Posts Tagged ‘jalan’

jalan menyambut lebaran

sebulan jelang lebaran lalu, jalan wonosari nampak berbenah.
hari-hari di akhir bulan juni jalan yang gak ada apa-apanya dibanding dengan jalan bantul atau jalan kaliurang dan jalan wates, nampak ramai. lebih ramai dari biasa.
tidak hanya menjadi lebih padat dan makin banyak yang berkendaraa secara ngawur, namun mulai banyak bangunan baru berdiri di kanan-kirinya. semua seolah sedang menyajikan pesona untuk menarik pengendara agar melambatkan kecepatannya dan kemudian mampir: rumah makan baru, servis mobil, tempat cuci mobil/motor, penjual pulsa dan parfum… demikian pula tenda polisi yang ikut-ikutan memenuhi pinggiran jalan.

lebaran, bagi orang jawa adalah sebentuk migrasi temporer.
ratusan ribu orang berpindah lokasi dalam waktu yang kurang lebih bersamaan.
karena itu maka jalan mengalami perubahan kepadatannya, dan ternyata juga mengalami perubahan wajahnya.
dengan macetnya jalanan karna kongestasi itu, maka jalan bukan hanya jadi jalur tempat orang lewat, namun juga untuk berhenti dan beristirahat.

fasilitas-fasilitas baru yang dibangun menyambut lebaran, justru memikat bikin orang melambatkan kecepatan perjalanannya.
jalan berubah jadi tempat orang jualan.

hormat saya pada polisi

di tengah cibiran masyarakat pada polisi, juga di tengah kegemparan hendak disahkannya UU KEAMANAN NASIONAL yang melucuti peran polisi, saya justru menaruh hormat pada mereka.

tiga hari lalu saya terima SIM A dan C saya, setelah berkali-kali saya dinyatakan tidak lulus dalam ujian praktik mengendara motor dan mobil, di polres bantul. ada saja kesalahannya, yang bagi saya terlalu sepele:

  • berhenti tanpa menengok ke belakang kanan.
  • berhenti dengan bertumpu pada kaki kanan
  • berhenti tidak di belakang garis

hal yang sepele ini tanpa ampun lagi membikin saya dinyatakan tidak lulus. dengan perasaan jengkel, saya mulai menduga-duga bahwa ada “permainan” yang sedang dimainkan oleh para polisi ini untuk memeras saya, seperti tuduhan masyarakat dan media selama ini.

tapi tidak, sama sekali tidak.
pada akhirnya, saya dinyatakan lulus. tanpa membayar biaya tambahan sedikit pun.

yang mengesankan bagi saya adalah: kedua polisi di lapangan praktik itu tekun menjalankan tugasnya. tanpa pandang bulu mereka tegas menyatakan lulus atau tidak lulus. seperti mesin mereka menjelaskan kesalahan-kesalahan saya. mungkin ini juga sudah berulang kali dilakukan pada lain orang. saya jadi tambah banyak pengetahuan mengenai seluk-beluk berkendara, dari penjelasan mereka berkaitan dengan kesalahan-kesalahan saya.

pada hemat saya, hal bagus ini justru yang harus dilihat media-massa. bukan yang jelek-jeleknya.
kita perlu sekali polisi yang bertugas di antara warga negara [polis] bukan tentara yang sudah ada tugasnya sendiri mempertahankan kedaulatan negara.
para polisi lalu lintas ini punya prinsip dan aturan yang mereka hidupi. tapi aturan ini dilanggar justru oleh para mengguna kendaraan di jalan raya.

praktik berkendara di jalanan kita sungguh-sungguh biadab. seperti tidak kenal aturan saja semua!
mungkin mereka tidak pernah mengenal ujian praktik berkendara ketika mendapatkan SIM mereka.

membangun(kan) polisi tidur

penghuni perumahan kami banyak yang anggota POLRI. sekitar 6 orang dari 50-an rumah. dari yang berpangkat rendah hingga yang tinggi.

lain dari itu, perumahan kami pun banyak polisi tidur. demikian kami menamai gundukan semen yang melintang di jalan untuk mencegah orang ngebut di jalanan perumahan itu. ada yang menggunduk sekali, ada yang dua kali dan ada pula yang dirupakan sebagai peninggian jalan.
berhubung jalanan di perumahan kami ini miring ke arah timur, maka gundukan-gudukan ini juga berfungsi untuk mencegah air hujan menggelontor ke timur. seringkali, rumah-rumah di bagian timur perumahan kami ini kebanjiran, mendapatkan limpahan air hujan dari jalan arah barat.

mencegah orang ngebut dengan membangun polisi tidur, menyusahkan banyak pihak. bukan hanya para pengebut. orang biasa yang bukan pengebut pun dipaksa untuk berjalan dengan terantuk-antuk sehingga amat menyiksa dan menjengkelkan sekali. hukuman untuk satu orang ternyata mengenai semua orang.

polisi adalah institusi yang muncul dari kehidupan kota (polis) yang berperan menjaga agar warga kota bisa saling tenggang rasa, menghormati kebutuhan dan kewajiban masing-masing. suatu gambaran yang diturunkan dari kehidupan mengkota (urban) di gerika kuna. polisi bertindak menjagai agar tatanan yang mengatur masyarakat kota tadi dilakukan dengan konsekuen. mereka tidak bertindak demi kekuasaan yang ada dalam dirinya, mereka adalah abdi negara atau kota.

mengatur kesantunan berlalu-lintas di perumahan harusnya ditanamkan sejak dari rumah tangga. nilai-nilai sopan santun berada di tempat publik harusnya dibina sejak di rumah-rumah dan sekolah.
dengan membangun polisi tidur, maka seolah-olah semua pelalu-lintas adalah orang yang tidak mengerti sopan santun di ruang publik. semua pelintas jalan terkena ketidaknyamanan berjalan. semua seperti dihukum, ditempeleng, bila lewat di jalan berpolisi tidur.

membangun polisi tidur di jalanan merupakan tindakan tidak senonoh karena ikut menghukum orang yang tidak bersalah sekali pun. karena itu, saya menyambut gembira ketika pak RT perumahan kami (yang kebetulan juga adalah anggota POLRI) berencana membongkar semua polisi tidur di perumahan kami. lebih lanjut, beliau juga memelopori pembangunan sumuran-sumuran peresap di beberapa titik jalanan perumahan sebagai pengganti polisi tidur.

pak polisi yang satu ini tidak tidur sehingga tidak perlu dibangunkan!