Posts Tagged ‘islam’

membawa bukti, membawa berkah

ini adalah tradisi jawa yang dikenakan pada orang suci islam: sunan kudus.
mengganti luwur, atau selubung makam, bagi orang jawa adalah momen penting karena kain itu adalah satu-satunya barang yang bisa dibawa keluar dari makam. ketika mengunjungi makam orang suci identik dengan mengunjungi tempat yang sulit dan sakral, maka bila kita bisa membawa pulang sesuatu darinya, itu sama dengan membawa ke rumah kesakralan dari orang suci tadi. sama seperti kita menyimpan relikwi.
tindakan ini seperti membawa pulang air dari makam suci, atau membawa pulang daun pohon yang tumbuh di makam suci, atau bunga yang mekar di sana.. tindakan untuk mengabadikan sawab berkah kesucian orang tadi ke dalam rumah kita.
ada kalanya,
selubung makam tadi tidak untuk dibawa pulang dan dibagi-bagi, tapi cukup disaksikan, dengan munculnya fotografi dan video. dengan alat-alat itu, maka momen tadi bisa disaksikan dan dibawa pulang sebagai bukti.
membawa pulang bukti adalah gagasan modern, tapi gagasan mula-mulanya adalah membawa pulang sawab berkah dari orang suci yang kita datangi makamnya.

video di atas diambil dari KOMPAS.

irshad manji di salihara

berita mengenai pembubaran diskusi buku karya penulis irshad manji oleh FPI dan POLRI membuat saya segera mencari publikasi dia yang lain di web. cukup banyak rupanya tulisan dia yang dipasang di web dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia.
artinya,
di indonesia sendiri sudah banyak pula yang membaca tulisannya. khususnya tulisannya yang diindonesiakan menjadi “beriman tanpa rasa takut” buku yang memberi gambaran mengenai masa lalu penulisnya yang dibesarkan oleh ayah yang keras, madrasah yang payah, sementara lingkungan di luarnya demokratis barat. pergulatan yang berani dihadapi, dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang tajam. membongkari sejarah tersusunnya kitab suci, sejarah emas ketika islam membuka toleransi dengan yahudi dan kristen, dan jaman kemerosotan islam ketika kekalifahan ditegakkan.
seharusnya mata orang lalu terbuka ketika membaca buku manji ini, tapi faktanya sebaliknya.
di mana-mana manji diprotes oleh golongan muslim keras yang buas yang sudah dikenal betul oleh manji sendiri sejak dari dulunya.
mengundang manji ke salihara, tentunya juga sudah disadari akan berhadapan dengan gerombolan muslim keras yang serupa. sayang sekali panitia tidak berhasil meneruskan diskusi itu. mereka memilih untuk membubarkan diskusi seperti yang dikehendaki FPI dan polisi.
namun demikian, tulisan-tulisan irshad manji tetap bisa diakses siapa saja.
ada kebenaran di sana yang susah untuk diakui oleh orang yang sudah buta mata hatinya.

FPI dan petinggi negri

riwayat munculnya FPI sebagaimana dikisahkan oleh tweets imanbr, hari ini.

Biografi Noegroho Djayoesman ( Pelindung FPI ) bekas Kapolda Jakarta ‘ Meniti Gelombang Reformasi ‘ : Saya bukan jenderal Taliban

Nugroho Djayoesman : Betapapun sepak terjang meresahkan masyarakat, organisasi FPI semestinya dirangkul –> Salah rangkul malah dpentung

Sebenarnya tanya Wiranto, Kivlan Zen dan Nugroho Djayoesman bagaimana dulu mereka membentuk Pam Swakarsa yg jadi cikal bakal FPI

FPI dekat sekali dg petinggi militer & kepolisian. Ini tak terlepas dari proses pembentukan Pam Swakarsa – Massa pendukung SI MPR 1998

Setelah menguasai ABRi dan TNI – AD, Jend Wiranto tak berdaya menahan desakan untuk mengganti pemerintahan BJ Habibie

Buku “ Konflik dan Integrasi AD “ yang ditulisnya sendiri. Kivlan Zen diminta Wiranto mengumpulkan, mengerahkan massa pendukung SI – MPR

Wiranto mengganggap Jendral ini bisa merebut MPR / DPR yg dikuasai massa pada bulan Mei 1998.“ Ini perintah Presiden Habibie “ kata Wiranto.

Untuk pendanaan ia diminta berhubungan dg Setiawan Djodi & Jimly Asshidiqie saat itu jadi staff Habibie.. Sore itu dana diberikan oleh Djodi

Kivlan Zen sendiri mengganggap masih ada uang dia pribadi yang terpakai utk penggalangan ini. Tidak diganti oleh Wiranto

FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 Ciputat, dihadiri petinggi miiter termasuk Kapolda Jakarta Nugroho Djayoesman

4 November 1998. Rapat dg pimpinan ormas Islam termasuk FPI. Kepada Kivlan Zen mereka janji  kerahkan tambahan massa 30.000 orang

Tambahan massa ini untuk membantu ABRI yang menjaga SI MPR. Diharapkan bisa menaikan moral tentara yg haru sberhadapan dgn rakyat

Massa pendukung ini direncanakan berhadapan langsung dgmahasiswa/rakyat. Jika ada perselisihan maka aparat datang seolah olah melerai

Massa pendukung bikin apel di parkir timur dipimpin Panglima Divisi Kiblat ( Komite Islam Bersatu Penyelamat Konstitusi ), Daud Poliraja

Pada pertemuan di rumah Wiranto 9 Nov 1998. Hadir juga Kapolda Nugroho Djayoesman, Pangdam Jaya Jaja Suparman, dan Kivlan Zen

Disepakati PamSwa berhdapan dg massa, jika terjepit pasukan Kodam bantu. Prakteknya Pam Swakarsa di gebukin Marinir,  mereka tdk diberitahu

Selama SI MPR kerap terjadi bentrokan antara Kiblat – kelak oleh Nugroho Djayoesman dirubah namanya menjadi Pam Swakarsa – dg masa mahasiswa

Setelah SI MPR berakhir. Presiden baru KH Abdurahman Wahid meminta laskar ini membubarkan diri dan pulang ke rumahnya masing masing

Beberapa yang tinggal dan terutama dari daerah Banten dan sekitar Jabotabek melebur ke dalam laskar laskar seperti FPI, atau  FBR

Agak susah membantah kedekatan FPI dg petinggi militer &Polisi. Kalau melihat bagaimana mereka para jenderal jadi bidan kelahiran mereka

Pada awal pembentukan FPI,  Habib Rizieq berbicara tentang penggalangan potensi kekuatan umat untuk menggusur masyarakat sekuler

Laskar FPI pernah menyerbu kantor Komnas HAM saat itu, menolak pemeriksaan thd Wiranto ttg keterlibatannya dalam bumi hangus Timor Timur.

Jadi antara Mei 1998 sampai Agustus 1998. Nugroho Dayoesman bolak balik meminta habib habib, mubalig utk menjadi patron organisasi

FPI pun berdiri dg tujuan menegakkan hukum Islam  di RI , 4 bulan setelah jatuhnya orde baru yg sama sekali tak mentolerir kegiatan itu

Brigjend Saleh Saaf Kepala Dinas Penerangan Polri saat itu : Waktu itu mereka ( FPI ) diarahkan bekerjasama dengan Polri

Jika ditarik sebelumnya, bisik bisik kedekatan kelompok Islam fundamentalis dg elite militer seperti Prabowo. Tapi tdk ada yg bisa buktikan

Yang jelas Kivlan Zen adalah Panglima Divisi Kostrad pada masa Prabowo Subianto menjadi Panglima Kostrad

Ada yang bilang setelah Prabowo jatuh. Kelompok ini didekati oleh Wiranto dan Jendral jendral penguasa baru. Jadi cikal bakal FPI

Kenapa Kivlan Zen memilih Banten selain etnis Betawi sekitar Jabodetabek sebagai pemasok laskar FPI pada awal awalnya

Sejarah mencatat gerakan Islam radikal tumbuh di Banten. Majalah De Gids ( tahun 1933 ) sdh menulis tentang fanatisme agama di Banten

Snouck Hurgronye menulis fanatisme agama di Banten. “ disana banyak perkumpulan tarekat mistik, dipimpin haji berpakaian putih & bersorban “

Pemberontakan Haji Wasid di Banten 1888 memang mengerikan. Bnyak penduduk pribumi terbunuh karena dianggap tidak memilih cara hidup Islami.

RT @rendranila: Banten 1998 adalah pemasok utama PAMSWAKRSA melalui tokohnya H.Chasan Shohib tak lain adlh ayah Gub Banten

Dlm upacara pendirian FPI di Pesantren Al Um, Ciputat, 17-8-1998. Riziq berpidato mewujudkan mimpi2 negara Islam. Petinggi militer diam saja

Kalo @imanbr ulas keterkaitan FPI dan Jendral,sy percaya,dia kan anak tentara juga,pst tau lah..

Membaca TL @imanbr sambil membaca tulisan di spanduk “….. Takkan berkhianat, Hidup mati bersama rakyat” 🙂

selain ini, bisa juga ikuti kultwit @novri75 “tentang FPI” di sini

doa untuk fpi

ya Tuhan,
masukkanlah seluruh anggota fpi ke surga,
sekarang juga

seorang teman di facebook menuliskan doa ini di statusnya hari ini.

tentang majelis mujahidin indonesia

saya memuat ini yang saya ambil dari note yang dibagikan seorang rekan di facebook.
suatu tulisan yang pernah dimuat di majalah PANTAU tahun 2003, tapi masih menyumbang banyak keterangan mengenai organisasi garis keras ini.

HARI-HARI MARKAZ

 Majelis Mujahidin Indonesia dalam isu syariah Islam dan terorisme.

oleh Anugerah Perkasa

JEMAAH ISLAMIYAH menjadi populer sejak tragedi World Trade Center pada 11 September 2001. Kejadian hampir senada menimpa Bali pada 12 Oktober 2002. Di kedua tempat tadi, bom meledak. Seketika meledak pula beragam wacana mengenai Jemaah Islamiyah.

Bagi International Crisis Group, sebuah tangki pemikiran yang berpusat di Belgia, Jemaah Islamiyah merupakan organisasi yang bermula dari kelompok-kelompok Islam radikal di Asia Tenggara dan terkait serangkaian kekerasan di berbagai negara sejak 1999. Di Indonesia, aksinya mulai tercium sejak bom Natal pada 2000 yang meledak secara sinambung dari Medan, Jakarta, Bandung, Ciamis, hingga Mataram.

Analisa lain datang dari Rohan Gunaratna, penulis buku Inside al-Qaida:  Global Network of Terror. Ia mengatakan, Jemaah Islamiyah merupakan organisasi satelit al-Qaida. Jemaah Islamiyah merupakan sebuah organisasi militer yang muncul pada 1988 di Asia Tenggara. Antar keduanya terjadi peleburan secara efektif melalui bentuk kepemimpinan, aksi, dan pendanaan.

Menurutnya, al-Qaida merembes masuk melalui organisasi militan di dua tempat: Kumpulan Mujahidin Malaysia di Malaysia dan Majelis Mujahidin di Indonesia. Tujuan mereka antara lain mendirikan khilafah Islam yang terbentang antara Thailand selatan, Singapura, Malaysia, Indonesia, Kamboja hingga Filipina selatan. Di mata Gunaratna,  Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir adalah dua sosok di balik organisasi tersebut.

Jemaah Islamiyah digagas Abdullah Sungkar di Malaysia pada 1994. Sungkar sosok penerus aspirasi Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo, pemimpin Darul Islam yang memberontak kepada rezim Sukarno pada 1950-an.

Pada 1985, karena tekanan politik, Sungkar melarikan diri dari Indonesia ke Malaysia bersama sahabat kentalnya, Abu Bakar Ba’asyir. Sungkar meninggal pada 1999, atau setelah sekitar lima tahun organisasi ini dikukuhkan.

Jemaah Islamiyah, versi Sungkar atau bukan, disinyalir memiliki empat wilayah di Asia Tenggara, yang dikenal dengan nama mantiqi. Mantiqi I berfungsi sebagai sumber keuangan, meliputi Singapura dan Malaysia; mantiqi II tempat aksi jihad, meliputi Indonesia; mantiqi III pelatihan, meliputi Sabah, Mindanao, Sulawesi; mantiqi IV sumber penggalian dana, meliputi Australia dan Papua.

Baik International Crisis Group maupun Gunaratna meyakini Abu Bakar Ba’asyir menggantikan Sungkar setelah wafat.

Analisis mereka tak urung memicu reaksi. Wakil Presiden Hamzah Haz menganggapnya sekadar wacana yang berkembang di luar negeri. “Sampai hari ini belum ada bukti adanya teroris,” ujar Hamzah, seraya berjanji akan melindungi Ba’asyir dari ancaman penangkapan.

Ba’asyir yang kemudian oleh pengadilan tak terbukti terkait Jemaah Islamiyah akhirnya divonis empat tahun. Pemalsuan surat, keluar masuk tanpa pemeriksaan imigrasi, dan mengetahui rencana makar almarhum Sungkar jadi pangkal vonis.

Ba’asyir dikenal pendiri-cum-pengasuh pondok pesantren al-Mukmin, Ngruki, Solo, Jawa Tengah. Selain itu, ia masih tetap menjabat amir Majelis Mujahidin Indonesia untuk periode 2003-2008 setelah dikukuhkan kongres kedua di Solo, 10-12 Agustus 2003. Oleh Gunaratna, Majelis Mujahidin Indonesia sebagai organisasi yang terkait dengan Jemaah Islamiyah.

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 2000. Kongres pertama Majelis Mujahidin Indonesia menghasilkan “Piagam Yogyakarta.” Dalam piagam ini, Majelis Mujahidin Indonesia secara eksplisit menyatakan didirikan untuk menegakkan syariah Islam. Mereka meyakini, syariah Islam merupakan satu-satunya solusi untuk menghilangkan segala bentuk malapetaka di Indonesia.

Dalam Mengenal Majelis Mujahidin, kepemimpinan tertinggi Majelis Mujahidin Indonesia terletak pada kongres, yang dilanjutkan oleh kepemimpinan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), atau tokoh-tokoh Islam yang ditunjuk mengemban amanat kongres. AHWA dipimpin seorang amir. AHWA memiliki pengurus harian, disebut lajnah tanfidziyah di wilayah pusat, dan beberapa daerah untuk perwakilan. Yogyakarta adalah lokasi pusat lajnah tanfidziyah dan AHWA.

Organisasi tersebut mengklaim bersifat aliansi (tanziq), dengan membuka diri pada setiap orang atau kelompok yang memiliki tujuan sama, yakni menegakkan syariah Islam—baik dalam ruang pribadi maupun lingkup negara.

Irfan Suryahady Awwas, ketua lajnah tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia, mengungkapkan praktik untuk menegakkan syariah Islam didasarkan pada tiga unsur. Pertama, landasan ideologis. Umat muslim memiliki kewajiban untuk menegakkan syariah Islam tanpa kecuali. Kedua, landasan historis. Dalam anggapan Majelis Mujahidin Indonesia, kondisi umat Islam sekarang sedang terpecah-belah, sehingga sangat penting disatu-padukan. Ketiga, tawaran alternatif untuk menyembuhkan “luka” akibat dari globalisasi.

“Bentuk terakhir penegakan syariat Islam adalah daulat Islamiyah,” ujar Awwas suatu ketika pada saya. Ia mengatakan, praktik ini memerlukan topangan kuat, dalam hal ini adalah kekuasaan. Syariat Islam harus dimasukkan ke dalam konstitusi negara.

Awwas tampaknya hanya menyalin pokok pikiran Abu Bakar Ba’asyir, yang pada kongres pertama mengungkapkan tentang sejumlah cara dalam menegakkan agama (iqomatuddin). Menurut Ba’asyir, penyebaran agama (nasruddin) dan mendaulatkan agama dalam bentuk kekuasaan (tamqinuddin) adalah tawarannya. Hal ini dijabarkan lebih lanjut, yaitu melakukan dakwah dan berjihad agar syarih Islam masuk dalam instrumen kekuasaan negara. Ia menyebut orang yang mempraktikkan ini sebagai muqimuddin, pendakwah sekaligus pejuang.

Ba’asyir juga bicara pola kaderisasi untuk menanamkan keimananan, cinta jihad dan mati syahid. Pembentukan organisasi kemasyarakatan Islam dan pondok pesantren adalah salah satunya. Ia juga mengungkapkan tentang fiqul jihad dan fiqul qital. Ini dua butir penting metode Majelis Mujahdin Indonesia untuk menegakkan syariah Islam.

Fiqul jihad atau memahami konsep tentang makna, tahapan dan hukumnya. Hasil yang diinginkan adalah tumbuhnya kesadaran mencintai praktik ini. Semangat jihad, menurutnya, telah dimatikan musuh-musuh Islam saat ini. “Tanpa jihad, kekuasaan Islam tidak akan tercapai,” tulis Ba’asyir.

Terakhir, memahami strategi perang dan keahlian senjata atau fiqul qital. Menurut Ba’asyir, dua hal ini diperlukan sebuah tempat khusus. Tidak sporadis. Dan menurut Ba’asyir, pesantren adalah wilayah yang tepat.

Ba’asyir tak sedang berteori, agaknya. Lihat saja pondok pesantren al-Mukmin, Ngruki, Solo. Ketika datang ke sana Oktober lalu, saya melihat di satu dinding luar ruangan tamu, stiker yang bertuliskan: “Jangan Mengaku Wong Islam bila Menolak Syariat Islam, Matinya Tidak Perlu Disholatkan.”

Ustadz Wahyudin, ketua pondok, mengatakan al-Mukmin memang mengajarkan al-wala wal barafiqul jihad dan fiqul qital. Baginya, ini merupakan bagian dari fiqh biasa, seperti halnya muamalah (aktivitas yang berhubungan dengan perekonomian), munakahah(perkawinan), dan jinayah (hukum pidana). “Jihad dalam pengertian mengamalkan ajaran Allah berjalan di muka bumi,” ujar Wahyudin.

Katanya, saat ini pun jihad harus dilakukan karena ada yang memusuhi Islam. Terutama yang tidak senang dengan tegaknya syariah. Saya minta contoh siapa yang dianggapnya musuh Islam, namun ia menolak. “Kita tidak boleh menuduh,” ucapnya.

Badrul Qowim, santri yang saya taksir berusia 18 tahun, menggenapi ungkapan Wahyudin mengenai diajarkannya jihad model Ba’asyir di sana. Baginya, selain memerangi orang-orang kafir, jihad dimaksudkan untuk menghilangkan kemungkaran.

Badrul mencontohkan Bali sebagai tempat penuh kemungkaran. “Ada orang yang telanjang di pantai dan diskotik,” katanya, seraya menambahkan kondisi seperti itu harus diubah melalui jihad, yang menurutnya ada pelbagai tahapan. Dengan kekuasaan, lisan dan hati. “Setidaknya Bali harus diberikan peringatan terlebih dulu.”

Bagi Irfan S Awwas, sekalipun jihad wajib bagi umat Islam, namun ia mengatakan Majelis Mujahidin Indonesia tak memiliki tempat khusus untuk hal tersebut. Lebih-lebih menyangkut strategi perang dan keahlian bersenjata. Menurutnya, memperjuangkan syariah Islam ke dalam bentuk konstitusi adalah praktik dari jihad.

Ungkapan senada juga datang dari Shobbarin Syakur, sekretaris umum Majelis Mujahidin Indonesia, “Tidak ada materi jihad yang diajarkan di sini.”

Menariknya, dalam sebuah laporan International Crisis Group disebutkan ada beberapa anggota Majelis Mujahidin Indonesia yang terlibat aksi-aksi peledakan bom. Taruhlah Mustaqim, disebut-sebut kepala Laskar Mujahidin, Muchtar Daeng Lao alias Abu Urwah yang berperan sebagai kepala divisi militer, hingga Abu Jibril yang ditahan di Malaysia sejak Juni 2001.

Mustaqim pria kelahiran Boyolali. Ia pernah ke Afghanistan pada 1986 atau disebut “generasi kedua.” Ia juga pernah ke Mindanao, Filipina untuk menjalankan pelatihan militer untuk anggota Jemaah Islamiyah, di sebuah tempat yang disebut kamp Hudaibiyah. Saat ini ia memimpin pondok pesantren Darus-Syahadah, kecamatan Simo, Boyolali, Jawa Tengah.

Abu Urwah terpidana pelaku bom Makassar pada 2002. Ia generasi keenam veteran Afghanistan pada 1988-1990. Sedangkan Abu Jibril, kakak kandung Irfan S Awwas, disebut generasi ketiga Afghanistan tahun 1987.

Dalam laporan International Crisis Group pula disebutkan kalau Abu Bakar Ba’asyir berniat mendirikan negara Islam Nusantara. Wilayah ini terbentang dari Thailand selatan, Singapura, Malaysia, Indonesia, Kamboja hingga Filipina selatan.

LAPORAN INTERNATIONAL CRISIS GROUP menerbitkan perdebatan sengit, juga kecaman – setidaknya dari Irfan S Awwas. “Ini tidak logis!”

Ia membantah adanya upaya Abu Bakar Ba’asyir dalam menyatukan negara-negara di Asia Tenggara dalam sebuah bentuk daulat Islam. Ini yang kemudian membuat Majelis Mujahidin Indonesia melaporkan International Crisis Group ke polisi. Sampai kini, laporan mereka belum terdengar tindak lanjutnya. “Mungkin karena tidak ada duitnya,” Awwas tertawa.

Shobbarin Syakur punya pendapat berbeda. Tak hanya sebatas Asia Tenggara, Majelis Mujahidin Indonesia menurutnya, punya keinginan menegakkan khilafah Islam ke seluruh dunia. Baginya, ini sebuah tawaran ke arah yang lebih baik. Secara formal, apa yang dilakukan Majelis Mujahidin Indonesia merupakan titik awal penegakkan syariah Islam di pelbagai wilayah di belahan dunia. Dengan tesis yang paling simpel, saat syariah Islam berlaku maka akan tercipta negara yang baldatun thoyyibatun war rabbun ghafur—aman, sentosa dan penuh ampunan dari Allah.

Untuk mencapai tujuan itu, pelbagai strategi telah dirancang, antara lain melakukan konsolidasi terhadap kekuatan sosial-politik. Syakur mengatakan Majelis Mujahidin Indonesia telah bekerja sama dengan Partai Bulan Bintang untuk menegakkan syariah Islam, yang diiyakan Daru Wistoro, ketua partai itu untuk wilayah Yogyakarta. “Bila ada diskusi kita mengundang mereka, sesama organisasi Islam,”  kata Wistoro.

Salah satu upaya politis Majelis Mujahidin Indonesia dalam mencapai tujuannya adalah dengan memasukkan pokok-pokok pikiran di bidang hukum, dan menurut Syakur, Majelis Mujahidin Indonesia telah memiliki rancangannya. Pada hukum pidana, misalnya, pihaknya telah mengusulkan kepada Departemen Kehakiman.

Hal tersebut dinilai perlu dilakukan karena tidak adanya perubahan penting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang dibuat oleh Belanda saat itu. Bahkan revisi pun tidak menyentuh persoalan substansial. “Penjara masih digunakan sebagai hukuman yang dominan,” ucap Syakur kepada saya.

Syakur memberi contoh, hukuman pelaku pencurian bukanlah dipenjara. Melainkan tangannya dipotong dan memberikan kompensasi berupa nafkah kepada keluarga korban. Ini menurutnya adil.

Dalam buku Undang-Undang Hukum Pidana Republik Indonesia Disesuaikan dengan Syariat Islam versi Majelis Mujahidin Indonesia, pencurian dikategorikan praktik hirabah, perbuatan yang menimbulkan kekacauan di masyarakat, sehingga mengganggu keamanan umum, termasuk di dalamnya merampas harta orang lain dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Hukumannya berupa bunuh, disalibkan, dan dipotong tangan kanan serta kaki kiri.

Pendapat serupa dituturkan Muhammad Tholib, salah satu pengurus Ahlul Halli Wal Aqdi dan pernah menjadi dosen ilmu agama Islam di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Hukuman potong tangan, baginya sebuah tanda untuk masyarakat agar mengetahui ciri-ciri pelaku kejahatan. Menurutnya, ini lebih berguna bagi warga dibandingkan hukuman penjara.

Potong tangan pada zaman modern begini? Banyak orang memandang mereka dengan konyol. Ulil Abshar-Abdalla, koordinator Jaringan Islam Liberal, mengatakan pemikiran macam Awwas tentang syariah Islam terlalu sederhana. Kritik Ulil terhadap orang-orang macam Awwas adalah kebiasaan mereka menggunakan konsep “Islam” dan sesudahnya seolah-olah semua masalah akan beres.

Manusia, menurut Ulil, adalah sosok yang selalu berkembang dan melakukan evolusi. “Karena itu harus dilakukan proses pengaturan kembali agar merasa nyaman,” katanya pada saya, seraya mengemukakan bahwa syariah Islam bukan satu-satunya obat yang menyembuhkan segala penyakit.

Ini membuat Irfan S Awwas gusar. Ia menjelaskan pemikiran dari Jaringan Islam Liberal hanyalah “sampah” yang tiada artinya di hadapan Allah. “Mereka murtad!”Awwas menganggap Ulil telah mengubah hukum-hukum Allah berdasarkan hawa nafsunya. Awwas tetap berpegang teguh bahwa syariah Islam merupakan solusi terbaik di negeri ini.

Reaksi Shobbarin Syakur tak kalah keras. Ia mengatakan pemikiran model Jaringan Islam Liberal telah terkontaminasi pemikiran dunia Barat.

Hamid Basyaib, aktivis Jaringan Islam Liberal, tak alergi dengan “Barat.” Ia menjelaskan pemikiran liberal yang digagas Jaringan Islam Liberal merupakan upaya pembendungan terhadap pemikiran Islam radikal. Ia dan koleganya memilih berlaga di medan ide, ketimbang menggunakan cara kekerasan. “Ada pemikiran Barat yang baik, ada pula yang tidak cocok,” tulis Hamid dalam email pada saya.

UMBUL-UMBUL TERPANCANG di sebuah pagar besi. Terbaca di sana kalau itu kantor pusat Majelis Mujahidin Indonesia. Kantor ini terletak di Jalan Veteran 17, Yogyakarta. Mereka menyebutnya “markaz.”

Di depan teras terdapat dua buah kotak berbentuk persegi panjang. Buku, cakram padat, sandal, peci hingga sabun memenuhi kotak itu. Semuanya untuk dijual. Barang jualan lain meliputi beberapa buku tulisan Irfan S Awwas, seperti Tragedi Lampung Berdarah10 Musuh Cita-Cita: Menuju Indonesia Baru Berlandaskan Islam, dan Dari Meja Hijau ke Pengadilan: Melacak Jejak Dakwah Abu Bakar Ba’asyir.

Markaz Majelis Mujahidin Indonesia terbagi atas dua ruangan besar. Ruangan depan biasanya digunakan pengajian agama. Laki-laki lebih dominan di sini. Sedangkan perempuan biasanya duduk lesehan di atas karpet di ruangan paling buncit. Biasanya mereka membawa anak masing-masing dalam kegiatan pengajian.

Ada ruang tamu yang terletak bersebelahan dengan ruangan depan, dengan dua sofa dan meja yang selalu ditumpuki koran. Tak jauh dari ruang tamu, terdapat empat kamar di ruangan depan. Salah satunya untuk ketua lajnah tanfidziyah, Irfan S Awwas.

“Biaya operasional ditanggung oleh para pengurus sendiri,” ujar Shobbarin Syakur, sambil menambahkan ada juga yang datang dari simpatisan. Untuk pertanggungjawabannya, Majelis Mujahidin Indonesia melakukan pelaporan secara berkala lewat surat.

Saya sering datang ke markas mereka di pagi hari. Sekitar pukul 10.00 dan biasanya masih sepi. Meski pasti ada satu orang yang piket untuk menjaga kalau ada tamu. Beberapa kali juga saya datang pada sore hari, jumlah mereka mulai bertambah. Ada yang baru pulang kerja. Ada yang sekadar mampir.

Zulfikar adalah salah seorang yang tinggal di sana. Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang dan sekarang menjadi distributor ramuan obat herbal. Badannya tegap. Berangkat kerja sekitar pukul 08.00 dan baru pulang sekitar pukul 17.00. Saya pernah bertemu dengannya suatu sore. Suatu ketika ia pernah mempromosikan obat untuk memulihkan kondisi badan setelah sakit. “Ini obatnya bagus, Mas,” ujanya pada saya.

Tawaran itu hiburan di tengah banyaknya suara keras yang saya dengar. Misalkan ketika saya ikut pengajian pada Desember 2002. Saat itu, Abdul Majid dari pondok pesantren Abidin, Solo, menyebut Jaringan Islam Liberal “kelompok munafik.” Dasarnya, Majid menilai Jaringan Islam Liberal hendak mengubah hukum Allah seenaknya. Bagi Majid, hukuman yang terdapat dalam Alquran telah jelas, yakni surat an-Nissa ayat 88-89. “Tawan dan bunuhlah mereka!” katanya sengit di depan forum pengajian.

Itu kejutan buat saya. Majid juga mengatakan penghancuran gedung World Trade Center di Manhattan, Amerika Serikat, merupakan balasan setimpal untuk Amerika. “Allah telah menggerakkan hati hamba-Nya untuk melakukan itu.”

Kesan saya, kajian ahad pagi cukup radikal. Dan kesan ini saya dapatkan setelah beberapa kali mengikuti kegiatan yang sama. Inikah yang membuat markaz digeledah polisi? Tak jelas juga. Satya Purnomo, warga yang tinggal dekat markaz, sempat menyaksikan penggeledahan tersebut. Ia mengatakan polisi saat itu datang dengan satu truk besar.

Polisi sendiri punya dugaan markaz bukan tak mungkin jadi tempat persembunyian Abdul Hamid, salah seorang pelaku bom Makassar. Ini gara-gara polisi menemukan kartu anggota Majelis Mujahidin Indonesia pada tempat Abdul Hamid sebelumnya. Sugeng Harsoyo, pejabat polisi Yogyakarta menjelaskan perihal ini. “Kita tidak menemukan orang yang kita cari,” ujarnya pada saya.

Apapun, di luar kegiatan pengajian, markaz digunakan pula untuk latihan bela diri. Purnomo sering diajak. Riduan yang tinggal di markaz membenarkan. Setelah sekian lama tersendat-sendat, ujarnya, kini latihan tersebut diaktifkan kembali. Ia tak menyebut di mana tempat latihan berada.

Iuran hanya Rp 7.500 per orang. Maksimal 25 orang. Latihan dipimpin Jarot Supriyanto alias Abu Haidar. Ia dikenal pernah memimpin Laskar Mujahidin di Ambon pada 2000, tak lama setelah lahirnya Majelis Mujahidin Indonesia. Haidar menjabat kepala laskar militer Majelis Mujahidin Indonesia.

Jati diri Haidar sekaligus mematahkan sejumlah laporan tentang terorisme yang banyak disebutkan belakangan ini. Salah satunya sebuah artikel yang dilansir Sydney Morning Herald, yang menyebutkan bahwa kepala laskar militer dipimpin Mustaqim.

Mustaqim sendiri saya temui di suatu siang di pondok Darus-Syahadah, kecamatan Simo, Boyolali. Orangnya kurus, biasa memakai peci putih. Ia menerima saya di ruangan tamu pondok. Saya mendengar percakapan para santri dalam bahasa Arab.

Mustaqim mengatakan tidak pernah berhubungan dengan Mukhlas alias Ali Ghufron, yang pernah di Afghanistan pada tahun yang sama dengannya. Nama Ghufron dikenal setelah terlibat peledakan bom Bali 2002.

Dalam artikel Sydney Morning Herald, Ali Ghufron mengatakan kenal Mustaqim. “Belum pernah berhubungan,” kata Mustaqim, menegaskan. Ia hanya tahu nama Ghufron melalui berita. Begitu juga Faiz Abu Bakar Bafana, salah pemimpin Jemaah Islamiyah dari Malaysia pada 1996.

“Saya itu orangnya tidak kenal paspor, tidak pernah ke luar negeri.”

Ia mengatakan tidak pernah bepergian ke Afghanistan, Filipina, atau Malaysia seperti yang dilaporkan International Crisis Group dalam risetnya. Mustaqim hanya tertawa ketika ia juga disebut kepala divisi militer Majelis Mujahidin Indonesia. “Wah, nama besar itu.”

Kepala polisi sektor terdekat, Sri Hartoyo, menjelaskan bahwa ia mengenal Mustaqim sejak lama. “Saya sering salat Jumatan di sana.”

“Tidak ada bukti yang mencurigakan?”

“Bukti meledakkan bom? Tidak ada itu, semua aman.”

“Jadi aman-aman saja, ya?”

“Ya, tidak ada apa-apa.”

IRFAN SURYAHADY AWWAS kelahiran Lombok. Usianya 43 tahun. Ia punya usaha di bidang penerbitan Wihdah Press di Yogyakarta. Secara pribadi saya mengenal sosok Irfan S Awwas sejak November 2002. Kesan saya padanya tak berubah. Keras dan militan terhadap pemahaman Islam yang diyakininya.  Beberapa kasus menurut saya menunjukkan ini. Misalkan, soal al-Mujtama.

Al-Mujtama adalah majalah yang berpusat di Kuwait dan didirikan organisasi Jami’iyat al-Islah al-Ijtima’I. Kebijakan redaksionalnya mendukung kerajaan Saudi Arabia dan para sheik penguasa di teluk Persia.

Dalam sebuah wawancara November 2002, Awwas menyatakan soal bocornya dokumen Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo kepada Presiden Amerika George W Bush. Pada 5 Oktober 2002, majalah tersebut memuat dokumen itu. Isinya semacam proposal tentang pembentukan negara Kristen Asia Pasifik dan penumpasan gerakan separatis di Filipina Selatan. Harian Republika memuat ulang hal tersebut selama tiga hari berturut-turut termasuk bantahan dari Manila maupun Washington DC.

Republika melaporkan dari 30 Oktober hingga 1 November 2002. Eriyanto, analis media, membuat analisis mengenai isu itu di majalah Pantau edisi Januari 2003. Eriyanto seorang yang dianggap ahli di bidang analisis teks media dan menulis buku Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media.

Berita yang mengundang kontroversi ini, menurut Eriyanto, memiliki tingkat verifikasi yang sangat lemah. Hanya melibatkan al-Mujtama sebagai sumber. Republika menurunkan wawancaranya dengan Ahmad Izzudin, pemimpin redaksi al-Mujtama. Izzudin hanya mengatakan hal tersebut dapat membahayakan umat muslim, namun tidak memberitahukan bagaimana dokumen itu diperoleh. Ini yang menyebabkan kebenaran dokumen itu sangat lemah.

“Ini tidak adil,” ujar Awwas kepada saya.Maksudnya, ketika Islam dipojokkan walau berita tersebut bohong, orang akan percaya. Namun soal ini banyak orang tidak percaya. Ia percaya karena ini didukung oleh dua presiden besar, Filipina dan Amerika Serikat. Dan ia meyakini itu.

Mengapa Awwas demikian keras, nyaris kaku?

Hamid Basyaib, aktivis Jaringan Islam Liberal, yang satu kelas dengan Awwas semasa sekolah menengah atas, punya cerita. Saat ditemui di Jakarta, ia mengatakan pemikiran Awwas lebih banyak dipengaruhi ulama macam Hassan al-Banna, pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir pada 1928. Ini merupakan reaksi atas keterpurukan umat Islam akibat kolonialisme Eropa, meluasnya sekularisme, bubarnya kerajaan Ottoman, dan represi rezim yang otoriter.

“Saya sering dikasih selebaran-selebaran soal itu,” ucap Basyaib.

Tak hanya itu. Awwas tergabung dalam aktivitas masjid Sudirman, Colombo, Yogyakarta. Ini kemudian dikenal sebagai anggota kelompok studi Colombo sekitar 1980-an dan sering membuat diskusi yang mengkritisi kepemimpinan Presiden Soeharto secara sembunyi-sembunyi. Awwas juga menerbitkan buletin ar-Risalah.

Isi ar-Risalah sempat dianggap membahayakan pemerintahan Soeharto. Ini membuat Awwas ditangkap dan mendekam di penjara selama 9 tahun di Yogyakarta, Semarang hingga Nusa Kambangan. Penangkapannya terjadi pada 8 Februari 1984.

“Saat itu ar-Risalah terbit pada edisi 22,” kata Awwas.

Hamid Basyaib mengatakan Fikhiruddin alias Abu Jibril pun punya pengaruh kuat dalam pembentukan sikap Awwas.

Suparman Marzuki, dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia dan direktur Pusat Studi Hak Asasi Manusia, juga mengenal Irfan S Awwas cukup lama. Menurutnya, apa yang dilakukan Awwas dengan buletin ar-Risalah merupakan sesuatu yang mustahil pada saat itu. Buletin ar-Risalah mengungkapkan kritik terhadap konsep kepemimpinan dengan lugas. “Khas anak muda,” ujar Marzuki.

Menurutnya, semua gerakan yang dinilai anti-kekuasaan akan diberikan stigma tertentu oleh pemerintah. Dan Awwas dicap Islam fundamentalis.

Marzuki juga mengatakan soal aktivitas masjid Colombo. Diskusi tersebut sering mendapat pengawasan ketat dari intelijen, karena dinilai antipemerintah. Ini disebabkan rezim Soeharto yang sangat represif. Marzuki pernah beberapa kali mengikuti kegiatan itu.

Cerita lain datang dari Ifdhal Kasim, juga alumnus Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia dan sekarang direktur Lembaga Studi Hak Asasi Manusia, Jakarta. Ia menjelaskan Irfan S Awwas merupakan korban kekerasan pemerintahan Orde Baru kala itu. Maraknya isu kebangkitan Islam pada 1980-an menjadi landasan perjuangan Awwas.

Senada dengan Hamid Basyaib, Ifdhal Kasim mengatakan, kalau Awwas “banyak dipengaruhi oleh pemikiran Hassan al-Banna.”

Masih dari institusi yang sama, Busyro Muqodas mengenal Awwas ketika diduga terkait kasus fundamentalisme Islam. Awwas disebut anggota Komando Jihad pada 1980-an. Awwas menemui Muqodas setelah keluar dari Nusa Kambangan pada 1993. Awwas menanyakan soal boleh tidaknya membentuk sebuah organisasi untuk menegakkan syariah Islam.

“Hanya sebatas meminta pendapat. Setelah itu tidak pernah bertemu lagi,” ujar Muqodas.

“Jadi mujahid itu harus berani, kalau tidak ada kekuatan, ya sabar, tapi kalau ada ya kita sikat,” kata Awwas ketika saya tanya kenapa sikapnya keras sekali.

Saya kembali bertemu Awwas September lalu. Kali ini, ia menjadi penceramah kajian ahad pagi. Saya pikir Awwas hanya mengulang-ulang materi tentang jihad dan penegakan syariah Islam. Demokrasi, bagi Awwas, hanyalah upaya perebutan manusia terhadap kedaulatan Tuhan.

Kesan saya, logika mereka sangat sederhana. Syariah Islam adalah obat segala-galanya. Musibah. Malapetaka. Pernah suatu ketika saya menanggapi pernyataan Awwas soal ini. Bahwa syariah Islam bukan satu-satunya faktor tunggal dalam setiap persoalan.

Itu saya lontarkan setelah dibuka forum untuk berdialog. Awwas menjawab dengan mengutip suatu tesis yang dilontarkan Muhammad Khatib Arsyalan soal kemajuan peradaban oleh orang kafir disebabkan mereka meninggalkan agama. Sebaliknya, umat Islam mundur karena melakukan praktik yang sama.

Saya tidak tahu apakah hal ini yang menyebabkan Syarif, peserta pengajian, menghampiri saya. Ia menyuruh saya untuk tidak membocorkan rahasia umat Islam kepada “orang kafir.”

Syarif kemudian membuka buku terjemahan Alquran, seraya membaca arti dari surat al-Mumtahanah. Salah satu intinya tentang larangan menjalin hubungan pertemanan dengan orang kafir yang memusuhi Islam.

Ia menceritakan sejarah Rasul di saat perang Badar. Perang ini dilakukan kelompok muslim dengan kaum musyrik Mekah. Salah seorang dari pasukan ternyata berkhianat dan membocorkan informasi kepada pihak musuh. Nabi Muhammad mengetahui hal itu. Orang tersebut tidak dihukum, mengingat jasa-jasanya ketika terlibat dalam perang Badar.

“Kalau bukan ahli Badar, bisa dibunuh,” ujar Syarif pada saya.

Pengalaman lain di markaz datang dari Eman Badruttaman. Ia santri pondok al-Mukmin, Ngruki. Ia menolak demokrasi karena tidak terdapat dalam Alquran, selain berasal dari dunia Barat.

“Orang-orang itu mau dipentungin apa sama Allah?!” Badruttman berseru.

Ia mengatakan kedaulatan manusia itu tidak ada. Yang ada hanya kedaulatan Allah. Demokrasi dianggap sistem yang mengabaikan kekuasaan Allah.

Ada lagi santri bernama Mahmudi, juga anggota Majelis Mujahidin Indonesia. Ia pernah melihat saya ketika bertanya dalam suatu pengajian. Usai acara tersebut, ia menghampiri saya dan meminta saya mengisi buku tamu.

“Anda aslinya dari mana?” tanyanya.

“Banjarmasin,” ucap saya.

“Banjarmasin itu kota santri, kok orangnya kayak gini?” Ia tertawa sambil menepuk-nepuk pundak saya.

“Kayak gini, maksudnya gimana?”

Tak ada jawaban. Mahmud hanya tertawa.[]

Desember 2003 | Pantau

1 2