan yang dimakan di antara buku-buku. cocok dengan situasi kami yang makan mochi di ruangan penuh buku tadi. demikianlah setelah itu kami bergiliran menceritakan isi haikunya.

yang mengherankan saya adalah bahwa mereka [orang-orang jepang dan cina] semuanya mampu membuat haiku dalam waktu yang cepat sekali. rupanya, demikian kisah ibu hiroko, anak-anak jepang memang sudah terbiasa diminta oleh guru mereka di sekolah untuk membuat puisi pendek sependek dua larik itu.

haiku, puisi pendek, ringkas, langsung pada intinya… amat bagus untuk latihan pikiran kita agar terfokus, tidak bercabang kemana-mana dan dalam waktu cepat. saya mengaku kalah dengan anak-anak muda itu!