Posts Tagged ‘jawa’

kiai sadrach

Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di JawaKiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa by Claude Guillot

My rating: 4 of 5 stars

ini buku lama, maksud saya, saya membacanya sudah lama sekali, yakni ketika buku ini terbit kali pertama. setelah buku ini ada buku lain mengenai kyai sadrach yang ditulis oleh ‘orang dalam’ yakni pendeta soetarman dan diterbitkan oleh BPK gunung mulia [2001]. dengan istilah ‘orang dalam’ yang saya maksud adalah ‘dalam lingkungan kristen’. sementara, tulisan guillot ini menyoroti gejala kyai sadrach sebagai perkara sosiologi, bukan perkara teologi. suatu gejala yang menarik ketika kolonialisasi menghasilkan ‘dialog’ seru antara pihak colonized dan colonizer. dialog itu bisa berupa dominasi-subordinasi, bisa pula hibridisasi. pada hemat saya, gejala sadrach jatuh pada kemungkinan kedua: mencari kemungkinan integrasi antara kekristenan dan kejawaan.
seperti dinyatakan eksplisit dalam pengantarnya, tujuan penelitian guillot ini adalah mengungkap alasan mengapa orang-orang jawa pada paruh kedua abad XIX mengikuti sadrach berpindah ke agama kristen. orang jawa, seperti kita tahu, bisa leluasa dalam memeluk agama. mereka pernah dan bisa jadi hindu atau budhis dan bisa pula jadi muslim. dan sekarang ada kemungkinan keempat, untuk jadi kristen.
keleluasaan khas jawa itu harus berhadapan dengan ketegasan teologis barat. suatu dialog seru yang digarap bagus oleh penelitian guillot.
kekristenan, dari sononya dan sepanjang sejarahnya, sudah melakukan dialog seru begini di mana ‘kabar baik’ ditabur…
sadrach adalah salah satu pelaku itu.
berita baiknya lagi, sekarang gereja-gereja di jawa memberi apresiasi positif pada kyai sadrach dan peristiwa yang dibangkitkannya.

te laat

kembali saya terlambat mendaftar permohonan exemption fee.
kali ini tutor mengaku salah memberi informasi. kemaren dia merunduk-runduk meminta maaf pada saya. sehingga timbul rasa iba juga padanya. begitulah dia diajar oleh tradisinya dalam menyatakan penyesalan.
peristiwa ini sudah saya laporkan ke atasan di yogya, semoga semua berjalan baik saja.

te laat… istilah ini dipungut ke dalam bahasa jawa dari bahasa belanda. apakah dalam kultur jawa tidak terdapat konsep mengenai “terlambat” ya?

[duh.. sementara, saya harus memasukkan paper segera…. semoga yang ini tidak telat]

mlipir

salah satu kebiasaan khas di jalanan yogya adalah mlipir: menyusuri pinggiran jalan di sisi yang berlawanan dengan arus sisi kiri yang lazim di indonesia.
karena berlawanan arus itulah maka tindakan mlipir tadi umumnya dikerjakan dengan pelan-pelan, seolah merasa bersalah dan meminta maaf kepada setiap kendaraan yang lebih berhak atas jalur yang dilewatinya.
mlipir memang tindakan salah. tapi itu [seringkali] dikerjakan dan dapat dengan mudah dijumpai di jalanan yogya ini.
dan itu amat mengganggu.

barangkali, karena yang bersangkutan kesulitan untuk menyeberang jalan yang di yogya ini makin lama makin padat dan makin banyak kendaraan yang berjalan kencang. bila hendak menuju tempat yang tidak terlalu jauh “ngapain harus menyeberang? lama dan sulit dapat longgarnya..” mungkin itu rationale mereka.

mlipir terjadi karena jalanan modern di yogya dibangun dengan memotong begitu saja hubungan-hubungan atau jalur-jalur transportasi antar desa yang sudah lebih dulu ada. karenanya, maka banyak sekali orang tua, anak-anak dan perempuan yang melakukan tindakan mlipir tadi. mereka adalah tiga kelompok pengguna jalan yang ‘dikurbankan’ oleh pembangunan jalan dan kota modern.

saya akui, menjengkelkan sekali memang perilaku mlipir ini, tapi… berkendara di yogya memang harus menyadangkan tenggang rasa… dan harus banyak, agar bisa belajar mengenal konflik-konflik budaya mengkota yang sedikit demi sedikit bergeser ini!

[republish dari tulisan di multiply, 16 oktober 2006]

jalan kampung kota

malam itu yoshi menelpon, meminta agar saya jadi nara sumber ‘pocokan’ di samping beliau sendiri yang jadi nara sumber utama dalam wawancara di radio eltira.
wah,
lha radio saya tuh nggak akurat lagi dalam mendeteksi gelombang je…
radio ini adalah salah satu kurban gempa kemaren yang bikin dia -kesayangan rewang saya -itu jadi bingun kalau disuruh nyari gelombang pemancar tertentu.
apalagi, di yogya hampir semua radio numplek di sekitar gelombang FM 102-104…yah…jadinya tumpang tindih gak keruan: kadang nyaut kadang enggak.

tapi tawaran yoshi saya sanggupi, mengingat jasa baiknya yang sudah banyak dalam mengenalkan saya pada orang-orang dan guru-guru dalam saya memahami kota dan -khususnya- perkampungannya.
yoshi adalah pahlawan kampunglah..!

moderatornya ons oetoro. ini orang tangkas yen takon…
lewat telepon aku ditanya mengenai mengapa di kota-kota kita makin banyak ruang publik yang hilang?

halah…
lha aku apa ngerti yen ditakoni kaya ngene iki? jaan…
tapi tanpa ragu-ragu -on air lagi- dia menodong sampai saya ngomong. omongan saya apa saya sendiri lupa, pokoke waton njawab. dan entah apa yang kemudian berlangsung di studio, moderator lalu menerima penelpon lain, yang katanya dari sala. dan hubungan denganku putus. dan karena radioku pun tidak bisa ‘nyaut’ acara itu, maka putus pula hubunganku dengan topik itu.

‘mengapa kota kita banyak kehilangan ruang publik?’
saya lalu menulis catatan sedikit tentang itu.
tapi, apa kita pernah punya ruang publik? itu pertanyaan dalam batin saya.
lha apa kita pernah menghargai orang per orang sebagai setara? bukankah kita lebih menindas satu pada lainnya?

mungkin kita pernah bermasyarakat yang egaliter dan tidak terlalu hirarkhis, menilik kita masih mengingat istilah-istilah pasaran ‘legi, pahing, pon, wage dan kaliwon’.
konon, ini menurut ossenbrugen, masyarakat jawa kuna terbangun dalam konfigurasi 4 desa-desa di keempat penjuru mata angin dengan satu desa tengah sebagai koordinator. orang jawa masih mengingat istilah ‘keblat papat, kalima pancer’ sebagai sarana orientasi.
konon, dulu ada empat pasar di keempat penjuru angin [pasar legi di timur, pasar paing di selatan, pon di barat, wage di utara dan pasar kaliwon di tengah]. keramaian dan seluruh kegiatan pasar berpindah-pindah sehingga pada masa itu tidak pernah terjadi akumulasi kekayaan suatu desa. semua desa mendapatkan kesempatan didatangi dan diramaikan oleh kelima warga desa dalam satu mancapat itu.
nah,
‘mancapat’ , itulah sistem klasifikasi dan orientasi masyarakat jawa waktu itu.
dengan sistem penataan seperti ini maka tiap desa mendapat bagian atau berkesempatan menjadi publik pada hari pasaran yang sudah ditetapkan bersama. tidak ada desa lebih makmur dari desa lainnya, tidak ada desa yang jalan-jalannya lebih besar dari jalan desa lainnya…tidak ada bangunan yang lebih megah dari lainnya.

mungkin itu ada benarnya.
kalau kita membaca drama ‘mangir’ karya pak pramoedya, maka jelaslah bisa dipahami mengapa banyak desa di bantul waktu itu memberontak pada mataram yang ingin lebih tinggi posisinya dari pada lainnya. ingin mendominasi desa-desa lain sekitarnya.
maraklah pemberontakan mangir wanabaya.

pemberontakan yang ingin memulihkan martabat desa-desa dan juga watak asli jawa yang egaliter! yaa… mungkin kita pernah punya ruang publik.

[republish dari multiply, 10 oktober 2006]

javaense reyse

perjalanan bersepeda onthel beberapa hari ini, mengigatkan saya pada perjalanan dinas rijklof van goens yang dari batavia, lewat semarang, sampai ke sini, plered. tempat saya juga mengakhiri perjalanan dari muter-muter kawasan perdesaan di pinggiran yogyakarta.
catatan utusan VOC ini, menggambarkan bahwa plered adalah ibukota mataram. bukan kota pinggiran, meski tempatnya bergeser beberapa kilo dari ibukota mataram sebelumnya: kotagede. plered adlah ibukota yang baru, yang dibangun ketika susuhunan mataram [kelak disebut dengan hormat oleh para keturunannya sebagai sultan agung] berjaya.
sultan agung tidak sempat bermukim di plered yang dibangunnya. dalam proses pembangunan itu beliau lebih sering berada di karta -3 km di barat plered- setelah meninggalkan kotagede. plered ditinggali oleh penggantinya yang sering digambarkan sebagai raja yang bengis, paranoid dan diduga sakit jiwa karena menyampakkan golongan islam yang semakin menguasai istana, sejak  masa akhir pemerintahan orangtuanya. dia suruh bunuh 5000-an ulama, dia campakkan pula gelar sultan yang kearab-araban, dan dia bangkitkan kembali sentimen jawa dengan menggunakan gelar lama susuhunan amangkurat.
buku yang diterbitkan kembali dengan pengantar dan catatan-catatan tambahan oleh darja de wever ini mengambil setting ketika susuhunan amangkurat agung ini bertahta, di istananya yang baru, yang dikitari oleh danau buatan: plered.
darja memberi pengantar, dan kemudian memberi banyak catatan samping [marginalia] tetnang istilah-istilah bahasa belanda lama yang digunakan van goens, nama-nama tempat yang sudah berubah [misalnya silimby yang ternyata adalah kota bayalali sekarang], dia tambahkan juga peta, gambar dan foto-foto, ditambahkan pula nomor paragraf, sehingga buku ini lebih semarak dan bisa diikuti oleh orng masa kini.
siip…
perjalanan ngonthel saya kali ini terasa lebih bermakna dengan pertolongan buku laporan perjalanan ini!

1 2 3