Posts Tagged ‘identity’

bungkus dan identitas

meski pun bahan yang digunakan sama, namun bila disajikan dalam bungkus yang berbeda-beda, nama makanan itu pun berbeda pula. bukan hanya namanya, namun juga rasanya. juga lauk-pauk. atau kudapan lain yang biasa menyertainya  pun tidak sama. masing-masing makanan ini membawa juga konteksnya sendiri.

dalam kasus ini, masing-masing makanan mendapatkan identitasnya dari bungkus yang mengemasnya.
apakah kasus ditetapkannya identitas oleh bungkus ini bisa diperluas untuk persoalan kultural seumumnya juga?

wajah dan tangan


di facebook seorang teman bertanya mengenai patung siapa ini.
saya susah menjawab.

patung ini hanya dipotret kepalanya saja. dan memang hanya bagian kepala dan dada saja patung ini dibuat, terpasang di atas ambang pintu. ada 12 pintu dan 12 kepala dada di atasnya. kepala ini begitu mirip seperti kepala-kepala patung lainnya.
memang ada perbedaan pada rinciannya, tapi ekspresi wajah patung itu tidak membantu untuk identifikasi siapa yang sedang dipatungkannya.

identifikasi patung umumnya malah dari tangannya: dia memegang apa, itu menandakan identitasnya.
siapa dia, ditunjukkan dari apa yang dia kerjakan melalui tangannya.

patung petrus, biasanya membawa kunci di tangannya.
paulus membawa pedang dan kitab tebal.
demikian pula pembawa cakra dan shangka adalah krishna atau wishnu, dan pembawa pengebut lalat berikut tasbih adalah shiwa.

tidak ketinggalan posisi tangan buddha akan memperlihatkan mudra nya, bukan dengan mengolah wajah atau bagian tubuh lainnya.

saya juga heran, apakah itu sebabnya sehingga patung-patung pujaan umumnya bertangan lebih dari dua. ada yang enam, delapan, bahkan enambelas, yang masing-masing membawa sesuatu atau memperlihatkan sikap jari tertentu.

mungkin ini semua menandakan bahwa yang diingat orang mengenai dewa atau tokoh
pujaan itu adalah apa yang ia kerjakan dalam sejarah. bukan wajah.

dalam dunia seni visual,
sejak kapan perhatian kepada wajah menggeser perhatian pada tangan?

amish dan pemurnian ajaran

pennsylvania

saya memuat kembali foto buatan 2007 ini, berhubung tiba-tiba ingat pada seorang rekan asal amerika [pennsylvania] yang pernah tinggal di mesir lama. dia anak baik, sopan dan religius.
bila pergi ke gereja, selalu mengenakan pakain pantas, bahkan kadang berdasi pula.

di mesir dia mengikuti pergolakan politik di sana, meski kemudian dia harus menyingkir keluar untuk beberapa minggu. dua hari lalu dia mengabari akan balik lagi ke mesir.
dia sudah kadung cinta dengan negeri yang sebenarnya tidak ramah dengan orang kristen, meski di sana ada gereja koptik tapi makin lama makin ditekan saja oleh perkembangan politik dan gerakan pemurnian islam.

foto di atas adalah foto rumah dan gudang dari orang amish, yang tinggal tidak jauh dari rumah teman saya tadi.
rumah yang bersahaja dan bersih. tempat orang-orang kristen amish menjalani hidup seperti di abad 18 ketika mereka datang dari belanda dan jerman. saya ambil foto rumahnya karena kami dilarang memotret orangnya.

begitulah,
mereka menjalani hidup yang tertutup dan cinta damai, anti kekerasan.
mereka menjalani hidup yang kembali “murni” sebagaimana dijalani oleh gereja awal.

kembali memurnikan gaya hidup. konsekuensinya adalah dengan menyendiri, atau bila cukup kuat, menekan pihak lain agar menurut gerakan pemurnian tadi.
orang amish memang minoritas. mereka tidak kuat, tidak pernah mau diajak masuk angkatan bersenjata. karena itu juga mereka hidup mengumpul di kawasan tersendiri, punya pasar sendiri, kendaraan sendiri, cara berbusana sendiri.

begitu berbeda alam yang dihayati teman saya tadi: di rumahnya sendiri pemurnian ajarannya membuat ia dan keluarganya menyendiri dan tidak pernah mengganggu orang lain, tapi sekarang di mesir dia ketemu dengan pemurnian ajaran yang dilakukan dengan mengusir atau menindas orang lain.

saya tinggal di jawa, pulau dengan masyarakat yang dibentuk oleh kondisi geografisnya yang terbuka dan mau tidak mau harus toleran dengan semua ajaran. buat orang jawa, kemurnian itu sesuatu yang asing bagi kami. oleh sebab itu kekerasan tidak pernah, atau sedikit sekali, berlangsung dengan motif kemurnian identitas. lebih sering karena rebutan potensi ekonomi.

burung-burung manyar

Burung-Burung Manyar
ini cara rama mangun mengisahkan babak peralihan.
berada dalam babak peralihan, kemungkinan yang terjadi adalah percampuran identitas di sana sini, di kedua belah pihak. pinjam-meminjam, tukar menukar peran, tukar-menukar posisi.
demikianlah maka sekujur novel yang mengambil setting peralihan antara belum dan sudah merdekanya indonesia ini penuh dengan pertukaran identitas tadi.
ada orang belanda tapi pro indonesia. dan sebaliknya, ada orang indonesia tapi pro belanda. demikian pula identitas karakter dalam wayang [suatu semesta simbolik yang dikenal oleh sebagian pembaca novel rama mangun] dipertukarkan dan dipermainkan.
jadi,
membaca novel ini, bisa menemukan 2 lapis kisah: kisah yang dinarasikan di permukaan, itu yang pertama. tapi juga ada kisah lain, yakni kisah pertukaran identitas, yang disimbolkan oleh penggunaan nama, pemeranan tokoh yang semuanya bermuara pada kesimpulan bahwa revolusi indonesia adalah pengalaman kultural yang dahsyat. mengubah sampai ke lapis-lapis dasar struktur identitas kita. karena itu, demikian pesan yang saya tangkap lewat strategi berkisah rama mangun ini: hargailah nation indonesia yang sudah terbentuk sebagi buah revolusi tadi.

sampai di sini saya tertegun.
indah sekali cara rama mangun menyampaikan pesannya!
terima kasih rama…

[terbayanglah cara boris pasternak menggarap problem kultural yang sama: revolusi bolzhevik dalam doktor zhivagonya]