Posts Tagged ‘japan’

ngajeni simbah

Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)Saga no Gabai Bachan by Yoshichi Shimada

My rating: 4 of 5 stars

sebenarnya ini buku biasa saja.
tentang kisah yang juga biasa-biasa saja. tentang kenang-kenangan masa kecil bersama simbah [hehe.. bahasa jawa untuk nenek] yang prinsip hidupnya telah mewarnai penulis kisah ini.

namun,
kisah yang diceritakan itu jadi istimewa karena kita pembaca membandingkannya dengan jepang masa kini yang sudah maju dan berbeda dari yang ditampilkan dalam buku ini.
ini sejenis romantisme nostalgik yang menghadirkan ulang masa lalu yang susah sebagai pengesahan kesuksesan masa kini.

saya kira, settingnya adalah jepang tahun 50-60-an.
di masa ketika jalanan juga kumuh di hiroshima dirampas oleh pedagang kaki lima, katimbang dinikmati pejalan kaki.
ketika sungai di saga juga menjadi tempat pembuangan barang, buah dan sayur yang tidak laku di pasar. sungai ini dinamai “supermarket” oleh nenek osano, karena mereka bisa menemukan apa saja di sana. dan dari sana pulalah mereka memungut semua kebutuhan hidup sesehari mereka.
mirip situasi kita di indonesia kini.

itukah yang membuat buku ini disukai juga di indonesia? karena adanya kemiripan situasi tapi sekaligus ada semacam harapan bahwa kita nanti akan bisa seperti mereka sekarang ini?
mungkin demikian halnya,

adanya kemiripan ini membuat kisah ini jadi “ada gunanya” buat kita: memberi harapan, memberi daya tahan, untuk tetap bahagia meski pun keadaan tidak kaya. “kita adalah orang miskin yang ceria” demikian nenek osano membesarkan hati cucunya.
“kita adalah orang miskin turun-temurun. jadi, mengapa murung?”

dari sisi itu, buku ini relevan dengan situasi ikita. kita butuhkan dan juga sekaligus mirip seperti nasihat para orang tua jawa agar kita sabar dan menerima pemberian dengan hati terbuka [“narima ing pandum]. nasihat yang terumuskan demikian, mungkin karena berabad-abad lamanya orang jawa tinggal dalam kemiskinan.

tanpa bermaksud melanggengkan kemiskinan, buku ini mewartakan bahwa orang miskin bisa tetap bahagia, karena nilai orang diukur seberapa besar dia berusaha.

pada hemat saya,
buku ini bagus buat anak-anak. saya bayangkan, anak-anak saya sendiri mungkin suka. bisa jadi karena kemiripan situasinya. kemiripan cara menghadapi keadaan yang susah diubah.
“kalau nilai bahasa inggrismu jelek, katakan bahwa aku orang jepang!
kalau engkau tidak bisa menulis kanji, katakan saja bahwa aku hidup dengan hiragana dan katakana”
hehe…
begitulah ajaran nenek osano yang gigih, “ngeyel”, tidak mau menyerah.

kelebihannya, buku ini dikisahkan dengan ringan. tidak bermaksud mengaduk-aduk emosi.
datar saja caranya memilih kata dan menggambarkan emosi.
namun, rasanya buku ini jujur dengan caranya itu.

saya sempat kenal keluarga-keluarga jepang di negerinya sana.
ya seperti itulah cara mereka bereaksi terhadap kesulitan, menghibur diri dan bekerja keras meraih prestasi.
mungkin itu karena kisah sulit di masa kecil itu dikisahkan oleh pelaku yang sudah keluar dari situasi sulitnya. sehingga bisa lebih tenang. namun demikian, saya menghargai kejujurannya, keluguannya dalam bercerita.

hanya perlu waktu semalam saya selesaikan baca edisi indonesianya!

View all my reviews

sunshine di musim hujan

mungkin karena saya sedang ribet dengan musim hujan yang buat saya cukup lebat kali ini sehingga saya tiba-tiba ingin lihat video moumoun mengenai the sunshine girl.

ini lagu lama, lagu remaja. saya ingat membeli CD lagu ini ketika ada pesanan teman di goodreads untuk dibelikan. lha setelah melihat video clip ini malah saya sendiri juga suka.
dengan latar belakang arsitektur minimalis, fotografernya dengan jitu menembak sudut-sudut bagus datangnya sinar matahari yang menyumbang terjadinya bayangan pada dinding-dinding bangunan.
demikian pula latar belakang yang statis itu dihidupkan oleh gerakan-gerakan cewek berbusana sederhana pula, untuk memberi kesempatan pada angin menggerakkan lipatan-lipatan busana ringan tadi.

ada rasa rindu pada jepang,
meski baru genap sebulan meninggalkannya.

hehe..

[klik ini untuk liriknya]

esensialisme watak bangsa

ketika jepang dilanda bencana gempa, tsunami dan bocornya reaktor nuklir, ada banyak tulisan yang saya baca mengenai watak bangsa tadi:

  • orang jepang pantang menyerah
  • harga diri dan percaya dirinya besar
  • mereka pantang mengemis
  • mereka juga taat antri
  • pemerintah mereka benar-benar melayani masyarakat
  • mereka sudah pengalaman dengan gempa
  • tidak mungkin ada penjarahan
  • tidak mungkin ada rush di pasar atau toko

komentar sanjungan itu disertai dengan anak kalimat berikut: “sangat berbeda dari tempat kita”

saya kali pertama membaca “sanjungan pada jepang dengan menghina diri sendiri” itu lewat tulisan pak ajip rosidi di bukunya “orang dan bambu jepang“. saya pikir, cara seperti ini tidak mendidik diri kita.
sebagaimana banyak mahasiswa kita yang belajar di jepang kemudian kejepang-jepangan, juga mengidap penyakit esensialisme watak bangsa ini. mereka mengira, keutamaan yang saya deret di atas itu sudah melekat dari sononya, demikian pula sikap nista kita itu juga dari sononya melekat pada diri kita.

pak gunawan mohamad menulis di twitternya, 22 Maret 23 Heisei 00:39:42, yang ada baiknya saya kutip di sini karena saya bersetuju dengannya :

Kita memang cenderung melihat “tak adanya penjarahan” di Jepang dgn mata yg mencela “watak” bangsa sendiri yg “suka menjarah”.
“Tanpa mengurangi kritik diri, rasanya perlu melihat Jepang sbg contoh: perbaikan kondisi sosial-ekonomi bisa memperbaiki perilaku”.
“Walhasil, bukan “esensi” yg membentuk masyarakat. Masyarakat bisa berubah dgn perbuatan + kerja, dgn kegagalan dan suksesnya.”
“Esensialisme” adalah sebutan utk pikiran yg menganggap ada “esensi” yg tetap yg membentuk perilaku satu bangsa atau ras.
“Ketika media kita beritakan tak ada penjarahan pasca-tsunami di Jepang, dikatakan itu karena watak budaya orang Jepang.”
” Tak ada watak atau “jati diri” bangsa yg tetap. Tak ada budaya yg tak berubah dan bebas pengaruh kondisi sosial-ekonomi.”

memuji orang lain tidak harus dengan mencela diri sendiri. demikian pula sebaliknya, memuji diri sendiri tidaklah dengan mencela orang lain. lagi pula, semua watak itu adalah konstruksi sebagai tanggapan terhadap kondisi sosial ekonomi dan kompleksitas situasinya.

senang, ada yang bisa merumuskan hal itu dengan terang dan sederhana seperti twits pak GM tadi.

memberikan nyawa bagi orang lain

orang yang memberikan nyawanya bagi orang lain, saya kira dulu itu cuma mitos yang dibesar-besarkan oleh institusi agama. tapi hari ini saya mendapat link tentang 50 orang yang bertugas membetulkan kerusakan reaktor nuklir di fukushima. mereka berangkat seperti menjemput kematiannya saja.
situs dailymail ini memuat pesan pendek [sms] dan email mereka pada istri dan anak-anak:

lanjutkanlah hidupmu,

mungkin aku tidak bisa pulang lagi berkumpul lagi denganmu.

pamitan yang mengharukan. pamitan dari orang yang punya jiwa agung, yang mau mengurbankannya untuk orang lain. ternyata, menurut temuan mas bram, kisah-kisah tradisional juga kaya dengan contoh begini:

seperti pamitannya salya pada setyawati
suyudhana pada banumati
damarwulan pada anjasmara

kebetulan, saya membacanya di minggu-minggu sengsara seperti sekarang ini.

yang punya mata hendaknya melihat,
yang punya telinga hendaknya mendengar

1 2 3 6