Posts Tagged ‘history’

history of nearly everything

A Short History of Nearly EverythingA Short History of Nearly Everything by Bill Bryson

My rating: 4 of 5 stars

saya beli edisi paperback ini di periplus bandara juanda surabaya. kecil tapi tebal dan [untunglah] ringan karena kertasnya kualitas buku-buku paperback.
tertarik karena gaya ceritanya mirip jared diamonds. maksud saya, bercerita mengenai hal-hal serius dengan lucu dan santai. dengan enteng. cocok untuk buku jenis beginian, yakni buku yang bisa ditenteng dalam perjalanan, mengisi waktu tunggu kendaraan.

di sini bryson mau omong mengenai riwayat segala hal.
dari terciptanya alam semesta hingga yang rumit [bagi saya] semisal tentang tabel berkala unsur dari pelajaran kimia. dan bukan hanya riwayat dari benda-benda, namun juga riwayat dari konsep-konsep dalam sains, seperti waktu, semesta, atom dst.

dari buku ini juga saya tahu, bahwa letusan gunung terhebat di dunia sejak sepuluh ribu tahun terakhir adalah letusan gunung TAMBORA di pulau sumbawa, indonesia [hal 505 dst.]. letusan di tahun 1815 ini telah mengganggu keseimbangan semesta. dunia jadi lebih dingin. “…spring never come and summer never warmed: 1816 became known as the year without summer”.
abad itu, demikian bryson menulis lebih lanjut, di amerika utara dan eropa terjadilah “A Little Ice Age”. dan di tahun-tahun itulah penyair lord byron menuliskan puisinya yang terkenal DARKNESS:

“I had a dream, which was not all a dream.
The bright sun extinguished and the stars
Did wanders…”

demikianlah contoh gaya bryson, mengaitkan sains dengan kejadian-kejadian historis di ranah kebudayaan, seni dan filsafat, sehingga kisah sejarah bisa menerangi pengetahuan kita tentang banyak hal.

jalan kampung kota

malam itu yoshi menelpon, meminta agar saya jadi nara sumber ‘pocokan’ di samping beliau sendiri yang jadi nara sumber utama dalam wawancara di radio eltira.
wah,
lha radio saya tuh nggak akurat lagi dalam mendeteksi gelombang je…
radio ini adalah salah satu kurban gempa kemaren yang bikin dia -kesayangan rewang saya -itu jadi bingun kalau disuruh nyari gelombang pemancar tertentu.
apalagi, di yogya hampir semua radio numplek di sekitar gelombang FM 102-104…yah…jadinya tumpang tindih gak keruan: kadang nyaut kadang enggak.

tapi tawaran yoshi saya sanggupi, mengingat jasa baiknya yang sudah banyak dalam mengenalkan saya pada orang-orang dan guru-guru dalam saya memahami kota dan -khususnya- perkampungannya.
yoshi adalah pahlawan kampunglah..!

moderatornya ons oetoro. ini orang tangkas yen takon…
lewat telepon aku ditanya mengenai mengapa di kota-kota kita makin banyak ruang publik yang hilang?

halah…
lha aku apa ngerti yen ditakoni kaya ngene iki? jaan…
tapi tanpa ragu-ragu -on air lagi- dia menodong sampai saya ngomong. omongan saya apa saya sendiri lupa, pokoke waton njawab. dan entah apa yang kemudian berlangsung di studio, moderator lalu menerima penelpon lain, yang katanya dari sala. dan hubungan denganku putus. dan karena radioku pun tidak bisa ‘nyaut’ acara itu, maka putus pula hubunganku dengan topik itu.

‘mengapa kota kita banyak kehilangan ruang publik?’
saya lalu menulis catatan sedikit tentang itu.
tapi, apa kita pernah punya ruang publik? itu pertanyaan dalam batin saya.
lha apa kita pernah menghargai orang per orang sebagai setara? bukankah kita lebih menindas satu pada lainnya?

mungkin kita pernah bermasyarakat yang egaliter dan tidak terlalu hirarkhis, menilik kita masih mengingat istilah-istilah pasaran ‘legi, pahing, pon, wage dan kaliwon’.
konon, ini menurut ossenbrugen, masyarakat jawa kuna terbangun dalam konfigurasi 4 desa-desa di keempat penjuru mata angin dengan satu desa tengah sebagai koordinator. orang jawa masih mengingat istilah ‘keblat papat, kalima pancer’ sebagai sarana orientasi.
konon, dulu ada empat pasar di keempat penjuru angin [pasar legi di timur, pasar paing di selatan, pon di barat, wage di utara dan pasar kaliwon di tengah]. keramaian dan seluruh kegiatan pasar berpindah-pindah sehingga pada masa itu tidak pernah terjadi akumulasi kekayaan suatu desa. semua desa mendapatkan kesempatan didatangi dan diramaikan oleh kelima warga desa dalam satu mancapat itu.
nah,
‘mancapat’ , itulah sistem klasifikasi dan orientasi masyarakat jawa waktu itu.
dengan sistem penataan seperti ini maka tiap desa mendapat bagian atau berkesempatan menjadi publik pada hari pasaran yang sudah ditetapkan bersama. tidak ada desa lebih makmur dari desa lainnya, tidak ada desa yang jalan-jalannya lebih besar dari jalan desa lainnya…tidak ada bangunan yang lebih megah dari lainnya.

mungkin itu ada benarnya.
kalau kita membaca drama ‘mangir’ karya pak pramoedya, maka jelaslah bisa dipahami mengapa banyak desa di bantul waktu itu memberontak pada mataram yang ingin lebih tinggi posisinya dari pada lainnya. ingin mendominasi desa-desa lain sekitarnya.
maraklah pemberontakan mangir wanabaya.

pemberontakan yang ingin memulihkan martabat desa-desa dan juga watak asli jawa yang egaliter! yaa… mungkin kita pernah punya ruang publik.

[republish dari multiply, 10 oktober 2006]

melongok masa lalu via pak ong

saya menemukan tulisan ini dari milis mediacare@yahoogroups.com, saya muat di sini setelah memperoleh ijin dari penulisnya [aboeprijadi santosa/tossi]. yang menjadi perhatian saya di sini bukanlah pada pak ong itu sendiri, tapi hal-hal yang sudah menjadi concern beliau. sehingga, melalui beliaulah kita mendapatkan cara melihat masa lalu yang baru.

Onghokham, Sejarahwan Imajinatif

(Versi semula disiarkan dalam rubrik `Ranah Pengetahuan’, Radio Nederland, 4 Sept. 2007)

Aboeprijadi Santoso

Suatu hari, di awal 1970an, sejumlah dosen Indonesia berada di kantin
K.I.T.L.V. Koninkelijke Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde, waktu itu di seberang stasiun, Stationsplein, Leiden. Satu diantaranya melenggang sendiri, datang memperkenalkan diri di kalangan mahasiswa. Onghokham, waktu itu meneliti arsip Belanda suka mencari kalangan baru dan terjun dalam diskusi. Sejak itu, saya mengenalnya sebagai rekan diskusi – di kantin KITLV, di café, bar, di
rumahnya di pinggir kade di Leiden, di seminar, di jalanan menyelusuri kota Leiden, Amsterdam, di rumah rekannya, Heather Sutherland (sekarang guru besar emeritus Vrije Universiteit, Amsterdam), sampai di rumahnya, di Cipinang Muara, Jakarta Timur,
Juni yang baru silam. Kamarnya di Leiden, semacam gudang di lantai teratas (zolder), selalu ambur adul. Buku bukunya, Pinguin Pockets Perang Saudara Spanyol, Revolusi Cina, feodalisme Eropa dan kajian keIndonesiaan, sampai buku-buku masak Jawa dan Eropa, berserakan.

Seorang akademikus yang bersahaja, Onghokham suka, mudah bergaul; juga seorang cendekiawan yang nyentrik, berwawasan luas, analitis, jeli, sering orisinal dan tajam. Ong bergulat dan merasuk ke dalam sejarah, sekaligus menikmati dunia culinair (masak-memasak). Di kedua dunia itu, dia nyaris pantang sendirian. Dia selalu melibatkan rekan,
mengajak teman bertukar pikiran dan makan makan. Di rumah sendiri, dia memamerkan kepiawaiannya dalam hal memasak. Di rumah orang, dia kasak kusuk di dapur, bertanya tentang masakan atau minta dimasakkan sesuatu yang digemari, atau belum dikenalnya. Semua itu diselingi dan diakhiri dengan minum bir, anggur atau kesukaannya, yakni jenever Belanda dan keju Prancis Camember.

Dengan cara itu, dia memperluas wawasan, kerabat-pikiran, jejaring teman dan publiknya, serta menikmati makanan, minuman dan kehidupan.
Pantas, pesta ulang tahunnya selalu sarat tokoh tokoh publik, selebriti dan cendekia. Maka dia menjadi semacam cendekia-selebriti, namun jauh dari gemerlap selebriti. Penampilannya unik, biasanya agak kumal, kalau pun berdasi selalu miring, tapi ujung-ujungnya sering membekali publiknya dengan inspirasi. Lewat seminar, kolom kolomnya, terutama dalam Mingguan TEMPO dan wawancaranya di media asing, dia menyumbang gagasan dan kritiknya. Dia menjadi `guru’ tidak hanya di ruang kuliah. Dengan gayanya itu, Onghokham adalah sejarahwan yang mengabdikan ilmu dan pengetahuannya kepada masyarakat, lebih luas dari pada sekadar bagi diri sendiri dan rekan rekannya.

Di masa itu, saat maraknya isu Perang Vietnam dan naik daunnya Kiri Baru di Eropa, Ong mengakui analisis Marxis menarik dan tajam. Rekan rekan (hampir) segenerasinya, Ben Anderson, Dan Lev, dll banyak tergolong cendekia yang melawan perang Amerika di Asia Tenggara. Tapi Ong, yang mantan wartawan, suka baca koran koran sayap ‘kanan’ semacam Wall Street Journal dengan alasan yang berbau ‘Marxis’: koran koran itu informasinya handal, katanya, karena para kapitalis mempertaruhkan modal dengan mengandalkan info media yang kayak gitu.

Ada beberapa hal yang layak dicatat pada cara pandang Onghokham.
Wawasannya komparatif (visi perbandingan) dan jeli (wity), karena itu, sering mengagetkan orang. Sejarah Eropa, kata dia, adalah sejarah yang `lengkap’ (sumber-sumber primairnya lebih dari memadai) atau dia bertolak dari sejumlah peristiwa besar (a.l. Revolusi Prancis, Revolusi Cina, perjuangan kemerdekaan Indonesia) sebagai rujukan-rujukan pokok.

Salah satu tulisannya yang cantik, “The Inscrutable and the Paranoids” (dalam The Thugs, The Curtain Thief and The Sugar Lord, 2003), menunjuk pada peristiwa pencurian di rumah Residen Madiun, J.J. Donner. Ulah pencurian berantai itu, terutama pencurian gordijn (tirai kain) yang menyingkap isi rumah mereka, membuat penguasa Belanda merasa dipermalukan di hadapan Bupati Raden Mas Adipati Brotodiningrat, dan, terutama, di hadapan rakyat. Pasalnya, Belanda mengklaim sistim pemerintahannya sesuai adat Jawa dan berupaya merebut hati rakyat. Menurut Ong, insiden insiden dan sengketa Belanda dan sang Bupati, “de kwestie Brotodiningrat” itu, mengungkap struktur sosial Jawa di abad ke XIX: posisi Belanda yang mudah rentan, posisi penguasa Jawa yang cerdik dan licik memainkan bola kekuasaan, karena para Bupati inilah yang berwibawa dan menguasai kelompok petani kaya.

Di situ, Onghokham menohok satu butir yang penting dan mendasar: bahwa institusi `kepemilikan tanah’ penguasa Jawa sebenarnya bersandar pada “his leadership over men rather than on claims over territory” (ibid. hal.7). Asas itu membuat cara cara “feodal” Jawa mengukur `kepemilikan’ tanahnya, menjadi identik dengan cara cara menunjukkan `kekuasaan’nya, yakni, bukan dengan bilangan hektar, melainkan dengan hitungan (“cacah”) jumlah keluarga petani (petani kaya: sikep) yang tergantung sekaligus mendukung sang Bupati. Asas penguasaan lahan yang demikian, membuat penguasa Belanda secara politik lemah dan, kelak, para pengamat Barat yang bertolak dari purba-sangka feodalisme Eropa, menjadi `bingung’. Namun Ong mengingatkan, sistim itu hanya mungkin karena, kala itu, lahan tani di Jawa melimpah ruah, sedangkan tenaga kerja, langka.
Kelak, ketika jumlah penduduk Jawa melonjak, asas tadi – “cacah” – kehilangan makna aslinya, lalu menjadi sebutan belaka bagi sensus penduduk. Antropolog Amerika Clifford Geertz mengembangkan tesis “involusi” dengan mengatakan, para petani Jawa menanggapi sistim Tanam Paksa Belanda (Cultuurstelsel) dengan lompatan demografis, dst, sedangkan Ong, lebih sederhana namun cerdik dan jeli, menunjuk pada lahirnya tempe sebagai makanan rakyat pengganti daging, karena rakyat Jawa makin melarat. Menurut Ong, gudeg yang juga asli Jawa, mungkin juga substitut daging yang terjadi akibat sistim Tanam Paksa (1830-1850).

Sistim cacah yang mengungkap sistim kekuasaan ala Jawa tadi, menghasilkan kantong-kantong kekuasaan Jawa yang secara geografis tersebar (dispersive). Maka Ong menyimpulkan bahwa `desa’ sebenarnya adalah gagasan birokrat birokrat kolonial Belanda, bukan gagasan Jawa. Artinya, itu adalah cara penataan teritorial pedesaan Jawa yang diperlukan untuk memudahkan pemungutan pajak Belanda. Belakangan, sosiolog Belanda, Jan Breman dari Universitas Erasmus, Rotterdam, mengembangkan ide desa ala Belanda – temuan imajinatif Ong tsb -sebagai bagian dari sistim kolonial. Begitu pula apa yang disebut rijstafel, sajian makanan “Indonesia” yang populer di kalangan Indo-Belanda yang dapat ditemui di restoran restoran “Indisch” di Belanda kini, ditunjuk Ong sebagai hasil imajinasi Belanda, bukan gagasan asli Indonesia.

Dengan terobosan-terobosan itu, sebenarnya Ong mendorong para pengkaji Indonesia agar melepas diri dari kungkungan subtil dari paradigma para birokrat dan sejarahwan Belanda di masa lalu.

Hanya Aceh, dengan tradisi lembaga negara yang panjang, dan sistim kepemilikan yang jelas dan tegas, yang mirip feodalisme Eropa. Kesultanan Aceh tentaranya memakai gajah, artinya tentara yang reguler, sedangkan Mataram, misalnya, tentaranya ekspedisioner, yang dikerahkan kalau melakukan ekspedisi untuk menggertak lawan atau merebut wilayah. Dan feodalisme Eropa penting untuk dipahami sebagai landasan bagi kapitalisme moderen, demikian Ong sering mengingatkan.
Pada 1970an itu, Ong sulit membayangkan kaum bermental priyayi Jawa bakal menjadi kapitalis, ‘borjuis’ Asia baru. Di situ, Ong mungkin meleset, Orde Baru membuktikannya.

Bagi Onghokham, Eropa (Prancis), Cina dan Jawa, baik di dunia culinair mau pun dalam membangun wawasan kesejarahan, amat memukau. Sejarah ketiga negeri itu diguncang revolusi dan banditisme dalam formasi dan bentuk yang berbeda-beda. Robin Hood di Inggris berbeda dengan Ken Arok dan `titisan-titisan’nya di Jawa. Gambaran Ong tentang Jawa pra-Tanam Paksa mengesankan sebuah dunia yang `anarkis’ (bukan dalam artian kacau balau, melainkan: tak tertata) yang memekarkan tokoh tokoh di dalam dan di luar kelas penguasa, yang perilakunya menonjolkan dan menuntut kehormatan, melalui ciri ciri dan ulah fysik mereka – semacam ulah ayam jago diantara sesama ayam.

Gagasan Onghokham tentang fenomena `jago’, sebagai bagian dari struktur kekuasaan “feodal” di pedesaan Jawa itu, kelak dikembangkan oleh para antropolog sebagai gejala premanisme di perkotaan, selaku bagian dari sektor informal dari sistim politik kapitalisme-semu di negara-negara berkembang. Dalam konteks itu, ketika menulis tentang negara dan kriminalitas, tentang fenomena Petrus (penembak misterius) versus gali-gali di awal 1980an, Ong secara tersirat menyampaikan pesan, bahwa sistim Orde Baru, dengan militerisme dan Golkarnya, sesungguhnya tidak lain adalah sebuah bentuk banditisme moderen.

Onghokham, sohib dan guru itu, telah pergi. Selamat jalan, Pak Ong!

Penulis adalah wartawan di Amsterdam (eks Radio Nederland).

kembali ke tembayat

kemarin saya mengantar beberapa orang rekan ke tembayat, klaten selatan. ini kali keempat -mungkin- saya kembali ke tembayat.
tempat yang punya bangunan masjid keren, bernama masjid GALA. masjid ini berdekatan dengan kompleks makam sunan pandanaran, seorang pendakwah dari pantai utara [semarang] dan bekerja hingga ke pedalaman jawa ini.

masjid GALA tidak punya serambi. selain karena situsnya yang di puncak bukit itu tidak memungkinkan untuk dibuat bangunan tersebut, juga inilah salah satu masjid tertua di jawa yang belum mengalami ekspansi spatial karena tuntutan fungsi yang makin bertambah. de graaf mengatakan bahwa penambahan bangunan masjid dengan serambi itu adalah perkembangan kemudian dan itu terjadi kali pertama di kajoran, sekitar klaten juga [tapi saya belum pernah ke sana]. setelah itu baru disusul oleh masjid-masjid yang lain, termasuk masjid demak.

masjid GALA ini masih memertahankan sebagai konstruksi rangka kayu, dengan atap sirap papan kayu. ekspresi sebagai struktur rangka kayu terlihat pada penyelesaian dinding yang dilepaskan dari rangka, sehingga dinding ini tidak ikut menanggung beban [bandingkan ini dengan salah satu prinsip dalam five points of architecture dari le corbusier]. dinding ini lebih berfungsi sebagai “pembungkus” atau “selubung” ruang sakral katimbang penopang beban, suatu “wand” katimbang “muur“. meski pun dindingnya cukup tebal [sekitar 30cm].

di sini dipamerkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan struktur inti dari sebuah atap tajug.

antara masjid GALA dan permakaman bayat [demikian orang menyingkat nama tembayat] sekarang dipenuhi oleh perkampungan, sehingga pemandangan dari kedua bukit ini tidak bebas tapi terhalang puncak-puncak atap rumah dan antena TV. ada jalan yang menghubungkan kedua tempat itu, namun sayang sekali jalan ini tidak dijadikan satu paket kunjungan: kebanyakan orang didorong untuk pergi ke makam katimbang ke masjidnya!

leo kristi dan milis leokristi

beberapa hari lalu penyanyi yang menamakan diri sebagai leo kristi diwawancara dalam acara kick andy. dalam acara itu leo kristi diminta menyanyikan lagi lagu-lagunya yang dulu populer dan memikat banyak hati. banyak orang yang merindukan kembali dia bernyanyi dengan syair yang kuat dan mengeratkan rasa cinta bangsa dan tanah air kita.

popularitas leo kristi dan syair-syairnya masih terpelihara hingga kini, di masa tumbuhnya subkultur yang terbentuk oleh komunitas milis di internet yang juga melahirkan milis untuk para penggemar lagu-lagu leo kristi.

ternyata, yang ia bawakan malam itu mengecewakan banyak sekali anggota milis tadi.

mas leo memang bukan anggota milis tadi. dia hidup di tempat lain.
sedangkan para penggemarnya, di milis tadi, memelihara leo yang lain.

antara mas leo dan ‘leo yang lain’ yang bukan anggota milis tadi hanya di satukan oleh pengalaman di masa lampau ketika ada lagu-lagu macam gula-galugu dan sebagainya itu.

di milis tadi hanya lagu-lagu itu saja yang hidup. penciptanya sudah dimatikan.
dan tentunya akan ditolak kalau dia hadir tidak seperti yang diangankan para anggota milis itu. sebab pusat dari milis itu adalah lagu-lagunya, karyanya.
[kecuali kalau mereka mau mengubah orientasi menjadi milis pemujaan pada tokoh yang bernama mas leo].

jadi,
ketidakpuasan atas penampilan mas leo di kick andy itu hanya menegaskan bahwa yang dipelihara dan dirawat di milis itu adalah karya seninya, bukan penciptanya.

“hidup itu singkat, tapi [karya] seni itu langgeng”.

vita brevis, ars longa!

1 2 3