Posts Tagged ‘history’

sejarah benda-benda

saya harus menulis mengenai sejarah atau riwayat benda-benda rumah tangga. saya akan mengambil benda-benda di sekitar rumah sendiri [ini pun rasanya sudah banyak he..he..]

tapi, yang menggelantungi pikiran saya adalah bagaimana riwayat benda-benda itu harus dikisahkan? bahkan, sebelum mengisahkannya, bagaimana kita memahami datang dan perginya benda-benda ini? bagaimana dia didudukkan dan ditata sehingga terpahami?

benda-benda itu ada karena menjalankan suatu fungsi dalam aktivitas manusia. dia terlibat penuh di dalamnya. orang mandi, sudah melibatkan sabun dengan bentuk, warna, bau, tekstur tertentu. untuk mengeringkan badan basah pun dia perlu mengambil kain yang sering disebut sebagai handuk yang punya daya serap, lebar, warna, ketebalan tertentu. [handuk itu kayaknya terjadi dari kata handoek=kain pembersih tangan, tapi di indonesia fungsi itu berpindah dari tangan ke badan].

bahkan untuk mengguyurkan air ke badan pun ada berbagai benda yang terlibat. bila menggunakan bak mandi maka akan diajak pulalah gayung yang bentuk, warna, dimensinya tertentu. bila menggunakan shower, maka kekuatan pancaran, arah pancaran, luas cakupan pancaran.. itu menjadi determinan.

benda-benda diakui terlibat penuh dalam aktivitas harian manusia, dan karena benda-benda ini untuk kegiatan harian maka banyak orang menggunakannya pula. tentunya jumlah banyak, buah dari suatu kegiatan industri, dan untuk itu pasti tersedia di pasar. dan agar yang dipasar itu bisa dikenali oleh calon orang yang membutuhkannya maka akan diperlukan adpertensi.

benda-benda, kehadirannya selain ditentukan oleh gaya hidup semasa, industri, juga iklan atau adpertensi tadi. bila demikian halnya, maka kalau mau mengetahui alat-alat mandi di keluarga tionghoa di jalan solo, yogyakarta di tahun 1930-an, maka kita perlu melacak atau menggali informasi hal-hal itu tadi: gaya hidup orang tionghoa pada masa itu di lokasi jl.solo tadi, iklan yang tampil di koran lokal, dan mungkin artefak atau benda-benda yang masih tersisa di keluarga-keluarga di sana. yang mungkin masih disimpan berhubung dengan ingatan nostalis atau ‘pusaka’ dari kakek-nenek.

sejarah benda-benda rupanya musti dilihat secara berbeda dari sejarah bangunan. sejarah benda-benda lebih dinamik: muncul dan surutnya itu cepat. juga lebih melibatkan banyak pihak, komponen kemunculan dan surutnya itu tidak cuma satu atau dua. lebih populis, massal, yang karenanya sejarah benda-benda juga secara langsung memerlihatkan sejarah gaya hidup semasa.

tukang, kemana perginya para tukang?

kalimat saya di atas disambar oleh pak yuswadi ketika bersama-sama hadir dalam kuliah umum di universitas pelita harapan, jakarta, 22 maret 2007. [lihat posting terdahulu]

siang itu saya duluan membawakan kasus maclaine pont sebagai arsitek yang berada dalam situasi ketika arsitektur di nusantara, khususnya jawa, mengalami modernisasi barat. maclaine pont saya bawakan sebagai agency yang dikitari oleh kekuatan-kekuatan media massa, pergulatan identitas pribumi, kapitalisasi sarana transportasi dan perkebunan, diberlakukannya kaidah hygiene dalam rancangan rumah dan tata kota, serta ide-ide sosialisme.

wacana ketukangan para pelaku produksi arsitektur di jawa adalah bagian yang memang dimasuki oleh maclaine pont karena bagian ini dinilai akan menjadi kurban dari modernisasi pembangunan perumahan rakyat yang dilakukan pemerintah. maclaine pont yang tidak berada dalam pihak pemerintah ini memberi solusi alternatif lewat penerbitan pemikirannya di media massa milik oleh kaum etisi yang romantis dan orientalistik.

pemikirannya tidak laku. tidak mendapatkan kesempatan untuk dioperasionalkan. david hutama setiadi membuat pernyataan menarik untuk kasus ini: “meski pun gagasan maclaine pont itu termasuk bagus, tapi tidak ada orang jawa yang membangun rumahnya berdasarkan pemikirannya.”

para tukang jawa kebanyakan tidak mengenal pemikiran maclaine pont. publikasi maclaine pont tidak menjangkau para tukang jawa, karyanya tidak menjadi sarana belajar para tukang jawa.

pak yuswadi menyambar kalimat saya di atas dan menyambungnya untuk presentasi beliau tentang design sebagai salah satu cara mendapatkan pengetahuan, di samping yang sudah ada: ilmiah dan seni. mengembangkan gagasan yang bergema sejak herbert a. simon [the science of the artificial] dan nigel cross [designerly ways of knowing].

pemikiran pak yuswadi ini sebenarnya dinantikan oleh banyak orang, untuk membantu mendudukkan disain sebagai suatu fakultas tersendiri, tidak di bawah seni rupa atau teknik seperti sudah berlaku selama ini. mungkin dalam waktu dekat ini disertasi beliau ini sudah bisa dinikmati publik.

[foto-foto saya yang dibuat undi gunawan bisa anda klik di sini dan sini]

rupture in culture

ini tajuk yang dimajukan oleh jurusan arsitektur UPH [universitas pelita harapan] dalam acara seri kuliah umum, akhir bulan maret dan awal april 2007.

kepada saya, salah seorang panitia memberi gambaran persoalannya seperti orang cina indonesia yang ingin menghadirkan kecinaan dia melalui berbagai atribut macam busana, makanan, nama, bangunan dst. penghadiran itu menurutnya tidak otentik karena mereka tidak pernah menghayatinya, selain dari membayangkannya belaka.

pendapat ini dilontarkan ketika menanggapi tulisan saya mengenai kerinduan orang jawa yang juga ingin meraih kembali ‘bayangan’ kejawaan yang konon pernah ada. yang lamat-lamat ia dengar dari berbagai kisah yang sampai pada dia. [silakan lihat tanggapan ini di sini]

saya belum tahu, tapi saya ingin nimbrung dalam pergulatan itu di UPH situ 🙂

1 2 3