Posts Tagged ‘kopi’

memberi dan menerima

kopi ini lama mengendapnya.
bukan kopi jenis yang biasa saya seduh tiap paginya.
mungkin terlalu lembut digiling?
atau, mungkin terlalu lembab menyimpannya?
ah, saya tidak tahu pasti.
tapi yang pasti saya mencoba menyeduhnya pagi ini.
tanpa mengeluh karena kebiasaan saya berubah karenanya.

kopi ini pemberian teman,
buah dari saling memberi.
saya mendapatkan kopi kalosi, dia mendapatkan moka arabika.
saya menerima saja pemberian dia.
karena, agar suatu pemberian itu sempurna, harus ada penerimaan.

saat minum kopi

untuk siap bekerja,
jangan ngopi.

ngopi lebih cocok untuk relaksasi SETELAH capai bekerja.

tapi itu kesimpulan menurut saya,
setelah mempelajari efek minum kopi pada produktivitas kerja saya sendiri.

minum kopi menjelang atau ketika sedang bekerja
-selama ini- membuat saya malah deg-degan, tidak tenang, sehingga tidak jernih dalam menimbang dan berpikir.
ketika sedang bekerja, saya memilih minum air putih saja.
jernih!

tahu tempat dan waktu ngopi

kopi ternyata mengganggu.

ketika hendak bekerja dan konsentrasi, ia membikin kita takut untuk deg-degan.
ia membikin kita kita jadi tidak spontan dan takut larut dalam kerjaan yang memang sering banyak kejutan dan mendebarkan.

ketika sampai pada momen yang mendebarkan, kopi meninggalkan efek yang lebih keras degubannya. ini yang mencemaskan dan membikin kita jadi was-was, enggan dan takut maju.
kopi sebaiknya disruput ketika kita longgar, ketika mengaso, untuk menimbulkan kembali rangsangan bersiaga.

lagi pula,
kopi membikin tenggorokan kering.
rasa seperti dehidrasi ini cukup mengganggu. [mungkin saya masih terpengaruh penjelasan teman kemaren malam yang menguraikan sedikitnya humiditas di daerah tempat tinggal saya sekarang ini.]

ketika bekerja, sebaiknya melulu minum air minum saja. agar siap menghadapi momen-momen mendebarkan yang tak terduga.

kopi gulaku

saya ngopi sehari secangkir di pagi hari. ketika saya harus memulai pekerjaan dalam kesendirian. kopi ini, selain mengandung kafein pekat, diam-diam juga gula.
gula di cangkir saya cuma seukuran sendok teh. sementara kopinya sesendok makan. pahitnya bukan kepalang.
tapi, itu harga yang harus dibayar, untuk menikmati kopi yang sungguh-sungguh kopi.

saya biasa membeli biji-biji coklat gorengan ini untuk digiling sendiri. gilingan yang tidak halus benar… tapi biarlah. toh, nanti juga disaring dengan filter di coffee maker.
karena itu, saya jarang beli kopi di warung. saya juga jarang minum kopi bikinan orang lain. sebisa-bisanya, saya bikin sendiri kopi ini. atau, memercayakan pada baristo di cafe yang terpercaya.
tapi saya jarang sekali ke cafe.
jadi,
ini adalah masalah kepercayaan. rupanya, saya tidak terlalu percaya pada lain orang untuk hal-hal yang termasuk privat ini. ngopi bagi saya, sulit dikerjakan beramai-ramai.

saya senang ngopi sendirian. bersama kafein dan gula.
musuh bagi orang-orang lanjut usia seperti saya.
yang ternyata, diam-diam, mereka berdua bergulat dalam tubuh saya.
hari demi hari, tiap pagi, ketika saya mengawali kerja.