Posts Tagged ‘jawa’

membawa bukti, membawa berkah

ini adalah tradisi jawa yang dikenakan pada orang suci islam: sunan kudus.
mengganti luwur, atau selubung makam, bagi orang jawa adalah momen penting karena kain itu adalah satu-satunya barang yang bisa dibawa keluar dari makam. ketika mengunjungi makam orang suci identik dengan mengunjungi tempat yang sulit dan sakral, maka bila kita bisa membawa pulang sesuatu darinya, itu sama dengan membawa ke rumah kesakralan dari orang suci tadi. sama seperti kita menyimpan relikwi.
tindakan ini seperti membawa pulang air dari makam suci, atau membawa pulang daun pohon yang tumbuh di makam suci, atau bunga yang mekar di sana.. tindakan untuk mengabadikan sawab berkah kesucian orang tadi ke dalam rumah kita.
ada kalanya,
selubung makam tadi tidak untuk dibawa pulang dan dibagi-bagi, tapi cukup disaksikan, dengan munculnya fotografi dan video. dengan alat-alat itu, maka momen tadi bisa disaksikan dan dibawa pulang sebagai bukti.
membawa pulang bukti adalah gagasan modern, tapi gagasan mula-mulanya adalah membawa pulang sawab berkah dari orang suci yang kita datangi makamnya.

video di atas diambil dari KOMPAS.

lambang gantung

hari selasa pagi yang lalu [30 oktober 2012] saya menghadiri presentasi pak sukirman, di universitas widya mataram, mengengai struktur atap LAMBANG GANTUNG.
lambang gantung digunakan di banyak atap bangunan-bangunan kraton yogyakarta. agaknya, struktur atap ni TIDAK DIKENAL di surakarta, kota kerajaan jawa yang lebih tua.
struktur lambang gantung -mengikuti penegasan pak sukirman tadi- adalah struktur yang baru dimungkinkan setelah digunakannya logam besi sebagai batang tarik yang menggantungkan balok teratas dari atap pinggiran ke balok “brujung” di struktur pokok. atap pinggiran ini sepenuhnya tergantung pada batang-batang logam tadi sehingga bisa leluasa bergoyang bila terkena hempasan gempa.
di kraton yogyakarta, struktur lambang gantung selain digunakan di BANGSAL WITANA yang menjadi fokus penelitian pak sukirman, juga di pendhapa utama MANGKUBUMEN, tempat kami semua ngumpul pagi itu.
saya menikmati bagaimana pak sukirman melakukan penelitian lapangan: bagaimana ia mengusahakan bisa mengukur balok dan kolom yang peletakannya rumit, atau di bangunan tempat penyimpanan pusaka-pusaka nomor satu di yogyakarta [PRABAYEKSA]. yang juga mengesankan adalah tentang bagaimana dia menjiplak relief ukiran di kolom-kolom, hal yang mengingatkan saya pada cara wolff schoemaker dalam melakukan kuliah lapangan di bali.
saya sendiri heran, mengapa selasa pagi itu saya begitu bersemangat sekali untuk belajar lagi hal-hal teknis penelitian lapangan ini. jarang saya tertarik dengan hal-hal teknis, tapi presentasi pak sukirman sungguh inspiratif bagi saya.

amish dan pemurnian ajaran

pennsylvania

saya memuat kembali foto buatan 2007 ini, berhubung tiba-tiba ingat pada seorang rekan asal amerika [pennsylvania] yang pernah tinggal di mesir lama. dia anak baik, sopan dan religius.
bila pergi ke gereja, selalu mengenakan pakain pantas, bahkan kadang berdasi pula.

di mesir dia mengikuti pergolakan politik di sana, meski kemudian dia harus menyingkir keluar untuk beberapa minggu. dua hari lalu dia mengabari akan balik lagi ke mesir.
dia sudah kadung cinta dengan negeri yang sebenarnya tidak ramah dengan orang kristen, meski di sana ada gereja koptik tapi makin lama makin ditekan saja oleh perkembangan politik dan gerakan pemurnian islam.

foto di atas adalah foto rumah dan gudang dari orang amish, yang tinggal tidak jauh dari rumah teman saya tadi.
rumah yang bersahaja dan bersih. tempat orang-orang kristen amish menjalani hidup seperti di abad 18 ketika mereka datang dari belanda dan jerman. saya ambil foto rumahnya karena kami dilarang memotret orangnya.

begitulah,
mereka menjalani hidup yang tertutup dan cinta damai, anti kekerasan.
mereka menjalani hidup yang kembali “murni” sebagaimana dijalani oleh gereja awal.

kembali memurnikan gaya hidup. konsekuensinya adalah dengan menyendiri, atau bila cukup kuat, menekan pihak lain agar menurut gerakan pemurnian tadi.
orang amish memang minoritas. mereka tidak kuat, tidak pernah mau diajak masuk angkatan bersenjata. karena itu juga mereka hidup mengumpul di kawasan tersendiri, punya pasar sendiri, kendaraan sendiri, cara berbusana sendiri.

begitu berbeda alam yang dihayati teman saya tadi: di rumahnya sendiri pemurnian ajarannya membuat ia dan keluarganya menyendiri dan tidak pernah mengganggu orang lain, tapi sekarang di mesir dia ketemu dengan pemurnian ajaran yang dilakukan dengan mengusir atau menindas orang lain.

saya tinggal di jawa, pulau dengan masyarakat yang dibentuk oleh kondisi geografisnya yang terbuka dan mau tidak mau harus toleran dengan semua ajaran. buat orang jawa, kemurnian itu sesuatu yang asing bagi kami. oleh sebab itu kekerasan tidak pernah, atau sedikit sekali, berlangsung dengan motif kemurnian identitas. lebih sering karena rebutan potensi ekonomi.

layang balewarna

LAYANG BALEWARNA
amratelakake kahananne bale
pomahanne wong cilik ing tanah jawa,
lan nununtun amurih raharjaning
omah-omah.
anggitanne
mas sasra sudirja.
mantri guru ing pamulangan ongka II
ing
kertek

SURAT BALEWARNA
menguraikan keadaan rumah orang biasa di tanah jawa,
dan memberi petunjuk menuju kesejahteraan rumah tangga.
ditulis oleh
mas sasra sudirja
mantri guru di perguruan “angka loro”
di
kertek

surat ini pernah diulas oleh prof.josef prijotomo [ITS] di berbagai kesempatan. suatu gejala baru tentang bagaimana media cetak dilibatkan dalam penyebarluasan ideologi arsitektur modern -[bersih, sehat, terang, hemat bahan] serta kritik yang ditujukan pada keadaan omah tradisional orang jawa kebanyakan.

artikel lengkap LAYANG BALEWARNA yang saya punya tertulis dalam aksara jawa. terbitan balai pustaka, weltevreden, 1919.

modernisasi rumah pribumi.
yaitu suatu pandangan baru terhadap lingkungan binaan. pandangan ini diformulasikan dan disebarkan melalui media dan pengajaran. karena itu bisa dimaklumi bila ketika “pengajaran pada bumi putra” digalakkan semasa politik etis [1901] dan ketika ada undang2 pers [persreglement 1854] dimaklumkan, maka tradisi membangun lokal berhadapan dengan paham baru yg disiarkan di sekolah2 dan bacaan.
sekitar tahun-tahun itu,
terusan suez dibuka [1869] shg koneksi belanda-indonesia jadi mudah. banyak insinyur berdatangan, dan banyak bahan baru didatangkan. ini pun ikut mengubah wujud dan teknik membangun rumah.

gaya hidup diubah oleh media massa [informasi] dan kemudahan transportasi barang2/bahan2 baru tadi. ada 50 lebih majalah beredar di indonesia di awal abad 20. menawarkan berbagai gambar dan foto rumah2, busana, peralatan sehari2 di luar negeri.
jadi, faktor pengubahnya bukan personal atau individu, tapi sistemik, yakni informasi dan transportasi.
dua kekuatan ini terus bekerja -baik dulu maupun kini- dalam mengubah hunian dan lingkungan binaan kita.
ini yang sedang menarik saya. dengan kekuatan non-personal, lebih khusus: media, dalam merumuskan, membentuk dan menyebarluaskan perubahan.
pada hemat saya, sejarah [arsitektur] harus lebih mengamati dinamika ini.
penulisan sejarah bukan hanya bergulat pada deskripsi peristiwa masa lalu tapi lebih penting adalah menjelaskan kekuatan YANG SEDANG BEKERJA di tengah-tengah kita, masa kini.

tentang pak mantri guru,
jelas beliau bukan tukang.
beliau adalah guru.
tapi, guru di masa itu memiliki peran strategis. dialah yang “menerangi” pikiran pribumi dan membawanya ke pencerahan. pencerahan ke mana?
tentu saja ke barat.
ada bukti2 identifikasi pencerahan akal budi ini dengan westernisasi atau modernisasi. lihatlah gambar berikut: dewi europa membimbing ratu pambayun melangkah ke tangga pencerahan lewat tindakan membaca. judul gambar itu: djalan ke barat.

inilah jalan masuk bagi perubahan arsitektur di tanah air: yakni lewat pikiran. kalau kita baca layang balewarna tadi, maka kategori2 utk mengatakan suatu rumah itu baik, adalah bila sehat, bersih, terang, rapih [segala hal terletak pada tempatnya]…

tentu saja, rumah tradisional pribumi dinilai minus semua….

apakah arsitektur indonesia berubah hanya gara-gara buku kecil dari mantri guru sasra sudirja?
tentu saja tidak.
di tahun itu, ada buanyaak… orang dan institusi yang menyuarakan hal yang kurang lebih sama. saya sedang melacak sebisanya, gagasan dan institusi yang berperan dalam upaya transformatif ini.

midadareni

MC acara malam itu mengucapkan midadareni sebagai sebuah kata.

konon, dia menerangkan, kata itu ada hubungannya dengan widadari [yang dia ucapkan sebagaiĀ midadari] yang turun dan merasuk ke dalam diri temanten putri. widadari atau midadari adalah makhluk surgawi yang melayani para dewa di swargaloka yang -katanya cerita- cantik jelita semua. acara malam menjelang pernikahan rekan saya malam itu mengumpulkan kerabat dekat yang berjaga-jaga hingga tengah malam karena esok harinya pagi-pagi benar, temanten putri akan dirias bagi pernikahan siangnya.

pengucapan midadareni sebagai sebuah kata memungkinkan kita terpeleset sehingga tidak menangkap gagasan yang terkandung di dalamnya. midadareni itu seharusnya ditulis midada reni. atau bila ditulis dalam aksara jawa adalah hamidada reni. (ha) midada adalah tindakan membikin widada, yakni membikin agar berada dalam keadaan selamat tanpa cacat. dengan kata lain hamidada adalah tindakan ‘nylameti’, mengharap dan mengusahakan keselamatan. sedangkan reni adalah sinonim bagi seorang putri, lady, gadis, atau anak perempuan. hamidada reni dengan demikian adalah usaha-usaha atau upaya untuk membuat seorang gadis (dalam hal ini temanten putri) agar selamat, tidak cacat, hingga pernikahannya.

tradisi nylameti temanten putri merupakan tradisi yang lahir dari masyarakat agraris yang menempatkan perempuan sebagai penjamin kelangsungan keturunan. lelaki yang memberi benih, perempuan yang menjaga, merawat dan membesarkan. perempuan punya peran kultural di sini, oleh sebab itu perempuan jelang menikah harus berada dalam keadaan selamat tanpa cacat. tugas keluarganyalah yang menjagainya hingga ia berpindah ke rumah pria yang menikahinya.

gagasan untuk menjagai perempuan hingga detik-detik terakhir jelang dinikahi ini memperlihatkan penghargaan masyarakat akan kelangsungan generasi agar generasi penerus itu berada dalam rawatan ibu yang selamat, sehat, tanpa cacat. dengan demikian, maka tindakan nylameti atau amidada temanten putri ini perlu dilakukan dan perlu diterangkan makna di balik istilah yang digunakannya. di dalamnya ada doa, harapan, dan usaha keluarga agar keluarga baru nanti meneruskan generasi yang baik juga.

amidada reni, pada hemat saya, perlu dimaknai dari arah ini. bukan atau jangan dihubungkan dengan gagasan tentang kecantikan widadari. cantik atau tidak cantik, seorang reni harus diwidada, harus dijaga keselamatannya agar dia meneruskan anak dan merawatnya hingga dewasa.

malam itu, meski berbeda pendapat dengan penjelasan MC, saya mengharap semoga keturunan yang terlahir dari keluarga baru itu juga sehat dan paham akan harapan orang tua dan keluarganya.

1 2 3