Posts Tagged ‘mass media’

media membangun citra

citra rupanya penting dalam pergaulan jaman sekarang. ketika kita tidak bisa bertemu muka dengan muka, maka berbagai sarana komunikasi menjadi medianya. menjadi penengah antara kita dengan orang lain.
namun,
citra yang tidak bisa adalah buatan media tadi bisa kusam atau cemerlang, lempeng atau bengkok, tidak lagi tergantung pada yang dicitrakannya. tukang buat citra, atau penguasa media, ikut menentukan citra kita. produksi citra selain berada di tangan pihak lain, juga tidak butuh konfirmasi dari kita sendiri, yang dicitrakannya.
tadi pagi,
saya mendapatkan kabar bahwa FPI menyerang gereja orthodox di boyalali, jawa tengah. berita yang saya dapatkan dari twitter mau pun facebook ini sungguh menjengkelkan perasaan saya. terbawa suasana, saya muat berita itu di wall facebook saya. dan mengundang berbagai tanggapan teman-teman.
berita ini pun mendapatkan konfirmasinya dari situs resmi gereja ecumenical patriarchate orthodox metropolitanate hongkong sehingga saya merasa tenang setelah mengunggahnya [http://s354358420.onlinehome.us/2011/02/attack-on-an-orthodox-church-in-java/].

On February 24th, the Church of St. Catherine in Boyolali, Java (Indonesia) received an attack by extremist followers of a fanatical Muslim organization.
Today, February 25th, the Church is closed and guarded by Police forces.
Fr.Methodios, Indonesian Orthodox priest, is in good health and asks the prayers of all so that our Lord may protect at this difficult time the Orthodox Community in Java.
In the past several times Muslim fanatics attacked, threatened and beat Fr.Methodios.
In Boyolali the Orthodox Community runs a Kindergarten and last year offered important philanthropic and humanitarian aim to the victims of the deadly earthquakes that struck Java, and to those affected by the eruption of volcano Merapi.
We are anxious about that difficult situation in Java and we pray to our Lord Jesus Christ, the Prince of Peace, to pacify the minds of the fanatical Muslims and to protect Fr.Methodios and all the members of the Orthodox Community.

saya perhatikan,
kebanyakan teman muslim saya lebih banyak terdiam. tidak nampak memberi tanggapan. mungkin marah dengan sikap saya yang memuat berita macam itu. atau mungkin juga malu pada FPI yang sedemikian ganas bertubi-tubi di akhir-akhir ini mengganyang sesama muslim [ahmadiyah] dan sudah membakari banyak gereja di tanah air.
sore ini,
saya menerima kabar, juga dari twitter, sanggahan ruhaniwan gereja orthodox boyalali itu sendiri [rama methodios] yang menyebarkan berita bahwa beliau sekeluarga aman-aman saja. perlu saya muat di sini pernyataan yang menyebar di twitter tadi agar bisa terdokumentasi.

Boyolali 26 pebruary 2011
Menanggapi isu tentang pengrusakan Gereja Orthodox St. Katarina di Desa Pandean Rt 01/04, Pandean,Ngemplak Boyolali. Semuanya itu tidak benar, saya selaku Rohaniwan Gereja Orthodox St.Katarina Memohon kepada Rekan-rekan Hamba Tuhan di Indonesia supaya membuat berita yang sejuk dan kondusif, juga saya minta kepada sesama anak bangsa yang mengakses jejaringan face book atau internet sekali lagi berita Pengrusakan Gereja Orthodox St.Katarina itu tidak benar, kami aman-aman saja. Semoga Kasih Allah selalu Menyertai langkah Pekerjaan Kita. Amin.Saudara Dalam Kristus
Romo Methodios Sri Gunarjo.

pernyataan siapa yang benar? tidak tahu, belum tahu. mengajukan pertanyaan seperti itu biasanya tidak akan mendapatkan jawaban yang tuntas, karena berita di media bukanlah representasi peristiwa, tapi produk atau hasil dari upaya pembangunan citra. entah dibangun dengan anggun, atau dirusak begitu saja.

layang balewarna

LAYANG BALEWARNA
amratelakake kahananne bale
pomahanne wong cilik ing tanah jawa,
lan nununtun amurih raharjaning
omah-omah.
anggitanne
mas sasra sudirja.
mantri guru ing pamulangan ongka II
ing
kertek

SURAT BALEWARNA
menguraikan keadaan rumah orang biasa di tanah jawa,
dan memberi petunjuk menuju kesejahteraan rumah tangga.
ditulis oleh
mas sasra sudirja
mantri guru di perguruan “angka loro”
di
kertek

surat ini pernah diulas oleh prof.josef prijotomo [ITS] di berbagai kesempatan. suatu gejala baru tentang bagaimana media cetak dilibatkan dalam penyebarluasan ideologi arsitektur modern -[bersih, sehat, terang, hemat bahan] serta kritik yang ditujukan pada keadaan omah tradisional orang jawa kebanyakan.

artikel lengkap LAYANG BALEWARNA yang saya punya tertulis dalam aksara jawa. terbitan balai pustaka, weltevreden, 1919.

modernisasi rumah pribumi.
yaitu suatu pandangan baru terhadap lingkungan binaan. pandangan ini diformulasikan dan disebarkan melalui media dan pengajaran. karena itu bisa dimaklumi bila ketika “pengajaran pada bumi putra” digalakkan semasa politik etis [1901] dan ketika ada undang2 pers [persreglement 1854] dimaklumkan, maka tradisi membangun lokal berhadapan dengan paham baru yg disiarkan di sekolah2 dan bacaan.
sekitar tahun-tahun itu,
terusan suez dibuka [1869] shg koneksi belanda-indonesia jadi mudah. banyak insinyur berdatangan, dan banyak bahan baru didatangkan. ini pun ikut mengubah wujud dan teknik membangun rumah.

gaya hidup diubah oleh media massa [informasi] dan kemudahan transportasi barang2/bahan2 baru tadi. ada 50 lebih majalah beredar di indonesia di awal abad 20. menawarkan berbagai gambar dan foto rumah2, busana, peralatan sehari2 di luar negeri.
jadi, faktor pengubahnya bukan personal atau individu, tapi sistemik, yakni informasi dan transportasi.
dua kekuatan ini terus bekerja -baik dulu maupun kini- dalam mengubah hunian dan lingkungan binaan kita.
ini yang sedang menarik saya. dengan kekuatan non-personal, lebih khusus: media, dalam merumuskan, membentuk dan menyebarluaskan perubahan.
pada hemat saya, sejarah [arsitektur] harus lebih mengamati dinamika ini.
penulisan sejarah bukan hanya bergulat pada deskripsi peristiwa masa lalu tapi lebih penting adalah menjelaskan kekuatan YANG SEDANG BEKERJA di tengah-tengah kita, masa kini.

tentang pak mantri guru,
jelas beliau bukan tukang.
beliau adalah guru.
tapi, guru di masa itu memiliki peran strategis. dialah yang “menerangi” pikiran pribumi dan membawanya ke pencerahan. pencerahan ke mana?
tentu saja ke barat.
ada bukti2 identifikasi pencerahan akal budi ini dengan westernisasi atau modernisasi. lihatlah gambar berikut: dewi europa membimbing ratu pambayun melangkah ke tangga pencerahan lewat tindakan membaca. judul gambar itu: djalan ke barat.

inilah jalan masuk bagi perubahan arsitektur di tanah air: yakni lewat pikiran. kalau kita baca layang balewarna tadi, maka kategori2 utk mengatakan suatu rumah itu baik, adalah bila sehat, bersih, terang, rapih [segala hal terletak pada tempatnya]…

tentu saja, rumah tradisional pribumi dinilai minus semua….

apakah arsitektur indonesia berubah hanya gara-gara buku kecil dari mantri guru sasra sudirja?
tentu saja tidak.
di tahun itu, ada buanyaak… orang dan institusi yang menyuarakan hal yang kurang lebih sama. saya sedang melacak sebisanya, gagasan dan institusi yang berperan dalam upaya transformatif ini.

the invention of “saru”

seharian kemaren menemukan beberapa artikel yang menggunakan judul “inventing” atau “invention”. sejak dari tulisan eric hobsbawmthe invention of tradition” hingga tulisan tentang lahirnya atau ditemukannya [kembali] pengetahuan-pengetahuan tertentu, tradisi, kebiasaan, adat tertentu. pada dasarnya, tradisi yang ditemukan ini adalah semacam konstruksi “masa lalu rekaan” sebagai respons terhadap situasi masa kini. memberi jawab terhadap masalah masa kini dengan menggunakan rumusan yang ‘seolah-olah’ kita warisi secara tradisional dari masa lalu.

dan hari ini saya menghadapi buku dengan judul “the invention of  pornography: obscenity and the origins of modernity, 1500-1800”  yang disunting oleh sejarawan perempuan lynn hunt. mengaku diinspirasi oleh serial buku foucault [the history of sexuality 1-3], buku suntingan ini merupakan hasil dari suatu konferensi dengan tajuk sama di pennsylvania, 1991.

kita tidak tahu secara pasti kapan pornografi lahir,  sebagaimana banyak pengetahuan lain juga tidak bisa ditetapkan kapan ia dirumuskan. tapi yang agak pasti, usaha membuat hal privat menjadi publik itu dimungkinkan oleh gairah rasa ingin tahu yang berkembang di sekitar renesans, pencerahan dan nantinya berkembang setelah maraknya industri media cetak. pendeknya, pornografi berhubungan dengan modernitas.

memang penempatan gambar alat genitalia atau aktivitas kopulasi secara terbuka itu sudah dikenal sejak jaman gerika kuna, dan di india bahkan lebih kuna lagi. tapi itu semua tidak sedang menyerempet-nyerempet kaidah sosial semasa. artinya, pornografi berkaitan dengan ‘ketidaknormalan’, dengan usaha melawan kenormalan yang meminta kebebasan. secara tegas penulis mengatakan bahwa [h.10],

although desire, sensuality, eroticism and even the explisit depiction of sexual organs can be found in many, if not all, times and places, pornography as a legal and artistic category seems to be an especially western idea with a specific chronology and geography. as a term in the modern sense, pornography came into widespread use only in the nineteenth century

pornografi juga berkaitan dengan adanya peningkata kontrol karena munculnya demokratisasi yang dinilainya ‘kebablasan’. dan buku ini menempatkan kasus-kasusnya, rusia, italia, inggris, belanda dan utamanya prancis di tahun-tahun awal modernitas pasca renesans: 1500- 1800. kurang lebih sejaman dengan pendirian candi sukuh di jawa tengah [1450-an].

pornografi mengambil tempat di perbatasan, antara kepatuhan dan pencarian alternatif terhadap suatu sistem norma. dan keberanian seperti ini sudah berlangsung di banyak tempat dan waktu. hanya berkat kapitalisme media massa saja maka persebaran ini jadi meluas dan menjadi suatu kategori pengetahuan tersendiri yang bernama promografi, eh…pornografi.

perang media dan media perang

the modern media are war technology“, demikian beatriz colomina menulis di halaman 156 dari bukunya”privacy and publicity“.

perkembangan media ini nampak seiring dengan perkembangan teknologi pasca perang dunia pertama. bila perkembangan teknologi sebelum perang dunia itu diarahkan pada peningkatan kecepatan, dengan penemuan sepeda motor yang memerbaiki kecepatan sepeda onthel, lalu penemuan mobil dan pesawat terbang, maka perkembangan teknologi komunikasi atau media massa adalah hal yang dikembangkan setelah perang besar tadi.

teknologi media merupakan bagian instrumental dari pemenangan perang.
dari situ jarak antara pemberi perintah dengan dengan pasukan yang diperintah bisa diperpendek, dipercepat.
pemenang sebenarnya dari pertempuran di marne adalah pesawat telepon! bukan jerman, inggris atau prancis yang di perang dunia itu terlibat penuh.

dengan berkebangnya teknologi cetak, maka propaganda dimungkinkan, kesadaran baru sebagai bangsa juga dibangun. banyak negara baru bermunculan setelah teknologi komunikasi yang semula dipergunakan oleh militer ini dikembangkan. pada masa-masa kemudian setelah perang, maka teknologi perang ini lalu didomestikasi. dimasukkan ke rumah tangga-rumah tangga. sebagaimana pesawat terbang yang semula dibuat untuk kepentingan pertahanan lalu dipersembahkan kepada kepentingan sipil, demikian juga radio yang dulu adalah sarana penting dalam peperangan mulai mengisi rumah keluarga-keluarga di pertengahan abad XX.

pada masa kini pun sudah kita tahu, bahwa internet juga dikembangkan dari kalangan militer, yang sekarang ini mengisi dan meracuni [he..he..he..] kita semua. ada yang bilang bahwa reformasi di indonesia tempo hari juga terjadi berkat internet dengan emailnya dan hape dengan sms yang dikandungnya.

beberapa hari lalu media massa jugalah yang telah memeras-peras rasa iba audiens lewat berita perempuan dijebloskan penjara gara-gara menyemarkan nama baik institusi pelayanan publik. dan sekarang ini, suasana di tanah air bising oleh perang melalui media dari para calon presiden. bukan hanya perang MELALUI media, namun benar-benar perang media karena banyak sudah media massa ini yang sebenarnya bukan lagi milik massa tapi milik pemegang corong yang terarah ke massa.
massa yang hanya gerombolan atau kerumunan yang tinggal menurut untuk diperas air matanya, dikuras isi sakunya dan digalang suaranya buat kepentingan pemilik media tadi.